Kenapa Milenial Bisa Ambyar Turun ke Jalan?

0
232
Sumber foto: Solopos.com

Indonesia diramalkan akan mendapat bonus demografi pada tahun 2020-2040. Masa bonus demografi sesuai Siaran Pers yang dirilis tahun 2017  Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional, merupakan jumlah penduduk usia produktif (berusia 15 -64 tahun). Meraka yang dalam bahasa sekarang disebut sebagai milenial, lebih besar dari penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 dan di atas 64 tahun). Untuk menuju atau menjemput masa itu, Indonesia membutuhkan sarana atau metode khusus yang kompatibel atau seiring-sejalan dengan kehendak generasi milenial yang akan menguasai masa-masa tersebut.

Milenial ini merupakan generasi yang unik karena memiliki kemampuan mengolah cara pengekspresian emosionalnya. Ekspresi yang mereka tampakkan seakan melawan/bertolak belakang dengan ‘kodrat’ fitrah manusianya. Jika manusia patah hati dan dihianati akan sedih atau menangis, bagi mereka tidak.

Penyanyi tenar di era 80-an dan 90-an asal Solo, Didi Prasetyo atau karib disapa Didi Kempot  dikenal sebagai penyanyi melankolis,  lagu-lagunya bercerita tentang sakitnya putus cinta dan penghianatan. Oleh generasi milenial, penyanyi yang hits dengan lagu Cidro (hianat) ini ‘dipermak’ sedemikian rupa. Bahkan lagu sedih yang dibawakan The God Father of Broken Heart (Didi Kempot) diekspresikan dengan happy. Rasa sakit yang disebabkan putus cinta dan pengkhianatan, menurut mereka tidak perlu disesali atau ditanggisi, tetapi ‘kudu dijogeti’ (harus dijogeti).

Kanal yang mereka gunakan untuk menyalurkan ekspresi ‘kesakitan namun menyenangkan’ ini melalui media sosial (medsos). Mereka berjejaring melalui medsos sembari mendengarkan lagu-lagu Lord Didi, lalu mereka membuat kelompok, komunitas, atau gerakan sosial yang mereka sebut sebagai “Sobat Ambyar”. Komunitas maya ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka mampu merebut kuasa-kuasa simbol Pop Barat (meski tidak sepenuhnya berhasil) serta mengisi ruang-ruang kosong di hati dan waktu luang generasi milenial Indonesia.

Meski lagu-lagu yang dibawakan memakai bahasa Jawa, tapi lagu adalah bahasa universal. Sehingga  lagu yang dibawakan oleh Bapaknya orang Sakit Hati ini bisa diterima semua telinga. Didi bukan lagi hanya milik orang Jawa, tapi milik semua.

Kanal generasi milenial ini juga sebagai wadah  konkrit dalam mengakomodir berbagai hal, seperti aksi demonstrasi. Persebaran informasi yang cepat dan masif dilakukan oleh mereka yang mengajak kumpul dan turun ke jalan melalui medsos. Misalnya  seruan aksi yang sempat viral di Yogyakarta,  mereka sebarkan dengan tagar #GejayanMemanggil. Aksi tersebut diikuti berbagai mahasiswa dari beberapa kampus. Mereka mengadopsi semangat ‘nekad’ seperti yang dimiliki pendahulunya. Selain itu, milenial ini juga memiliki kebaruan dalam menyampaikan tuntutan  berupa simbol-simbol propaganda yang genuin atau khas gaya mereka.

Aksi Gejayan Memanggil dan aksi-aksi lain yang sempat viral di jagat maya beberapa waktu lalu, menyisahkan fakta-fakta unik. Yang paling mencolok adalah tulisan-tulisan yang bertebaran di spanduk dan poster pada saat aksi demonstrasi tersebut. Di antaranya  : Tuhan tidak tidur. Pemerintah yang ketiduran, Undang-undangmu lebih kejam dari pada undangan mantan, cukup cintaku yang kandas. KPK jangan, itu DPR apa lagunya Afgan? kok sadis, entah apa yang merasukimu DPR. kau mengkhianatiku, asline mager pol, tapi piye maneh? DPR-e pekok (aslinya malas gerak, tapi gimana lagi, DPR-nya payah), dan masih banyak yang lain.

Menengok uniknya aksi demonstrasi yang ramai beberapa waktu lalu  dan fenomena Ambyar, pemerintah harus mulai menata ulang gaya atau metode pendekatan dalam ‘memikat’ hati dan memberikan kenyamanan  para milenial. Kesadaran generasi milenial sebagai kontrol pemerintah yang diungkapkan melalui aksi demonstrasi perlu diapresiasi, bukan malah dipersekusi. Memang,  tidak menutup mata dengan adanya kerusuhan pada aksi demonstrasi di beberapa wilayah. Akan tetapi masih ada banyak aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para milenial yang berjalan dengan tertib, aman, damai, unik, dan menyenangkan.

Pemerintah yang diwakili pihak keamanan tidak bisa serta-merta menyamakan metode pendekatan terhadap mereka dengan yang sudah-sudah. Jika dirunut ke belakang, euforia yang menghinggapi demonstran milenial yang sampai rela berpanas-panasan  turun ke jalan ini setidaknya ada beberapa faktor. Antara lain  kesebalan  terhadap peraturan yang dibuat pemerintah, yang dianggap akan mengekangi kebebasan mereka. Faktor lain,  tersendatnya saluran aspirasi. Aspirasi yang mereka sampaikan ke medsos official tokoh-tokoh, lembaga dan pihak-pihak terkait yang memiliki irisan dengan pemerintahan hanya diterima dan dijawab oleh robot.

Secara tidak langsung, demonstran milenial ini haus sentuhan-sentuhan kemanusiaan, mereka kehilangan “orang tua” yang mengayomi di dunia virtual. Selain itu, milenial ini juga mengalami kejenuhan akut yang diakibatkan kehidupan maya yang melulu dan soal itu-itu saja. Mereka butuh “mimbar yang instagramable” untuk menampilkan diri dan dilihat  orang banyak. Yah, mereka butuh wadah untuk menyalurkan jiwa narsistiknya.

Sudah selayakanya pemerintah mengkaji dan menata ulang metode pendekatan untuk mendekati generasi unik penerus bangsa dan negara ini. Tentu pendekatan yang konkrit, bukan hanya pendekatan dangkal melalui simbol jaket parasut atau  jaket jeans dan sepatu kets.

A’an Ardianto, mahasiswa Pascasarjana Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam

UIN Sunan Kalijaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here