Tanpa Rekomendasi PDIP, Parpol Dukung Penuh Gibran di Pilkada Solo

0
97
Foto: Instagram/gibran_rakabuming

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan bagian dari kelembagaan baru di bidang politik dalam upaya mewujudkan proses demokratisasi di daerah. Masyarakat berharap dengan adanya proses Pilkada secara langsung ini mampu meningkatkan dan menghasilkan kepala daerah yang memiliki akuntabilitas tinggi terhadap rakyatnya (Kacung Marijan, 2010). Pilkada langsung di Indonesia telah dilakukan sejak Juli 2005. Artinya, bahwa para calon kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat. Kendati demikian, tetap saja para calon kepala daerah ini lebih cenderung ditentukan oleh partai politik yang mendukung masing-masing dari calon kepala daerah tersebut (Rido Imawan Hanafi, 2014)

Regulasi Pemilihan Kepala Daerah serentak di Indonesia pada tahun 2020 masih terus berlanjut meski di tengah pandemi Covid-19. Desember 2019 menjadi catatan sejarah baru bagi warga dunia. Serangan Corona atau Covid-19 yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok, terus-menerus menulari banyak orang. Sedangkan penyakitnya diberinama Coronavirus Diseases 2019 (COVID-19). Berdasarkan situs resmi Pemerintah Republik Indonesia, https://covid19.go.id/peta-sebaran, pertanggal 19 Juli 2020 virus yang oleh World Health Organization (WHO) diberi nama Severa Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 ini telah menyebar luas. Tercatat ada 4,143 orang meninggal dari 86,521 orang berstatus terkonfirmasi. Saat wabah Covid-19 mulai menyerang negara Indonesia pada pertengan Maret 2020, tahapan Pilkada sempat ditunda hampir tiga bulan. Penundaan ini terhitung dari bulan Maret hingga pertengahan bulan Juni 2020.

Berdasarkan diskusi yang disiarkan di akun Youtube Kemendagri, Jumat (19/6/2020) dengan pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU), pihak KPU menjelaskan dana yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan Pilkada 2020 mencapai angka yang cukup signifikan, yaitu sebesar  4,1 triliun. Dana yang di keluarkan oleh pihak KPU ini diperkirakan untuk pelaksanaan tahapan pra pencoblosan pada 9 Desember 2020 mendatang .

Di samping itu, pasangan calon (paslon) Wali Kota Solo 2020, yaitu Gibran-Teguh mendapatkan dukungan yang signifikan dari berbagai partai politik (parpol). Pasangan ini banjir dukungan dari parpol tidak semerta-merta karena kiprah Gibran yang sukses di usia muda pada bidang entrepreneur. Melainkan karena Gibran merupakan putra sulung dari Presiden Republik Indonesia yang ketujuh, yaitu Joko Widodo dan Ibu Iriana Widodo.

Di antara parpol yang ikut serta memberikan dukungannya kepada paslon Gibran-Teguh adalah partai Gerindra, partai PAN, Demokrat, Golkar, dan lainnya. Parpol ini memberikan dukungan kepada paslon Wali Kota Solo 2020 Gibran-Teguh, meskipun tanpa rekomendasi dari pihak parpol PDIP. Mereka memberikan dukungan karena mereka melihat bahwa Gibran memiliki potensi dan akredibilitas, serta otoritas yang tinggi untuk memenangkan Pilkada Solo 2020 (KompasTv, 12 Februari 2020)

Selain itu, Gibran-Teguh dinilai juga mulai mengikuti jejak sang ayah, Joko Widodo, sehingga otoritas Gibran diperkuat berkat adanya campur tangan politik dari sang ayah. Karena, jika dilihat dari latar belakang pendidikan, Gibran bukanlah sosok yang memiliki latar pendidikan politik. Namun, tidak tanggung-tanggung, Gibran memberanikan diri untuk maju ke dalam kancah politik dan melakukan blusukan ke beberapa daerah di Solo (KompasTv, 12 Desember 2019). Hal ini senada juga dilakukan oleh sang ayah sewaktu kampanye pemilihan Presiden beberapa tahun lalu.

Berbagai opini publik pun mulai beredar terkait masyarakat yang pro dan kontra terhadap paslon Gibran-Teguh. Namun, hal ini tidak menghentikan langkah putra Presiden Republik Indonesia ini untuk maju di Pilkada Solo. Ikhwal ini diperkuat oleh dukungan sepenuhnya yang diberikan jajaran DPD-PDIP Jawa Tengan kepada paslon Gibran-Teguh.

Sementara itu, ada pun penantang Gibran yang sedang memanas saat ini untuk Pilkada Solo 2020 adalah Putri Woelan Sari. Dikabarkan, Putri sedang mencari dukungan dari parpol PKS. Putri mengaku telah bergelut di bidang politik semenjak tahun 2012 (KompasTv, 28 Juni 2020). Sebagai seorang putri keraton Surakarta, peluangnya untuk mendapatkan kursi di Pilkada Desember mendatang cukup menantang bagi Gibran sebagai putra Presiden. Salah satu alasan Putri maju di Pilkada adalah untuk memajukan kota Solo yang lebih baik, terutama dari aspek budaya masyarakat Solo.

Menurut hemat penulis, peluang Putri di kontestasi Pilkada Solo sangat sedikit, apabila dilihat dari dukungan parpol PKS semata. Jika dibandingkan dengan otoritas yang disandang oleh Gibran-Teguh, karena Gibran saat ini banjir dukungan dari berbagai parpol. Di samping itu, Gibran juga telah lama merintis Pilkada Solo, yaitu semenjak akhir 2019, dibandingkan dengan Putri yang baru muncul di pertengahan Juli 2020 untuk Pilkada Solo.

Siti Mupida

Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here