Mafindo Jogja Ajak Masyarakat Bangun Ekosistem Anti Hoaks di Tahun Pemilu

0
350
Foto: Istimewa

Yogyakarta– Masyarakat Anti Fitnah Yogyakarta (Mafyk)  kembali menyelenggarakan sarasehan pada Rabu malam, (27/02/2019). Kegiatan yang diselenggarakan di Angkringan Jogja Automotive Community (JAC) menghadirkan beberapa narasumber, diantaranya Humas Polda DIY, AKBP Yulianto, S.IK., Duta Perdamaian, Ali Fauzi, Youtuber, Inem Jogja serta Presiden Info Cegatan Jogja, Yanto Sumantri.

Koordinator Mafindo Yogyakarta, Ade Intan Christian dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan sarasehan ini dibuat untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk sadar akan bahaya hoaks.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan dari sarasehan sebelumnya, dan kami ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat agar sadar tentang bahaya hoaks saat ini yang memang berpotensi menimbulkan konflik horizontal hingga mengancam kedaulatan bangsa”, katanya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan sarasehan dilakukan untuk mengedukasi masyarakat serta membentuk ekosistem anti hoaks di tengah-tengah masyarakat .

“Harapannya dengan adanya kegiatan sarasehan ini masyarakat bisa teredukasi serta menambah jejaring ekosistem anti hoaks yang dapat membuat Yogyakarta akan menjadi ayem tentrem dalam artian terciptanya keadaan damai serta tidak ada gejolak politik di tahun pemilu ini”, tambahnya.

Kegiatan yang terbuka untuk umum ini diikuti oleh 120 orang peserta dari berbagai latar belakang, baik Bawaslu, KPU, Kepolisian, TNI, relawan hingga akademisi dari berbagai Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Humas Polda DIY, AKBP Yulianto, S.IK menyampaikan bahwa perlunya memproduksi dan menyebarkan hal-hal positif dalam penggunaan media massa. Baginya penggunaan media massa yang benar sangat diperlukan sehingga informasi yang beredar tidak mempunyai efek yang parah, mengerikan dan merugikan banyak pihak.

Sementara itu, dalam pemaparannya Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Dr. Phil. Sahiron, M.A mengajak kepada para ustad yang berceramah di masjid-masjid dan musola-musola untuk tidak menyampaikan hal-hal yang kemudian menimbulkan kebencian kepada siapapun

“Dalam penelitian kami banyak para ustad yang berceramah di masjid dan musolah yang isinya itu kemudian membangkitkan kemarahan bagi pihak lain, kami tidak perlu sebutkan dimananya dan siapanya tetapi kami mengerti bahwa ada sebagian ustad yang kemudian melakukan hal yang semacam itu”, katanya.

Ia juga mengajak  dan menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak menyebar fitnah dan kebencian ketika menyampaikan pengajian atau ajaran keagamaan dalam masyarakat.

Kemudian Anggota Bawaslu DIY Muh. Amir Nashirudin menyampaikan bahwa Yogyakarta berada peringkat kedua dalam indeks kerawanan pemilu dalam sub dimensi penyelenggaraan pemilu terkait sub data pemilih dan kampanye.

“Daftar pemilih menjadi kerawanan, karena kosep kerawanan yang dirilis oleh bawaslu adalah semua hal yang berpotensi memberikan gangguan terhadap penyelenggaraan pemilu yang inklusif dan benar, termasuk data pemilih”, katanya.

Ia juga menambahkan bahwa kerawanan bukan hanya berbahaya, tetapi penyelenggaran pemilu bisa terganggu, salah satunya adalah kalau ada data pemilih yang terganggu.

Amir berharap agar potensi pemilih juga netizen yang cukup aktif di Yogyakarta bisa memproduksi narasi alternatif narasi moderasi yang mengimbangi berbagai kebisingan di dunia massa.

 

Reporter : Rian Antony

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here