Penyakit Tular Vektor “Dbd” Semakin Merenggut Nyawa Di Jepara

0
597
Sumber foto: europoster.eu


Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan pada masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebaran semakin bertambah seiring dengan meingkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk.

Demam berdarah adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, misalnya Aedes aegypti atau Aedes albopictus, Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan penyakit ini.

Menurut Departemen Kesehatan tahun 2011 , menyatakan bahwa nyamuk dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah manusia yang telah terinfeksi virus tersebut. Setelah melewati masa inkubasi, virus di dalam nyamuk akan tinggal selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus dengue ke dalam tubuh manusia sehat yang di gigitnya.

Berdasarkan informasi dari media cetak yang ada, jumlah pemderita Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini semakin meningkat hingga kurang lebih 100 penderita pada bulan Januari 2019, dan tiga diantaranya dikabarkan telah meninggal dunia, hal ini terlah terjadi di beberapa daerah di Kabupaten Jepara, salah satunya ada di Desa Tahunan.

Peningkatan penderita DBD tahun ini dapat dikatakan meningkat jika dibandingkan dengan Tahun 2018 lalu, yang menunjukkan bahwa penderita DBD selama 12 bulan hanya 216 orang dan hanya 2 korban meninggal dunia. Namun. Dalam tahun ini hanya dalam satu bulan korban meninggal sudah melebihi jumlah korban pada tahun tahun sebelumnya. Semakin meningkatnya jumlah korban DBD, menyebabkn banyaknya upaya pengendalian dengan fogging.

DBD dapat terjadi dikarenakan pola hidup masyarakat. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya rasa peduli kebersihan di sekitar rumah masyarakat, contohnya seperti tidak membersihkan genangan sisa air hujan yang tertampung di kaleng-kaleng bekas, wadah-wadah yang terisi dengan genangan air, atau bahkan bak mandi yang tidak di kuras secara rutin dapat menyebabkan jentik nyamuk dapat dengan leluasa berkembanng biak, karena habitat jentik nyamuk adalah ditempat yang penuh dengan genangan air sekalipun itu air bersih. Nyamuk senang berada di tempat gelap.

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengendalikan demam berdarah, yaitu secara fisika,kimiawi dan biologis. Pengendalian secara fisika hanya cenderung untuk mengurangi atau bahkan mencegah, sedangkan pengendalian kimiawi dengan pencegahan dengan cara memutus mata rantai siklus nyamuk, biasanya masyarakat menggunakan abate.

Upaya pengendalian demam berdarah juga dapat dilakukan secara biologi salah satunya dengan cara memlihara ikan. Pemanfaatan ikan dalam upaya pengendalian demam berdarah efektif untuk membentuk jentik-jentik nyamuk stadium larva III. Pemanfaatan ikan sebagai predator alami untuk larva nyamuk adalah sebagai salah satu cara pengendalian secara biologi yang mudah untuk dilakukan di masyarakat.

Pengendalian secara biologis ini mampu mengurangi kepadatan larva nyamuk dan tidak menimbulan masalah bagi kesehatan lingkungan. Ikan yang efektif untuk mengendalikan larva nyamuk adalah ikan cupang, jenis ikan ini mudah di dapatkan dan dari segi ekonomis sangat bersahabat dengan masyarakat sehingga memudahkan masyarakat untuk memberantas jentik-jentik nyamuk secara mandiri.

Mari tingkatkan kepedulian kita terhadap kesehatan kita secara pribadi dan orang-orang di sekitar kita dengan menjaga lingkungan sekitar tetap bersih dan bebas dari ancaman wabah penyakit tular vector Demam Berdarah Dengue (DBD).

Yesi Kristiana
Mahasiswi Fak Bioteknologi
Universitas Kristen Duta Wacana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here