Banyak Perbedaan tetapi Satu Ibu

0
344
Sumber foto: Indonesia Travel

Menjadi hal yang familiar di telinga masyarakat Indonesia mengenai kata “keberagaman”. Keberagaman  berasal dari kata dasar “ragam” yang berarti banyak, dan  Indonesia ”banyak yang tidak sama.” Indonesia  ini benar-benar kaya akan keberagaman  bahasa, ras, suku, tarian, adat dan tak lain adalah agama. Pada kesempatan membuat tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai dampak buruk dari keberagaman melainkan pembahasan tentang keberagaman yang selalu menghiasi hidup Indonesia, dan  kita  patut mensyukurinya.

Bagi seorang mahasiswa,  kampus menjadi salah satu tempat yang dapat dilihat sebagai mikronya Indonesia. Alasannya, kampus yang cukup kecil itu memiliki mahasiswa yang berasal  tidak hanya dari dua atau tiga tempat asal saja, melainkan hampir  mewakili setiap provinsi yang ada di Indonesia. Sungguh unik dan nampak sedikit lucu ketika mahasiswa satu dengan yang lainnya berdiskusi ataupun bercanda ria menggunakan bahasa Indonesia tetapi masing-masing  memiliki dialek bahasa yang berbeda. Indah bukan?

Sejarah keturunan Indonesia pun memperlihatkan bahwa Indonesia tidak hanya berasal dari keturunan asli Indonesia, melainkan juga ada penyatuan persaudaraan dari bangsa Indonesia asli dengan bangsa asing melalui jalur perdagangan. Ada yang berasal dari India, ada yang dari Arab dan China.

Tak lupa pula dengan sejarah kolonialisasi, bukti dari kalimat yang sebelumnya sangat sering kita temui dalam keseharian, yaitu: ada marga atau sukunya asli dari Indonesia timur tetapi wajah dan cirinya terlihat benar-benar mirip orang Eropa. Contoh lain lagi adalah ada seorang teman yang berasal dari Nusa Tenggara Timur asli  tetapi perawakannya persis China atau Tionghoa. Unik bukan? Orang  Indonesia tetapi terdiri dari bentuk mata yang dapat memperlihatkan bentuk mata penduduk beberapa negara asing? Begitu uniknya Indonesia kita, yang memiliki banyak “beda”.

Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia itu diperjuangkan oleh pendahulu-pendahulu kita yang juga berbeda.  Di zaman yang dulu begitu susah, belum ada kemerdekaan. Mereka yang berbeda telah bersatu dalam “Sumpah Pemuda,” dan sudah seharusnya bersyukur karena kita yang merdeka ini bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semboyan bangsa kita pun menarik, karena menggunakan bahasa yang bukan asli milik kita, juga memiliki makna yang begitu mulia, “kita berbeda tetapi kita satu.”

Keberagaman sungguh dihormati oleh masyarakat Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur di NTT yang dijuluki Kota Reinha (Kota Bunda Maria). Sebuah kota kecil nan indah yang jarang dikenal masyarakat Indonesia umumnya tetapi selalu mengundang berbagai pengunjung negara luar untuk datang. Di setiap tulisan mengenai hal kebaikan, Larantuka selalu menjadi obyek utama untuk saya ambil sebagai contoh agar lebih terlihat nyata bahwa di tengah perbedaan tetapi toleransi itu benar-benar nyata. Bukan hanya toleransi tetapi solidaritas pun nyata.

Alasan Larantuka mampu menarik orang-orang negara luar adalah dalam peristiwa Semana Santa. Semana Santa merupakan hari yang begitu dinantikan setiap tahun oleh masyarakat Larantuka terlebih sangat dirindukan oleh anak rantau. Peristiwa Semana Santa terdiri dari Rabu Trewa, Kamis Putih, dan Jumat Agung (hari sebelum perayaan Paskah Katolik). Puncak Semana Santa adalah pada Jumat Agung dengan serangkainya tradisi yaitu Prosesi bahari dan Prosesi perarakan Patung Tuan Ma (Bunda Maria), Tuan Ana ( Tuhan Yesus) dan Tuan Meninu.

Hal unik yang ditarik dari peristiwa ini mengenai toleransi dan solidaritas adalah keterlibatan dan kepekaan umat agama lain yang membantu menertibkan dan menjaga keamanan selama prosesi  Jumat Agung. Ada yang diwakili oleh anggota pramuka yang non katolik, ada pula yang diwakili oleh jemaat muda Kristen Protestan.

Lebih mengharukan lagi bahwa, saya sendiri tidak mendengar suara adzan selama Semana Santa berlangsung. Sungguh mulia hati umat non katolik yang mampu berbagi kasihnya dengan menempatkan semangat toleransi di genggaman mereka.

Larantuka bukan kota yang modern bukan kota yang cepat mengikuti perkembangan IPTEK, tetapi dengan suasana yang demikian, Larantuka mampu membuat penduduknya dan  warga  yang datang dari berbagai tempat menjadi nyaman dengan kedamaian kotanya. Semana Santa di Larantuka  membuat cukup kagum,  walaupun  merupakan kota dengan mayoritas penduduk katolik, namun pernah ada sejarah dipimpin oleh bupati non katolik.

Belajarlah kita untuk tidak memprioritaskan hal negatif. Tidakkah ini unik? Menciptakan damai itu bukan perkara sulit untuk diwujudkan. Saya memiliki harapan besar selama menulis,  yaitu agar “toleransi dan solidaritas selalu nyata di Indonesia.”  Begitu unik sejarah keturunan kita, sejarah kemerdekaan negara kita.

Keunikan toleransi Larantuka semoga mampu membuat pembaca  bersyukur bahwa negara kita ini begitu istimewa, memiliki banyak ragam. Keberagaman ini sungguh indah dan mampu berbuah baik apabila kita memegang teguh “Bhineka Tunggal Ika,” kita berbeda tetapi kita satu. Kita berbeda ras, suku, wilayah, bahasa dan agama, tetapi kita lahir dari kandungan yang sama, tidak lain adalah kandungan sang Ibu Pertiwi, Indonesia.

Agnes Fitriana Liwun
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here