Eksistensi Bahasa Santun Mulai Menurun

0
366
Foto: BA/Swarakampus.com

Saat ini, Bahasa Indonesia digunakan oleh berbagai kalangan. Mulai dari kalangan remaja, dewasa, dan orang tua. Bahasa Indonesia tidak hanya berupa bahasa baku, terdapat pula bahasa gaul.  Misalnya saja, menyebut kata “anjing” menjadi “anjim”. Tentu saja, bahasa gaul membuat suatu makna bahasa menjadi rendah. Bahkan saat ini, keberadaan bahasa yang santun sudah mulai dimusnahkan oleh beberapa orang. Bahasa santun biasa disebut dengan suatu bahasa yang memiliki makna lebih tinggi dan tidak mengalami penurunan makna. Bahasa santun juga dikenal sebagai bahasa yang dapat menghargai seseorang, karena bahasanya yang sopan dan bermakna tinggi. Saat berbicara pun, sering kita temui bahwa beberapa orang selalu menggunakan bahasa yang memiliki makna rendah. Terutama, beberapa kaum milenial yang telah melupakan bahasa santun. Mereka sering menggunakan bahasa yang memiliki arti lebih rendah dibanding dengan bahasa santun. Padahal, saat kita berbicara dan menggunakan bahasa yang santun, kita akan lebih dihargai dan juga terlihat menghargai lawan bicara kita.

Banyak ditemukan beberapa orang saat berbicara dengan teman, saudara, bahkan orang tua menggunakan bahasa yang tidak santun. Seperti, saat salah satu teman  menikah, masih ada saja beberapa orang yang mengucapkan kata “kawin” dan bukan kata “menikah”. Kawin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu pernikahan atau perkawinan, dan juga suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk membentuk keluarga sebagai ikatan yang sah menurut hukum. Sedangkan, pernikahan menurutKamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sebuah ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama, yang artinya hidup sebagai suami istri tanpa merupakan pelanggaran terhadap agama. Tentu saja, kata “kawin” yang dimaksud memiliki makna yang lebih rendah. Meskipun, keduanya memiliki arti yang sama, tetapi dalam penggunaan kata tersebut kurang tepat. Karena, pada kata “kawin” telah mengalami penurunan makna bahasa, dan kata yang seharusnya lebih tepat dikatakan yaitu “menikah”. Dengan mengatakan kata “menikah”, maka telah menerapkan bahasa yang santun. Selain itu, kita juga sering mengetahui bahwa orang yang memiliki asisten rumah tangga pasti akan disebut pembantu. Asisten dalam KBBI memiliki arti orang yang bertugas membantu orang lain dalam melaksanakan tugas profesional, misalnya dalam pekerjaan dan profesi. Sedangkan, pembantu menurut KBBI yaitu orang (alat dan sebagainya) yang membantu dan juga menolong. Namun, kata pembantu memiliki makna yang lebih rendah. Kata yang seharusnya digunakan yaitu “asisten” karena termasuk ke dalam bahasa yang santun dam terlihat lebih menghargai bahasa yang digunakan ke lawan bicara.

Pemusnahan bahasa santun tidak hanya terjadi pada kaum remaja atau dewasa, namun juga orang tua. Bahasa yang memiliki makna rendah sudah semakin memarak, bahkan hampir semua orang sering menggunakan bahasa tersebut. Kita juga pasti sering mendengarkan bapak-bapak atau bahkan ibu-ibu yang melihat beberapa orang berjalan bersama, apalagi masih berseragam sekolah. Tentunya, kebanyakan dari mereka menyebutkan dengan kata “gerombolan”, akan tetapi yang sebenarnya pantas diucapkan ialah “kawan atau kawanan” yang berarti sekelompok teman. Menurut KBBI, gerombolan ialah suatu kelompok. Sedangkan, kawanan dalam KBBI yaitu sekumpulan orang yang berkawan. Makna yang terkandung dalam kata “gerombolan” menjadi lebih rendah dibanding dengan menyebutkan kata “kawanan”. Dengan menyebutkan kata “gerombolan itu sedang menuju perbatasan kota”, tentu dengan perkataan tersebut memiliki makna seperti “gerombolan preman” dan juga gerombolan yang mengarah pada perkelahian atau tawuran.  Jadi, kata “gerombolan” ini mengandung hal yang lebih negatif. Namun, jika kita menyebutkan dengan bahasa yang santun, seperti “kawanan itu sedang menuju perbatasan kota”, tentu hal yang kita pikirkan ialah beberapa orang yang sedang menuju perbatasan kota.

Dengan berbagai bahasa yang memiliki makna lebih rendah, membuat bahasa yang santun semakin menurun. Bahkan, sudah jarang digunakan lagi dalam bertutur. Padahal, bahasa santun mampu membuat seseorang tersebut menjadi lebih dihargai, meskipun hanya dengan bahasa. Sehingga, meskipun di Indonesia sudah memiliki bahasa gaul, namun kita harus tetap bijak dalam menggunakan kalimat yang akan diucapkan. Menggunakan bahasa santun tidak hanya berlaku untuk orang tua, tetapi juga orang dewasa hingga remaja. Agar, bahasa santun bisa tetap diterapkan kembali sebagai bahasa yang memiliki makna lebih tinggi.

Yunita Trisnawati

FPBI – Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here