Bagaimana Persepektif Sosiolog Melihat Fenomena New Normal ?

0
402
Sumber foto: pixabay dotcom

Taukah kamu apa yang terjadi saat ini? Hampir diseluruh belahan dunia sedang mengatasi pendemik Covid-19. Indonesia adalah salah satu negara yang tengah menghadapi pandemik ini. Beberapa kebijakan telah diambil pemerintah untuk memutuskan rantai penyebaran virus corona, tetapi belakangan ini masih banyak masyarakat yang tetap tidak peduli dengan kondisi saat ini. Mereka tetap saja melakukan aktivitas di luar rumah dengan tidak memperhatikan protokol kesehatan. Ada yang masih pergi ke mall, atau melakukan perjalanan jauh. Ini menunjukan bahwa kondisi saat ini telah mengalami anomie dimana masyarakatnya mengalami kebingungan dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam mengatasi pendemik Covid-19. Jika kita mengikuti dari awal, pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan yang membingungkan masyarakat. Dapat kita lihat seperti kebijakan awal mengenai wacana Lockdown hingga akhirnya wacana ini tidak terealisasikan, kemudian kebijakan PSBB yang dilakukan beberapa wilayah. Adapun kebijakan lain yang diambil pemerintah yakni larangan mudik tetapi diperbolehkan untuk pulang kampung.

Sebenernya apa perbedaan mudik dan pulang kampung?

 Jika kita lihat makna kedua kata ini sama yakni, sama-sama mengalami mobilitas atau perpindahan tempat. Hal ini juga yang dapat memicu penyebaran Covid-19. Hingga kebijakan yang terakhir ini adalah wacana mengenai New Normal. Banyak berbagai persepektif dalam menanggapi wacana New Normal. Ini merupakan fenomena yang memang menarik untuk dikaji dalam berbagai persepektif. Terutama dalam ilmu sosial, salah satunya dengan menggunakan persepektif sosiologis, yakni persepektif Taccot Parson dengan teorinya Fungsionalisme Struktural. Walaupun teorinya tidak secara khusus menganalisis terkait fenomena saat ini, namun teori ini masih relevan untuk menganalisis fenomena New Normal.

Kebijakan mengenai wacana New Normal yang ada di Indonesia ini diharapkan dapat hidup berdampingan dengan virus. Dilansir dari Tirto.id definisi New Normal adalah skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah Indonesia juga telah mengumumpakan wacana mengenai penerapan kebijakan New Normal. Pengimplementasian kebijakan ini juga mempertimpangkan studi epistimologis dan kesipan regional atau wilayah setiap daerah.

Teori Talccot Parson Fungsionalisme Struktural.

Menurut Parson, terdapat empat fungsi penting untuk semua sistem tindakan, yang dikenal dengan skema AGIL (Adaptation, Goal, Attainment, Integration, dan Latency). Yuk kita bahas mengenai kebijakan New Normal dengan menggunakan teori AGIL dari Parson. Disini New Normal kita analogikan sebagai suatu sistem atau bagian dari tindakan. Berikut ini penjelasannya :

  1. (A) Adaptasi/Adaptation

Skema yang pertama adalah adaptasi atau adaptation, merupakan cara menanggulangi dalam situasi eksternal. Dimana sistem perlu melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar untuk kebutuhan tertentu. Hal ini berkaitan dengan kondisi kita saat ini dimana masyarakat Indonesia sudah hampir 3 bulan menghadapi Covid-19, dengan hidup mematuhi dan menerapkan peraturan yang diambil oleh pemerintah seperti, kebijakan PSBB (phsical distancing, memakai masker, mengkonsumsi vitamim, mencuci tangan secara teratur dan aturan lainnya). Nah, baru-baru ini terdapat kebijakan baru dari pemerintahan Indonesia yakni mengenai wacana New Normal. Kebijakan baru ini mengharuskan kita untuk dapat hidup berdampingan dengan virus corona, sehingga mengharuskan kita untuk sadar akan pentingnya protokol kesehatan dalam menjaga keselamatan diri kita masing-masing.

            Nah, adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat selama masa pendemik ini untuk dapat menerapkan protokol kesehatan. Seperti saat ini, mengenai kebijakan New Normal, dengan tujuan dapat memulihkan perekonomian, yang merupakan sektor terdampak akibat pendemik ini, seperti banyaknya tempata wisata dan tempat usaha pun tutup karena ingin memutuskan rantai penyebaran virus corona ini. Hal ini tidak terlepas juga dari analisis kesehatan dan sosial-ekonomi. Dengan begitu masyarakat diharapkan dapat menyesuaikan New Normal, rakyat dapat lebih mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan dalam melakukan kehidupan sehari-harinya. Namun, tidak dipungkuri bahwa ini merupakan situasi yang sulit karena tidak semua masyarakat memiliki kebiasaan seperti ini, sehingga perlunya adapatasi dengan kehidupan New Normal. Tetapi kita lihat saja kedepannya apakah New Normal ini dapat dilaksanakan dan masyarakatnya dapat beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru.

  • (G) Goal Attainment / Pencapaian Tujuan

Sebuah sistem didefinisikan sebagai suatu hal yang memiliki tujuan utama atau memiliki goal attainment. Dikaitkan dengan kondisi saat ini goal attainment terdapat pada bagaimana upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk dapat memulihkan perekonomian Indonesia yang berdampak akibat pendemik Covid-19, yaitu dengan wacana penerapan kebijakan New Normal. Ketika masyarakat dapat berhasil untuk beradaptasi dengan hidup berdampingan bersama virus corona ini maka tujuan dari penerapan New Normal ini dapat terwujud. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa penerapan kebijakan New Normal ini dapat menjadi bomerang, bagi masyarakat Indonesia. Dimana kemungkinan dapat terjadi, kasus peningkatan positif yang membuat tenaga kesehatan menjadi kewalahan dalam menangani kasus pendemik ini. Oleh karena itu pentinganya adanya konsensus untuk mencapai goal attainment, dimana pemerintah dan masyarakat perlu berkolaborasi dalam melaksanakan New Normal ini.

  • (I) Intergration / Integrasi

Dimana suatu sistem perlu adanya satu kesatuan dari bagian-bagian komponen yang ada dalam sistem tersebut. Sistem disini memerlukan adanya pengolahan antar hubungan dari ketiga fungsi penting yang mencakup AGL. Ini berkaitan dengan kebijakan New Normal yang diterapkan dibeberapa wilayah, seperti di Jakarta dan daerah lainnya. Masyarakat perlu melaksanakan new normal dalam kehidupan sehari-harinya. Dapat dicontohkan seperti ketika kita hendak pergi belanja ke mall atau pasar, pergi bekerja, semua itu merupakan bagian dari integrasi. Yang dimana pola ini sudah ada, mencakup adaptasi, goal attainment, dan pola-pola ini dapat berjalan dengan baik.

Dengan demikian suatu sistem yang ada, dapat mengatur hubungan antar bagian-bagian menjadi satu kesatuan atau komponen penting tersebut dapat terlaksana. Jika, sistem yang dibangun dalam menerapkan New Normal tidak terintegrasi ataupun tercapai. Maka kita dapat menduga bahwa akan terjadi hal buruk seperti bertambahnya kasus positif corona dan ketegangan masyarakat akan terjadi.

  • (L) Latency / Pemeliharaan Pola

Suatu sistem perlu saling melengkapi, memelihara dan memperbaiki. Hal ini berkaitkan dengan kondisi sekarang, yang dimana perlu adanya motivasi dalam pelaksanan sistem tersebut baik motivasi dari individual maupun dari kulturalnya sendiri. Kita dapat melihat beberapa negara, seperti Vietnam, Jepang atau negara lainnya yang telah berhasil mengatasi pendemik Covid-19 ini dengan berbagai strategi dan kekhasan negara masing-masing. Untuk itu dalam perencanaan penerapan New Normal perlu adanya pola-pola yang diterapkan oleh masyarakat seperti, protokol kesehatan dan lainnya. Tetapi jangan sampai pola-pola ini belum mendukung untuk kita dapat hidup New Normal. Jika pola ini belum terlaksanakan dengan baik, maka ada kemungkinan kebijakan baru ini akan menjadi bom waktu yang dapat berdampak kepada masyarakat. Ini menyebabkan juga kepercayaan dan motivasi yang dimiliki rakyat menjadi hilang dan menyebabkan rakyat tidak lagi dapat mempercayai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Karena mereka telah menganggap pemerintah telah lalai dalam mencegah dan mengatasi pandemik Covid-19 tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here