Wacana Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045

0
256
Foto: Pexels.com

Indonesia emas merupakan kondisi di mana bangsa Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan bangsa lain dalam mengatasi berbagai persoalan di tanah air seperti, kemiskinan dan korupsi yang berkepanjangan, serta pengaruh pemahaman ekstrimisme yang dilakukan secara langsung maupun sembunyi-sembunyi. Bahkan, menggunakan media sosial dengan target para pemuda generasi milenial. Menyebarnya pengaruh gerakan Islam di kalangan mahasiswa tidak bisa dipisahkan dari konteks perkembangan gerakan dakwah kampus di Indonesia (Kailani, 2009). Peran literatur keislaman tentu tidak lepas dari semangat dan karya pelajar, mahasiswa, dan generasi pemuda lainnya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Pada tahun 2045, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menyentuh usia kemerdekaan yang ke 100. Usia negara yang dipandang oleh sebagian pihak sebagai usia emas, diharapkan  suatu negara mampu untuk mencapai tujuan  dan keinginan rakyat menuju Indonesia yang lebih maju dan berkembang. Presiden Indonesia, Joko Widodo dan wakil presiden, Ma’ruf Amin, mencanangkan tahun 2045 sebagai tahun ‘Indonesia Emas,’ negara Indonesia diharapkan mampu mencapai tujuan dan kesejahteraan, bekerja dengan serius serta unggul dalam berbagai bidang.

Di tahun 2045, negara Indonesia memasuki dunia emas. Bahkan, sebagian akademisi menyebut sebagai ‘jendela demografi’, yang merupakan suatu fase yang diukur dari tingkat usia produktif seseorang yang lebih didominasi oleh mereka yang beumur sekitar 15-65 tahun. Dalam istilah kependudukan, hal ini disebut dengan istilah sebagai ‘bonus demografi’. Bonus demografi  dapat dicapai dengan peran aktif pemuda untuk menuju Indonesia emas melalui pendidikan dan berbagai kompetisi dalam bersaing dengan negara lain di dunia global. Karena usia tersebut merupakan usia pemuda atau pelajar pada tingkat SMP, SMA, dan perguruan tinggi atau kalangan mahasiswa. Perkiraan ini menunjukkan  pentingnya peran pemuda  menuju Indonesia Emas. Dengan demikian, literatur keislaman mampu mempengaruhi pemikiran kalangan pemuda Indonesia sejak tahun 1990-an. Literasi keislaman ini dapat mengacu pada karya-karya Hasan al-Banna, Abul A’la al-Mawdudi, Sayyid Qutb, dan Yusuf al-Qardawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (Hasan, 2018).

Literatur ini setidaknya mampu memberikan semangat belajar bagi kaum muda untuk lebih produktif menggali ilmu pengetahuan. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi dengan signifikan mempengaruhi cara belajar kaum muda. Hal ini dapat dilihat dari pergeseran generasi muda dalam mencari hukum kebenaran hanya sedikit yang mengacu pada berbagai literasi keislaman atau al-Qur’an dan hadis, dan  kemudian berpindah ke media sosial.

Upaya untuk mencapai atau pun menuju Indonesia Emas 2045 perlu usaha dan kerja keras yang signifikan. Tahun itu  merupakan periode pertengahan abad ke-21 yang ditandai dengan berbagai situasi yang menantang dan sulit untuk diprediksi. Oleh karena itu, untuk mencapai Indonesia Emas 2045, dapat mengacu pada beberapa cara. Pertama, mendorong kualitas penduduk di sektor pendidikan dan kesehatan. Kedua, membuka lapangan kerja yang produktif dengan mengembangkan keahlian tenaga kerja. Ketiga, memanfaatkan sumber daya alam yang ada sebagai komoditas untuk membuka lapangan kerja.

Kalangan pemuda Indonesia harus membekali diri dengan sikap moral dan iman yang baik sebagai pertahanan diri  mencegah pengaruh dan ancaman dari pihak luar. Ancaman ini berupa pemahaman dan sikap ekstrimisme atau radikalisme yang dapat menjadi acaman serius bagi keutuhan bangsa Indonesia. Penanaman nilai moral bagi kalangan pemuda dapat dimulai melalui pendidikan, literatur keislaman, dan peran keluarga. Keluarga merupakan dasar utama dalam pertahanan menguatkan nilai moral, agar generasi pemuda Indonesia tidak menyimpang dari aturan-aturan negara. Selain itu, upaya lain untuk menuju Indonesia Emas 2045 dapat bertumpu pada tiga aspek penting, yaitu nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan yang harus diterapkan di dalam kehidupan keseharian.

Siti Mupida

Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Daftar Pustaka

Hasan, Noorhaidi. 2018. Literatur Keislaman Generasi Milenial, Transmisi, Apropriasi, dan Kontestasi. Yogyakarta: Pascasarjana Uin Sunan Kalijaga.

Kailani, Najib. 2009. “Kami Adalah Mujahidin Berpedang Pena: Studi Gerakan Dakwah Forum Lingkar Pena Yogyakarta,” Tesis MA, Departemen Antropologi, Universitas Gajah Mada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here