PAHLAWAN MILENIAL

0
396
Sumber foto: komunitas pecinta Pancasila

 

Perjuangan para pahlawan dulu bukan untuk sekedar dirayakan, seperti sebuah pesta kemenangan sehabis pulang dari perang. Hari pahlawan yang kita peringati justru sebagai bunyi peringatan, bahwa perjuangan belum selesai dan tongkat estafet perjuangan harus terus dikobarkan. Hari pahlawan bukan hari di mana sibuk update status atau snapgram dengan gambar tokoh-tokoh pahlawan atau quotes para pahlawan.

Ini adalah hari di mana kita seharusnya merefleksikan diri tentang kondisi zaman dan di mana si’aku’ sedang berdiri saat ini. Apakah si’aku’ berdiri di tengah-tengah kesibukan kenikmatan dunia (hedonisme, narsisme, individualisme ), atau mungkin si’aku’ sedang berdiri dalam lorong kesepian (putus asa, bimbang, pesimistis). Di manakah si’aku sedang berdiri saat ini? Apakah berdiri di atas rasa bangga, bersemangat, dan keyakinan penuh menghadapi tantangan hidup?

Itu baru tentang si’aku’. Bagaimana dengan si’kita’ yang beranggotakan si’aku’ dan si’aku’ yang lain. Di manakah si’kita’ berdiri? Sudahkah si’kita’ berdiri atas nama kita (Indonesia) atau mungkin si’kita’ berdiri atas nama kami (golongan). Lebih buruk lagi si’kita’ berdiri atas nama aku (egosentris, individualistik). Di hari pahlawan, ada begitu banyak tokoh kita miliki. Mereka datang dari golongan yang berbeda-beda, asal yang berbeda-beda, cara perjuangan yang berbeda-beda. Tapi mereka disatukan dengan atas nama kita (Indonesia) demi satu tujuan, MERDEKA!

Setelah sedikit merefleksikan diri, mari sekarang beranjak melihat fakta. Ketika menuliskan artikel ini, saya masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang. Menjadi mahasiswa di era sekarang berarti juga berstatus sebagai generasi milenial. Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir.

Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980-1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Tahun 2015 lebih dari 35% penduduk Indonesia berusia 15-34 tahun. Jadi tidak heran mengapa para politisi yang maju dalam ajang pileg maupun pilpres berlomba-lomba menggaet mereka. Puncak pertumbuhan usia produktif ini akan terjadi pada tahun 2020-2030 (BPS,2014) yang disebut sebagai bonus demografi.

Fenomena ini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi dapat menjadi peluang kesempatan bagi kemajuan bangsa namun juga dapat menjadi ancaman atau masalah baru bagi Indonesia (window of disaster) jika tidak dikelola dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Berangkat dari fakta tersebutlah penulis memberikan judul artikel ini “Pahlawan Milenial”. Kalau dulu para pahlawan berjuang melawan para penjajah, sekarang generasi milenial berjuang memajukan bangsa dengan melawan kebodohan dan ke’aku’an yang ada dalam diri masing-masing.

Banyak yang bilang generasi milenial sekarang adalah generasi instan, serba cepat, kreatif, multitasking. Apalagi didukung era digital dan semakin majunya teknologi saat ini. Namun, ada hal yang saya sendiri rasakan dan saya yakin juga dengan teman-teman lain merasakannya. Kita dapat melakukan dua atau lebih aktivitas dalam satu waktu.

Misalnya membaca buku sambil mendengarkan musik dan sekaligus mengunduh sesuatu di Internet. Ketika melakukan aktivitas tersebut tiba-tiba telepon seluler berdering, ada notifikasi pesan dari seseorang (katakanlah si’doi’). Lalu timbul godaan untuk membukanya dan mengahlikan perhatian ke hal lain. Ini disebut sebagai distraksi, yang merupakan karakter utama dari ekosistem digital. Sehingga yang seharusnya fokus kita adalah membaca, membuat kita sulit mendalami apa yang kita baca.

Ini adalah contoh hal sederhana, bagaimana dengan hal-hal besar lainnya? Kita diberikan banyak pintu (pilihan) dengan satu kunci. Karena hakikat manusia adalah kebebasan memilih. Pintu mana yang kita pilih, tergantung pilihan kita.

Pahlawan Milenial adalah pahlawan yang dapat membedakan mana yang prioritas, mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang tidak. Pahlawan Milenial merupakan pahlawan yang peka akan kemajuan zaman. Ia turut aktif dalam membangun kemajuan bangsa terlebih martabatnya sebagai manusia.

Kita adalah generasi yang akan membawa arah Indonesia. Pilihannya, ke mana? Maju atau mundur! Atau bahkan diam di tempat. Ini baru soal diri, soal kualitas diri. Tantangan lainnya adalah soal rasa persatuan Sebangsa dan Setanah Air. Sudahkah si’aku’ berdiri atas nama kita (Indonesia). Bersama-sama membangun Indonesia, kita menjadi pahlawan. Iya! Pahlawan Milenial!

Natan Anggi Saputra Tamba

Mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis
Universitas Brawijaya Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here