Media Sosial Bukan Ajang Eksistensi Diri Mahasiswa

0
802
Sumber foto: makeawebsitehub.com

Jika  mahasiswa pada zaman orde baru gemar membaca buku, koran dan tabloid, saat ini mahasiswa zaman now lebih sering mengakses informasi melalui media sosial. Salah satu karakteristik media sosial yakni interaksi antar pengguna. Para pengguna media sosial (user) dapat memperoleh dan membagikan informasi melalui akun yang dimilikinya. Informasi atau konten yang telah diunggah melalui media sosial, dapat direspon  pengguna lain melalui fitur suka (like), komentar (comment), dan bagi (share).

Melalui riset yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017 diketahui komposisi usia yang paling sering menggunakan internet di Indonesia yakni 19-34 tahun dengan persentase 49,52%. Urutan kedua usia 35-54 tahun dengan persentase 29,55%. Posisi ketiga  usia 13-18 tahun dengan persentase 16,68%. Terakhir, usia lebih dari 54 tahun dengan persentase 4,24%. Dari hasil riset tersebut usia 19-34 tahun  mendominasi penggunaan internet di Indonesia.

Friendster merupakan salah satu media sosial yang cukup menjadi trend pada tahun 2002. Saat itu belum ada smartphone yang terkoneksi internet. Sehingga para pengguna Friendster harus mengantri di warung internet untuk mengaksesnya. Betapa susahnya dahulu mengakses internet hanya untuk memeriksa adakah yang meminta pertemanan atau sekedar ingin mengganti foto profil Friendster saja harus mengantri di warung-warung internet. Tahun 2004 Facebook muncul dan sedikit demi sedikit remaja pada saat itu mulai beralih ke media sosial ini. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Friendster, Facebook hanya menambah fitur percakapan online atau chat yang memudahkan penggunanya saling berinteraksi. Setelah Facebook  kemudian banyak sekali bermunculan media sosial baru seperti Twitter, Path, Instagram dan Snapchat.

Kehadiran media sosial sejatinya digunakan untuk bersosialisasi di dunia maya. Sehingga jika dilihat dari segi kemudahan, media sosial sangat membantu mendekatkan orang-orang yang berjauhan agar tetap saling berkomunikasi satu sama lain. Komunikasi tidak hanya sekedar menyapa “hallo” “apa kabarmu di sana”, tetapi pengguna mengunggah foto atau video yang menunjukkan aktifitas yang ia lakukan hari itu. Melalui unggahan tersebut pengguna lain dapat merespon dengan meninggalkan komentar atau sekedar memberikan tanda suka (like). Dari situlah teman yang ada di dunia maya  dapat mengetahui  kabar dan aktifitas yang mereka lakukan.

Dengan adanya kemudahan dalam mengakses internet dan banyaknya jaringan Wifi di area publik membuat pengguna khususnya mahasiswa menjadikan media sosial sebagai ajang eksistensi diri. Para mahasiswa ingin mendapatkan pengakuan teman-temannya  bahwa dirinya eksis di media sosial. Bahkan setiap kegiatan yang mereka lakukan seperti makan, menonton film di bioskop, bahkan sedang dibonceng pengemudi angkutan online dengan mudah disebarkan melalui media sosial pribadinya. Setiap orang yang menjadi teman di media sosial  dapat mengetahui kegiatan yang dilakukan. Luar biasa bukan?

Memang tidak ada salahnya mahasiswa memamerkan kegiatan pribadinya melalui akun media sosial karena media ini dibuat untuk memudahkan interaksi antar pengguna. Tetapi sebagai mahasiswa, seharusnya lebih bijak dan berpikir lagi apakah kegiatan mengunggah aktifitas keseharian melalui media sosial memberikan dampak positif bagi kehidupan. Memberi dampak positif seperti misalnya mendapatkan pengetahuan baru dengan mengadakan diskusi online, menyebarkan informasi penting atau membuat suatu gerakan sosial. Kegiatan tersebut lebih bermanfaat jika dibandingkan dengan mengunggah aktifitas keseharian yang mungkin tidak semua orang harus mengetahuinya. Wahai mahasiswa, bijaklah dalam menggunakan media sosial jangan mencari eksistensi diri tetapi carilah relasi. Bukan mencari pengakuan diri tetapi sosialisasi.

Johanes Noventa Nugroho
Mahasiswa FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here