Agama, Politik dan New Media di Era Milenial

0
524

Media bukanlah sesuatu hal yang terdengar asing lagi saat ini terlebih lagi di era milenial. Dalam perkembanganya media masih menjadi bagian sentral dalam komunikasi. Kata komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” atau “common” dalam bahasa Inggris yang berarti sama. Sedangkan kata berkomunikasi berarti sedang berusaha untuk mencapai kesamaan makna “Commonnes”. Dengan kata lain, melalui komunikasi kita mencoba berbagi informasi, gagasan, atau sikap kita dengan partisipan lainya (Bungin, 2009: 257).

Media tidak hanya menjadi entitas yang menghasilkan produk budaya dan politik,  namun media tidak terbatas kepada hal itu saja. Media saat ini menjadi sebuah entitas yang keberadaanya ikut  menghadirkan berbagai ideologi bahkan juga agama. Kehadiran new media merupakan sesuatu yang baru dan  media  ini digunakan oleh setiap individu dalam melakukan komunikasi. Sebagaimana diungkapkan  Skinner, komunikasi  sebagai perilaku verbal atau simbolis dari pengirim (sender) yang berusaha mendapatkan satu efek yang dikehendaki kepada penerima (receiver) (Bungin, 2009: 259).

Untuk mengetahui bagaimana relasi agama, politik dan  media baru sebaiknya terlebih dahulu mengenal apa definisi dan pengertian dari relasi, agama, politik dan media. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), relasi  adalah hubungan, perhubungan, atau pertalian atau pelayanan dengan orang lain (kbbi.web.id). Sedangkan pada ranah sosial,  “relasi sosial merupakan hubungan antar manusia, yang dibentuk sebagai suatu relasi dan hal tersebut menentukan struktur masyarakat. Relasi ini didasarkan pada komunikasi yang terjadi antar individu dalam masyarakat.

Agama merupakan suatu kepercayaan tertentu yang dianut masyarakat sebagai suatu tuntunan dalam hidup dan suatu jalan kebenaran, akan tetapi sebagai pedoman kehidupan agama juga menyangkut pedoman tindakan normatif sebagai manusia dan kehidupan di masyarakat. Agama cenderung menjadi persoalan yang  paling rumit untuk diperbincangkan sekaligus menjadi topik yang menarik untuk disajikan di media. Agama menjadi sebuah permasalahan karena  sensitif dan menyangkut  keyakinan atau ajaran seseorang individu atau kelompok. Hampir secara keseluruhan masyarakat mencari sumber hukum agama atau dasar teologi dari media baru (theologi on new media).

Dalam kehidupan sehari-hari istilah “Politik” sudah tidak begitu asing, bahkan kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang dilakukan atas dasar kepentingan kelompok atau kekuasaan seringkali diatasnamakan dengan label politik. Oleh karena itu politik dapat dimaknai sebagai sesuatu yang ditekankan pada proses pembuatan kebijakan pemerintah (Political is the process of making goverment policies). Sebagaimana pandangan Budiardjo  (Cangara, 2016: 24),  politik adalah kegiatan yang dilakukan dalam suatu negara yang menyangkut dalam proses menentukan tujuan dan melaksanakan tujuan. Budiardjo juga menekankan bahwa tujuan politik bukan untuk memenuhi kepentingan atau tujuan pribadi seseorang (privat goal), melainkan untuk kepentingan seluruh masyarakat.

Media adalah sarana untuk memberitakan suatu informasi kepada publik (massa), media tersebut berbentuk surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan sekarang media sosial (lewat Internet). Media baru  sangat berbeda dengan pendahulunya. Media yang dahulu berbentuk konvensional, saat ini telah berubah menjadi media yang sifatnya massa new media atau media baru (Internet).

Internet merupakan singkatan dari International Networking atau Interconection Networking yang berarti sebuah jaringan komputer global yang menghubungkan jutaan komputer di seluruh dunia, sehingga setiap komputer yang terkoneksi di dalamnya dapat berkomunikasi atau bertukar data tanpa dibatasi oleh jarak, waktu dan tempat. Hal yang berkaitan dengan fungsi media dapat kita lihat dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers  yang menyebutkan, bahwa media berfungsi untuk menginformasikan (to educate), menghibur (to entertaint), mengawasi (social control) terhadap perilaku publik dan penguasa.

Relasi antara Agama, Politik, dan New Media dapat kita pahami sebagai suatu hal yang tidak dapat terpisahkan, bahkan hubungan antara ketiganya sudah berlangsung lama.  Kini new media memainkan peranan yang sangat penting dalam proses politik, bahkan menurut Lichtenberg media telah menjadi aktor utama dalam bidang politik. Hal ini diakui oleh  Thomas yang mengatakan bahwa “ in nearly all varians of social and political theory that media and communication systems are cornerstones of modern societis. In political term, they serve to enchance democracy.” (Cangara, 2016: 95).

Perkembangan Internet sebagai  bagian dari new media sangat besar dalam kemajuan teknologi satelit, komunikasi, dan  mempercepat pertumbuhan digitasi, penggunaan komputer, faksmile, dan telepon seluler. Perkembangannya begitu cepat, dan membantu kehidupan masyarakat, terlebih  pada generasi milenial, di perkotaan ataupun di pedesaan. Tidak sedikit di antara mereka yang  memiliki jaringan dan akses yang cepat. Bagi sebagian orang Internet sudah menjadi kebutuhan pokok dan tidak bisa melewatkan seharipun tanpa mengaksesnya. Hal ini dapat dikuatkan melalui data perkiraan pengguna Internet dari 10 negara tertinggi di dunia 2016 (Cangara, 2016: 348), yang menunjukkan bahwa Indonesia menempati ranking ke 6 setelah Cina, Amerika Serikat, India, Jepang dan Brazilia.  Dengan kehadiran media baru ini juga menjadikan sebagian orang cenderung mengambil dan memahami agama melalui media.

Koordinator peneliti Pusat Kajian Agama dan Budaya atau Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta, Chaider S Bamualim mengatakan di era milenial seperti saat ini, media sosial menjadi sahabat sekaligus tempat bertanya bagi anak muda dalam belajar agama. Pada umumnya mereka cenderung menyukai ustad yang digital friendly. Mereka (anak muda) atau generasi milenial ini dapat mengakses ceramah ataupun tausyiah secara mudah di manapun dan kapanpun mereka menginginkanya (Republika.co.id).

Kekuatan yang dimiliki media sebagai penyalur informasi publik menjadikan suatu pengaruh  berupa beragam konten yang dibutuhkan oleh masyarakat.  Konten mengenai agama dan politik adalah konten yang sering saya jumpai di media. Sekalipun ada juga berbagai berita yang membahas tentang ekonomi, kesehatan, sosial, budaya dan juga permasalahan hukum.  Dalam penilaian saya,  media telah lebih dulu membuat suatu agenda ketika menyampaikan informasi kepada masyarakat, sebagaimana yang dijelaskan dalam Teori Agenda Setting yang pertama kali diperkenalkan oleh Maxwell Mc Combs dan Donal L. Shaw dari School of Journalism.

Munculnya new media  dengan media sosial  sebagai turunannya kini telah menjadi sumber utama  masyarakat dalam memperoleh informasi terlebih lagi bagi anak muda. Kemudian hal tersebut membawa perubahan pada kegiatan politik. Dahulu kampanye politik dilakukan secara konvensional dengan turun di lapangan, sekarang kampanye dilakukan melalui media sosial. Melalui media inilah aktivitas politik diperlihatkan kepada publik dalam berbagai kegiatan, termasuk kampanye politik, yang dapat menentukan citra calon presiden  ataupun calon anggota legislatif. Kita juga dapat melihat bahwa media memiliki hegemoni, dan turut serta memperkuat kekuasaan pemerintahan, bahkan media cenderung tidak pernah memiliki sikap netral. Media memiliki dua kepentingan besar yaitu terkait dengan ideologi pengguna media dan cenderung mengambil isu yang terkait dengan agama dan politik.

Contoh kasus yang dapat kita lihat adalah  pemberitaan tentang Gubernur DKI Jakarta  Ahok, yang dituduh telah menistakan agama. Isu tersebut kemudian mampu  melahirkan sebuah gerakan besar yang menghadirkan beragam reaksi dari  umat Muslim di Indonesia,  dan puncaknya adalah  Aksi 212 yang dilakukan oleh massa yang begitu banyak. Hal ini menujukkan bahwa isu  agama  mampu menjadi topik di berbagai program berita yang ada di media dan televisi. Sebagaimana dikatakan oleh Gagah  (kompasiana.com), agama menjadi ruang publik yang sangat bebas untuk mendefinisikan berbagai ajaran keagamaan. Contoh dapat kita lihat di media online, di situ terdapat banyak berita yang menggunakan pendekatan agama Islam, antara lain penyampaian dakwah melalui youtube.

Sudah seharusnya  kita mengetahui dan memahami bahwa kehadiran media baru  memunculkan berbagai masalah bagi penyebaran informasi agama Islam. Media baru juga merupakan realitas yang tidak mengenal batas wilayah dan waktu, sehingga sesuatu yang disebarkan oleh media tidak selamanya sesuai fakta yang ada di dunia nyata. Banyak distorsi yang diciptakan oleh media. Selain itu,  media sosial telah menjadi salah satu alat propaganda politik dan juga sekaligus menjadi alat kampanye politik yang efektif.

Dari uraian  di atas maka dapat kita pahami bahwa Agama, Politik dan New media memiliki relasi yang cukup signifikan. Namun, hal yang perlu kita garis bawahi  adalah media tetap tidak dapat dijadikan sebagai agama apapun. Media hanya dapat dijadikan sebagai wasilah dalam penyebaran agama (da’wah), dan juga  media merupakan medium yang dapat digunakan sebagai bentuk persuasif pada toleransi keagamaan. Sudah selayaknya kita sebagai anak muda yang ada di generesi milenial ini paham mengenai relasi agama, politik dan new media itu dengan baik. Pada akhirnya kita dapat lebih bijak dalam memilih dan memilah informasi  yang ada di media. Kita juga harus menyaring dengan baik setiap informasi agar dapat kita implementasikan ke dalam berbagai bidang kehidupan, pendidikan, budaya, sikap, value,  dan norma-norma dalam masyarakat.

Putik Dian Larasati
Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta