Perjuanganku dari Panti Asuhan Monaco

0
477
Foto: Pexels.com

“Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu. Namun tiada guna, garis waktu takkan memperlambat gerakannya barang sedetik pun. Ia hanya mampu maju. Dan mau tidak mau, kita harus ikut terseret dalam alurnya”. (Fiersa Besari “Garis Waktu”).

Saya lahir di desa Tuho’owo, Nias, Sumatera Utara. Setelah belajar di bangku sekolah dan tiga tahun mengenyam pendidikan SMA di Nias, saya sangat ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Suatu hari, saya berbicara empat mata dengana suster pimpinan Panti Asuhan di mana saya tinggal, bahwa saya ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Lalu suster pun menjawab dengan jujur bahwa pihak panti Asuhan hanya mampu membiayai sampai tamat SMA. Ketika mendengar itu, saya sempat down, dan berputus asa.

Setelah keluar dari ruangan suster, saya pun mengambil kesempatan berdiam diri di kamar. Dan saya hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan Tuhan. Saya hanya percaya akan penyelenggaraan Ilahi, bahwa segala niat baik itu pasti akan diberkati dan diberi jalan keluar. Meskipun begitu keadaannya, saya terus berjuang mengikuti jalur beasiswa mulai dari Bidikmisi, SNMPTN. Dan ternyata keduanya tidak lolos.

Kegagalan itu tidak membuatku berputus asa. Saya masih mencoba yang lain yakni SBMPTN. Namun dalam mengikuti jalur ini saya masih berpikir dananya dari mana, karena ini membutuhkan uang yang cukup besar. Mulai dari uang transportasi dari Nias ke Medan. Saya pun semakin diuji, dan Puji Tuhan, di dalam kesempatan ini Tuhan membuka jalan yang sangat baik. Tiba-tiba suster memanggil saya dan menawarkan kepada saya membuka les privat di Panti Asuhan. Kebetulan ada orang tua yang anaknya membutuhkan pendampingan khusus untuk belajar.

Dengan senang hati saya pun menerima tawaran itu. Kebetulan saya sangat senang mengajari anak-anak. Dulu sebelum tamat SMP saya bercita-cita jadi guru. Setelah beberapa minggu mengajari beberapa anak, saya diberikan ucapan terima kasih dalam amplop tertutup. Dan tidak hanya itu saja, juga diberikan beberapa sembako untuk kami yang di Panti Asuhan. Puji Tuhan hasilnya sangat memuaskan.

Uang tersebut tidak saya gunakan untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, saya mencoba menabung dan setelah cukup banyak saya perlihatkan pada suster dan meminta pendapat mau saya apakan uang itu. Suster pun memberiku kesempatan mengikuti jalur SBMPTN. Meskipun biayanya masih kurang, saya mencoba meminta bantuan keluarga dan mereka mau membantu walaupun dalam jumlah yang sedikit. Semuanya berjalan sesuai dengan keinginan dan harapanku.

Beberapa minggu kemudian, saya pun berangkat ke Medan dan tinggal di kos seorang kakak yang sudah menjadi kenalan suster Pimpinan Panti Asuhan. Selama tiga hari lamanya, saya mengikuti test di UNIMED dengan jurusan Seni. Setelah tiga hari menjalani masa tes, saya diberikan kesempatan jalan-jalan bersama kak Vero Telaumbanua dan kak Elfrida Sidabutar. Saya sangat bahagia dan merasa terhibur. Semuanya pun berjalan dengan lancar.

Satu minggu lamanya di Medan, saya kembali ke Nias. Sesampainya di sana, saya menjalani hari-hari seperti biasanya sambil menunggu keluarnya pengumuman. Pada hari Rabu, Suster Felisia datang ke Panti dan menanyakan apa jurusan yang hendak saya ambil di UNIMED. Saya pun menjawab jurusan seni. Mendengr itu suster menasehatiku dan mengatakan bahwa akhir-akhir ini para suster mendengar bahwa saya mengambil jurusan seni, mereka sangat menyayangkan kenapa saya mengambil seni. Suster mengatakan bahwa mengambil jurusan itu memang tidak ada masalah, tapi ini berkaitan dengan masa depanku. Ia menyarankan kalau itu hanya sekedar hobi, lebih baik saya mencari jurusan yang lain yang bisa memberikan pekerjaan yang tetap. Kalau seni itu bisa kerja sambilan kelak. Dengan penuh keterbukaan, suster mengatakan meskipun saya lolos, saya tidak boleh mengambil jurusan itu. Setelah berkata demikian, saya semakin paham dan menyadarinya. Saya pun berterima kasih padanya.

Waktunya pengumuman kelulusan SBMPTN dari Provinsi ternyata namaku tidak tercantum di dalamnya. Saya sangat sedih dan juga bersyukur. Saya selalu ingat, bahwa apapun yang kita dapatkan baik yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan, kita harus tetap bersyukur karena semuanya Tuhan yang mengatur dan Tuhan punya rencana terbaik dalam hidup. Suster pun tidak menyalahkanku. Malahan dalam situasi seperti ini suster masih mampu memberiku motivasi untuk terus berjuang.

Saya pasrah pada keadaan. Tiba-tiba suster Pimpinan Panti memberiku kesempatan untuk membuat satu proposal meminta bantuan pendidikan. Saya pun membuatnya dengan penuh semangat, dan memberikan proposal itu pada abang Bruder. Kebetulan abang Bruder punya teman namanya Pastor Dion, dan Pastor Dion menerima proposal itu dan memberikannya kepada seorang bapak di Jakarta, namanya Pak Dikdik. Akhirnya mendapat kabar bahwa proposal saya diterima dan bapak Dikdik siap membantu saya dalam masa perkuliahan. Dengan menanggung uang asrama dan uang kuliah sedangkan uang makan per bulan dibantu Panti Asuhan.

Semuanya sangat kusyukuri dan semakin menguatkanku. Suster Felisia mendaftarkanku di web ASMI St Maria Yogyakarta di jurusan Sekretaris. Setelah semuanya berjalan, saya pun mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan. Hingga saat ini saya sangat mensyukuri Rahmat yang berlimpah yang Tuhan berikan pada saya lewat keluarga, suster-suster Kongregasi SCMM, Panti Asuhan, Pastor Dion, Bapak Dikdik dan masih banyak yang tidak bisa saya sebutkan. Ternyata di balik kesusahan itu, di balik perjuangan itu, Tuhan selalu hadir dan tidak mau meninggalkanku.

Tuhan tidak pernah memberikan masalah yang tidak bisa ditanggung oleh manusia. Tergantung pribadi masing-masing, bagaimana cara mengatasi dan menjalaninya. Rasa putus asa adalah hal yang wajar, akan tetapi bagaimana caranya agar kita bisa bangkit kembali dari rasa keputusasaan itu.

Itulah kesempatan yang sangat luar biasa yang saya dapatkan di Panti Asuhan Monaco yang tidak bisa saya lupakan seumur hidup. Meskipun itu Panti Asuhan, saya tidak pernah malu atau pun minder dengan keadaan itu. Malahan saya sangat bangga menjadi anak Panti Asuhan, karena berkatnyalah saya mendapat kesempatan yang belum tentu orang lain dapatkan.

Febiana F. Halawa,
mahasiswi ASMI Santa Maria Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here