Problematika Mahasiswa dalam Lingkaran Pengangguran

0
385
Foto: Istimewa

Memiliki status sebagai seorang mahasiswa menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka dan terutama bagi keluarganya. Jika dilihat banyak alasan mengapa orang lanjut studi (kuliah), salah satunya adalah agar lebih mudah dalam mencari pekerjaan suatu saat nanti. Alasan yang lainnya untuk mencapai sebuah cita-cita yang telah diimpikan dari sejak kecil. Sebagai contoh orang yang memiliki cita-cita menjadi dokter waktu kecil maka dia akan melanjutkan studi di fakultas kedokteran. Contoh lain seorang yang ingin menjadi guru maka ia akan lanjut studinya pada fakultas keguruuan dan ilmu pendidikan, selain 2 contoh diatas masih banyak lagi contoh yang lain. Namun sadarkah kita bahwa apa yang kita bayangkan, apa yang kita cita-citakan itu tidak mudah untuk kita bisa meraihnya di dunia kerja (persaingan).

Banyak hal yang perlu diperhatikan oleh seorang mahasiswa saat ini, terlebih mahasiswa yang sudah berada pada semester tua (akhir). Selain jumlah lapangan pekerjaan yang terbatas, mahasiswa juga harus bersaing antar mahasiswa lainnya, di Indonesia sendiri begitu banyak wisudawan yang memperoleh gelar. Saat ini, kita masuk dalam era 4.0 -Era 4.0 atau lebih simpelnya era pemanfaatan teknologi dalam dunia kerja- yang mau tidak mau, suka tidak suka harus dihadapi oleh seorang mahasiswa. Problematika inilah yang perlu diperhatikan oleh seorang mahasiswa.

Nyatanya, saat ini masih banyak mahasiswa yang belum pernah memikirkan hal tersebut. Mereka hanya membayangkan jika suatu saat nanti lulus maka permasalahan tersebut akan terselesaikan dengan jawaban gelar sarjana yang ia miliki. Mereka beranggapan bahwa seorang sarjana adalah orang yang memiliki kualitas dan kemampuan yang mumpuni untuk setiap pekerjaan. Tetapi banyak anggapan mahasiswa tadi yang tidak dibarengi dengan usaha yang signifikan untuk pengembangan kualitas dirinya. Entah itu terkait akademik maupun non akademik.  Lebih parahnya, banyak mahasiswa ketika sudah menjalani separuh perkuliahannya mereka lupa akan apa impiannya di saat awal ia memutuskan kuliah.

Jika kita melihat dari sisi perusahaan, maka semua perusahaan akan mencari dan menuntut sumberdaya manusia yang memiliki kualitas yang komplit; memiliki prestasi akademik yang bagus, pengalaman kerja yang bagus dan sebagainya. Hal inilah yang menyebabkan  mengapa banyak kita jumpai mahasiswa yang sudah lulus banyak yang menganggur, karena mereka tidak memiliki kompetensi tersebut.

Di sisi  perguruan tinggi, masih banyak kita temui para pengajar yang hanya mengajar. Mereka tidak memberikan stimulus untuk mahasiswa menyiapkan dirinya untuk persaingan di dunia kerja, walaupun ada beberapa pengajar yang juga sering memberikan masukan untuk mahasiswa ke depannya. Namun hal ini akan lebih efektif apabila suatu perguruan tinggi memiliki kebijakan yang baik untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas. Sehingga ketika mereka lulus, mahasiswa akan lebih matang bersaing di dunia kerja. Pertanyaannya siapa yang patut kita salahkan? Mahasiswa? Perguruan tinggi? atau pemerintah?

Pernyataan yang tepat untuk menjawab hal tersebut ialah, tidak ada yang perlu kita salahkan maupun kita benarkan. Sudah saatnya kita saling intropeksi diri terutama bagi kita seorang mahasiswa. Peran pemerintah dan perguruan tinggi juga sangat diperlukan untuk memberikan fasilitas dan kebijakan yang mampu mengasah kemampuan mahasiswa untuk menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dengan SDM lainnya, baik melalui metode-metode pengajaran yang berorientasi peningkatan pola pikir ke depan  maupun melalui pelatihan-pelatihan yang tersertifikasi sehingga menambah keahlian pada mahasiswa. Pihak perguruan tinggi juga diharapkan bisa memiliki kerja sama (MOU) dengan perusahaan nasional maupun swasta dengan point memberikan kesempatan mahasiswa untuk dapat magang maupun melamar di perusahaan tersebut. Apabila hal ini dapat dilakukan oleh semua pihak, maka tidak akan ada istilah pengangguran di Indonesia terlebih SDM (mahasiswa) dapat menjawab tantangan dan peluang era 4.0 saat ini yang sudah banyak diperbincangkan.

 

CATUR SETIONO

Mahasiswa MM UAD

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here