Konsumsi Generasi Milenial di Era Digital

0
98
Sumber foto: rawpixel.com

Generasi muda milenial menjadi perbincangan dan sorotan  media dan para peneliti beberapa tahun terakhir ini. Keterlibatan generasi muda milenial dalam beberapa aspek sosial, politik, dan agama, memberikan dampak yang signifikan bagi kemajuan suatu negara. Misalnya, milenial generasi Muslim. Generasi Muslim menjadi kelompok yang paling menarik untuk dipotret dalam mengkonsumsi agama. Generasi Muslim ini lahir pada penghujung tahun 1980 an seiring dengan masifnya pemerintahan Orde Baru terhadap kaum Muslim di Indonesia.

Memasuki era 2000an, kaum muda milenial akrab dengan smartphone, salah satu alat komunikasi yang memiliki keunggulan yaitu adanya akses internet. Akses ini memudahkan para pengguna untuk memperoleh dan menyebarkan informasi dalam ruang dan waktu yang tidak terbatas. Ikhwal ini berdampak pada konsumsi generasi milenial terhadap ilmu agama dan lifestyle. Generasi Muslim begitu akrab dengan dakwah digital melalui smartphone.

Saat ini, dakwah digital hadir dengan berbagi fitur dan konten yang menarik, melalui caption, video, bahkan melalui podcast. Generasi Muslim (milenial) merupakan salah satu segmen dari digital savvy, mereka selalu terikat akan gaya hidup trendy, dan mengkonsusmsi merek-merek global. Bahkan, mereka lebih menyukai dakwah yang kekinian melalui grup WhatsApp dengan Ustaz muda yang gaul melalui Snapchat atau live di Instagram. Salah satu tokoh agama yang melek teknologi (techy) adalah K.H Ahmad Mustofa Bisri atau yang paling akrab dipanggil Gus Mus. Meskipun dia telah memasuki usia yang cukup ‘tua’, Gus Mus tetap eksis dengan nasehat yang khas tentang bagaimana memaknai hidup di beberapa media sosial, seperti Twitter dan Instagram.

Hal ini memberikan dampak yang signifikan terhadap pergeseran konsumsi dan literasi kaun milenial, dari yang konvensional ke digital. Berdasarkan pengalaman sosio historis, generasi Muslim di era milenial ini memiliki beberapa karakteristik. Pertama, religious, mereka taat akan perintah, kaidah, dan norma-norma Islam. Kedua, Generasi Muslim menilai bahwa agama Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yaitu agama yang memberikan kebahagiaan secara menyeluruh (universal goodness). Ketiga, generasi Muslim ini merupakan kelompok yang modern, artinya mereka sadar akan perkembangan teknologi atau melek teknologi, pengaruh budaya pop, dan tertarik untuk mengkonsumsi merek-merek global. Keempat, mereka high buyig power, memiliki keahlian berinvestasi (Yuswohady, xviii, 2017).

Beberapa situs dakwah menyajikan konten Islami dalam berbagai bentuk multimedia yang menarik. Misal, Nahdatul Ulama (NU) kerap menyajikan beberapa konten yang Islami dengan gagasan Islam yang penuh kebaikan dan spirit kebangsaan. Pemilihan konten oleh NU secara jelas melihatkan gagasan melawan konten yang berbau radikal di berbagai media sosial, seperti VOA Islam dan Hidayatullah.com.

Selain berprofesi sebagai seorang pendakwah, beberapa Ustaz juga kerab menjadi bintang iklan pada produk makanan dan obat-obatan di media sosial. Keterlibatan Ustaz sebagai bintang iklan pada beberapa produk, secara tidak langsung memberikan rasa nyaman di mata pengikutnya (generasi Muslim) untuk mengkonsumsi. Gerasi Muslim yang memiliki karakteristik modern, cenderung menghabiskan waktunya dengan perangkat teknologi digital, seperti dakwah digital, lifestyle, musik Islami, akulturasi Islam dan pop, film Islami, dan berbagai konsumsi lainnya.

Saat ini, kaum milenial dalam melakukan aktivitas cenderung bergantung pada media digital, bahkan mereka menjadikan akses internet sebagai salah satu dari kebutuhan pokok. Fenomena inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian ulama atau Ustaz untuk mengoptimalkan dakwahnya. Berkat adanya media digital yang berbasis internet ini, menjadikan pendakwah lebih kreatif dalam menyampaikan pesan-pesan agama dengan retorika sederhana dan kekinian dengan  sasaran utama generasi milenial. Pada umumnya generasi milenial ini telah mengalami pergeseran yang signifikan dari konsunsumsi literasi buku ke literasi media (dakwah digital) yang lebih mudah diakses dibandingkan dengan merujuk ke buku-buku klasik tentang hukum agama.

Siti Mupida

Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here