Metode Pelatihan Menulis Menyenangkan

0
306
Foto: Istimewa

Kamu seorang trainer, mentor ataupun fasilitator sebuah pelatihan penulisan? Atau sebaliknya seorang yang pernah ikut pelatihan menulis? Pernahkah sebagai trainer, kamu merasa capaian kurang maksimal?

Kadang terlihat ada peserta yang malas-malasan bahkan ada yang cenderung destroyer “mengganggu” suasana kelas. Kamu seperti bicara sendiri dan tidak seorangpun yang berusaha menahan atau menghentikan.

Jika kamu menjadi peserta, kamu lihat banyak peserta lain memperlihatkan wajah datar tanpa ekspresi. Tidak antusias dan merasa jenuh hanya mendengar pemateri menyampaikan paparan teori dan atau pengalamannya.

“Kapan giliran saya berperan? Pelatihan itu kan berlatih, bukan hanya khusyuk mendengar. Membosankan!” Tidak mungkin kan harus menunggu ada peserta yang meneriakkan seperti itu?

Sesungguhnya banyak sekali metode dalam pelatihan penulisan agar bisa dirasa menyenangkan. Diantaranya:

  1. Observasi.

Peserta diminta untuk keluar kelas, agar tidak jenuh di dalam ruangan. Minta mereka untuk mengamati satu obyek saja (apapun), kemudian diskripsikan.

Tujuan utama dari aktivitas ini adalah, berlatih kejelian mendiskripsikan sebuah obyek dengan cara mengamati dan meneliti dari setiap sudut, dari jauh maupun dari dekat.

  1. Wawancara.

Mintalah peserta untuk saling berhadap-hadapan kemudian lakukan interview profile secara bergantian. Hasil wawancara disusun dan dituliskan menjadi sebuah naskah utuh.

Tujuannya agar peserta berlatih memawancarai seorang narasumber lalu menuliskan hasil wawancara tersebut. Agar lebih asyik, mintalah peserta untuk menggambar sosok yang diwawancarainya.

  1. Perencanaan Berita.

Bagilah peserta ke dalam tiga kelompok penulisan: hard news, soft news dan opini. Mintalah mereka berdiskusi membuat perencanaan berita, memilih 3-4 isu apa yang menarik, dan sedang viral.

Setelahnya, masing-masing mereka diminta menulis sesuai dengan isu pilihan mereka sendiri. Tujuannya agar peserta terlibat aktif dalam mengusulkan isu, mengapa isu itu penting.

Agar lebih “drama” lagi, masing-masing kelompok mempresentasikan 3-4 isu terpilih, jelaskan peristiwa apa dan mengapa penting (angle yang mau diangkat).

Pada saat peserta.ingin menulis yang sudah ada di kepala mereka, tiba-tiba “redaktur” minta isu nya diacak. Peserta dari kelompok hard news bisa diharuskan nulis opini ataupun soft news, demikian yang lainnya.

Jelaskan, bahwa sebagai jurnalis marah atau jengkel sih boleh, tapi menolak tugas redaktur adalah pantang. Mereka harus lebih terlatih menulis apa yang harus dipikirkan, dan bukan apa yang sedang dipiirkan. (Awib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here