Peran Media dalam Membangun Religiusitas

0
61
Sumber foto: religidanbudaya.filsafat.ugm.ac.id

Di dalam konteks Indonesia, peran agama dan media begitu signifikan, peran ini mengarah pada aspek sosial dan budaya. Sesungguhnya, agama dan media saling membutuhkan. Kebutuhan ini berupa dalam bentuk produksi tayangan yang bersifat religius, baik melalui film, kisah, dan simbol-simbol religius yang menjelma dalam bentuk kode  di media. Pada dasarnya, simbol tersebut mengandung kode tertentu yang dapat dibaca oleh sebagian budaya masyarakat. Simbol ini berupa teks, gambar, dan suara.

Di era digitalisasi dan masa pandemi ini, perilaku dan sikap kedermawanan kaum modernitas pun meningkat, bahkan anak muda menjadi momentum dalam merespon perkembangan teknologi digital. Sikap kedermawanan kaum muda juga dicerminkan dalam respon mereka di era pandemi ini, seperti bantuan terhadap tenaga medis, makanan, dan alat kesehatan lainnya. Pentingnya kesadaran kaum muda dalam memaknai moderasi beragama dapat digambarkan dengan cara mereka memahami dan menjalankan moderasi beragama, berupa usaha menghindari cara-cara ekstrim, fanatisme yang berlebihan, dan intoleransi yang berdampak buruk bagi kerukunan beragama.        

Masyarakat kelas menengah Muslim lebih tertarik untuk mempelajari Islam secara mendalam melalui media. Media memiliki peran yang signifikan atas pemahaman Muslim tentang Islam (religiusitas) yang terkadang berujung pada sikap radikalisme. Maka, agama perlu hadir sebagai moderasinya. Di era pandemi ini, religiusitas seseorang semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan kesadaran dan sikap kedermawanan mereka dalam memahami Islam yang moderat, dan menjunjung tinggi sikap toleransi dengan mempraktikkannya pada segala aspek.

Kegiatan keagamaan telah marak dilakukan oleh sebagian masyarakat kelas menengah Muslim semenjak awal tahun 2000-an (Yuswohady, 2014). Mereka mempelajari Islam di internet yang menyediakan berbagai materi yang mereka butuhkan, mulai dari hukum agama, hingga bagaimana menjadi sosok religious entrepreneur (Abdoulaye Sounaye, 2013). Begitupun kegiatan kedermawanan lain yang dilakukan oleh kelas menengah Muslim kerap ditampilkan melalui media sosial seperti Youtube dan Instagram. Salah satu ustaz kondang yang kerap memberikan ceramah akan pentingnya sedekah, yaitu Ustaz Yusuf Mansur. Dia populer di media televisi dan media internet lainnya berkat gagasannya dalam upaya mengajak jamaah untuk gemar bersedekah. Selain sebagai bentuk amal ibadah, bersedekah pun mampu meningkatkan kesejahteraan hidup.

Di tengah situasi pandemi ini, para selebriti pun semakin religius. Hal ini dapat dilihat dari kesadaran dan sikap kedermawanan mereka untuk membatu korban yang terinfeksi virus corona atau Covid-19. Ini merupakan salah satu bukti bahwa peran media begitu signifikan dalam meningkatkan dan membangun religiusitas seseorang.

Di samping itu, dengan adanya media digitalisasi di situasi pandemi ini, menjadikan karakter seseorang semakin religius. Hal ini dibuktikan dengan rasa kepedulian dan kedermawanan seseorang semakin meningkat di era pandemi, seperti anak muda, para ustaz, hingga selebriti pun turut mendermakan tenaga dan sebagian dari harta mereka untuk menyalurkan bantuan kepada keluarga penderita Covid-19 maupun terkena bencana alam.

Masyarakat modern sebagai pengguna media yang aktif di masa pandemi Covid-19 ini, harus lebih berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi melalui media, terutama terkait dengan informasi agama. Dampak negatif dari penggunaan media dengan alasan kepentingan dakwah, terkadang memicu lahirnya berita hoax yang mampu memecah-belah masyarakat (Mupida, 2018). Masyarakat Indonesia yang multikultural, ketika dihadapkan dengan berita hoax ini, tentu akan menimbulkan gesekan-gesekan antar kelompok beragama yang berujung pada tindakan radikalisme, bahkan jihad kontemporer melalui media. Jihad merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh Muslim dalam membela agama Islam, seperti berdakwah atau menyiarkan agama Islam melalui buku-buku, melakukan tabligh akbar, serta memperdalam agama Islam melalui lembaga pendidikan, dan lainnya. Namun, berbicara mengenai jihad, sebagian kelompok memahami jihad dengan cara yang menyimpang, seperti bertindak radikal, melakukan perang, dan bahkan berujung pada terorisme (Lihat film ‘Jihad Selfie’, 2016).

Di samping itu, sebagai bukti bahwa peran media begitu signifikan dalam membangun religiusitas, dapat dilihat dari beberapa postingan para selebriti tanah air yang sedang marak menampilkan kisah hijrahnya melalui media sosial. Misal, Kartika Putri, Arie Untung dan istrinya Fenita, serta para selebriti lainnya. Bahkan, publik mengetahui hijrah mereka melalui media sosial. Melalui media, selebriti ini kerap tampil bagaikan ‘ustaz atau pendakwah’. Hal ini dapat dilihat dari beberapa caption mereka dengan anjuran untuk senantiasa memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Beberapa selebriti dan masyarakat lainnya juga mengaku bahwa mereka senang menyaksikan ceramah agama dan dakwah lainnya melalui media, seperti Youtube dan televisi.

Siti Mupida

mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here