Umat Beragama yang Tak Kunjung Bersatu

0
481
Sumber foto: religidanbudaya.filsafat.ugm.ac.id

Perumpamaan mukmin seperti bangunan, sebagian yang satu dengan yang lain saling menguatkan. Seorang mukmin dalam mencintai, mengasihi dan menyayangi seperti satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit juga. Begitulah perumpamaan-perumpamaan yang populer di kalangan Islam. Karena memang pada dasarnya setiap orang itu membutuhkan orang lain dalam keberlangsungan hidupnya. Dari perumpamaan tersebut dapat disimpulkan bahwa betapa Islam mengajarkan cara bersosialisasi yang baik bagi umatnya.

Pun Indonesia merupakan negara yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah kesatuan rakyat yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan latar belakang sejarah, budaya, agama dan kepercayaan yang berbeda. Diperkuat lagi bahwa Indonesia memiliki dasar negara yaitu Pancasila, yang kaya akan nilai-nilai persatuan. Terutama pada sila ketiga yang menjunjung tinggi persatuan Indonesia. Warga negara Indonesia yang baik dapat saling mempertahankan kesatuan dan persatuan. Meskipun  akan ada perbedaan-perbedaan yang bermunculan, tetapi justru perbedaan tersebut yang menjadi satu tantangan bagi masyarakat untuk saling menguatkan agar tidak terpecah belah.

Peristiwa pembakaran bendera di Garut telah menuai perdebatan. Orang-orang saling menuding dan menyalahkan satu sama lain. Yang pada awalnya diklaim sebagai bendera salah satu organisasi yang sudah dilarang oleh pemerintah, entah bagaimana ceritanya beralih klaim menjadi bendera tauhid, bendera pengesaan Tuhan dalam Islam. Atas klaim bahwa bendera tauhid yang dibakar, banyak umat Islam yang tersulut amarahnya. Lagi-lagi masalah agama yang sampai ke ruang publik selalu menjadi isu sensitif. Bermunculannya asumsi-asumsi yang tidak bersumber jelas, tentu akan menimbulkan perdebatan yang lebih luas.

Telah diketahui bahwa Indonesia merupakan negara mayoritas Islam. Sebagai mayoritas umat beragama, hendaknya bertoleransi kepada penganut agama lain sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa Indonesia itu multikultural. Dalam Islam sendiri diketahui bahwa ada dua organisasi masyarakat besar yang memiliki banyak pengikut. Ada lagi organisasi-organisasi lain yang belum sebesar dua organisasi  ini. Fenomena yang terjadi di Indonesia ini terkadang membuat hati merasa sangat menyayangkan apabila perdebatan yang terjadi ada di kalangan Islam sendiri, yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan. Satu dengan yang lain selalu mengedepankan ideologinya masing-masing daripada saling menguatkan  sesama umat.

Fanatik ideologi memang tidak dapat dimungkiri, bahkan dapat dikatakan sebagai hal yang wajar dengan melihat realita yang ada. Fanatik dihasilkan dari latar belakang sejarah yang berbeda-beda, namun tetap saja menyatukan perbedaan memang bukan perkara mudah, tetapi mengupayakan persatuan adalah cara yang paling bisa dilakukan. Upaya tersebut dapat diukur dengan sejauh mana masyarakat  bertoleransi dengan sesamanya. Karena perbedaan-perbedaan akan selalu ada selama berlangsungnya kehidupan. Ditarik dalam lingkup khusus, banyak organisasi Islam di Indonesia yang memiliki ideologi masing-masing. Mereka harus sadar akan pentingnya bertoleransi. Kembali lagi pada tujuan awal untuk hidup sebagai masyarakat yang berdampingan di Indonesia. Tidak perlu memandang sukunya, rasnya maupun agamanya.

Terkait kasus bendera di atas ataupun kasus serupa lainnya yang ada sangkut pautnya dengan agama, dipastikan akan memunculkan perbedaan dan perdebatan. Namun sejauh mana perdebatan akan berlanjut, kembali lagi kepada masing-masing individu. Apakah perlu membawanya jauh hingga memunculkan perpecahan? Kalau saja bertoleransi menjadi karakteristik yang dimiliki setiap warga negara Indonesia, maka permasalahan semacam bendera dan sejenisnya tidak akan bertele-tele.

Salwa Sofia Wirdiyana
Mahasiswi Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here