Menjadi Santri Menjadi Kreatif

0
1256

 ‘Aku nggak bisa mundur. Karena mencintaimu adalah amanah’

‘Amanah? Amanah dari siapa? ‘

‘Amanah dari hati. Semua yang diamanahkan oleh hati, akan diperjuangkan sepenuh hati.’

‘Maksudmu seperti Gus Ipul? Yang menjalankan amanah sepenuh hati sebagai wakil gubernur Jawa Timur selama sepuluh tahun dan tidak tertarik sama jabatan lain?’

‘Insyallah’

‘Kamu tahu apa yang paling ditakuti sama perempuan?’

‘Apa?’

‘Ditinggal pergi saat lagi sayang-sayangnya..’

 

Dialog di atas adalah cuplikan video kampanye pemilu legislatif Jawa Timur dari calon gubernur Gus Ipul beberapa bulan yang lalu. Akun YouTube bernama MANJA membuat video kampanye tersebut menjadi ala ala Dilan 1990 dengan edisi santri. Video tersebut diberi judul Milenah 1439 H,  dipublikasikan  4 April 2018. Saya tertarik melihat ‘santri’ yang diangkat dalam video tersebut.

Sepekan lalu Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2018. Generasi muda Indonesia tidak sedikit yang ditakdirkan menempuh pendidikan di sekolah tradisional seperti pesantren. Sebenarnya lingkup santri tidak bisa dikhususkan  pada pendidikan  pesantren saja tetapi juga institusi pendidikan keagamaan lainnya seperti madrasah, perguruan tinggi Islam, dan institusi pendidikan lainnya.

Hal yang menarik dari santri milenial yaitu keterlibatan mereka pada gaya hidup kekinian. Sebelumnya, santri identik dengan citra lama sarung, peci, jilbab sederhana,  kitab kuning, ngaji, fatwa, syariat agama, hafalan dan lain sebagainya. Sekarang santri telah beradaptasi mengikuti arus isu dan teknologi. Artinya, sekarang santri tidak hanya memegang kitab tetapi juga kamera. Tidak hanya berbicara mengenai syariah tetapi juga isu kekinian termasuk pemilu. Menjadi santri bukan berarti bersikap apatis terhadap politik dengan segala image negatifnya.

Mungkin saya termasuk yang terlambat melihat video ini, tapi saya masih tertarik  membahasnya. Hingga saat ini, video tersebut  telah dilihat sebanyak 966.126 kali. Saya juga menemukan berbagai macam komentar yang mengapresiasi karya ini. Beberapa di antaranya:

 

Ini cara kampanye yang keren– Irfan Utama, komentar 6 bulan yang lalu.

Saya sangat terkesan dengan ide kreatif pembuat iklan ini, milenah jangan takut ditinggal pergi di saat lagi sayang sayangya – Catur Indriyanto, komentar 6 bulan yang lalu.

Saya tidak memilih Gus Ipul tapi saya senang dengan video ini. Good Job Tim – Nusantara Computech, komentar 6 bulan yang lalu.

Video ini mendapat apresiasi dari pendukung maupun bukan pendukung calon yang diusung. Bisa dikatakan sangat sdikit komentar negatif yang ditujukan terhadap calon yang diusung di dalam kolom komentar video tersebut. Perlu diketahui, ternyata konten seperti ini sudah ada sebelumnya, untuk memberikan kesan pemilu yang santai. Istilahnya teoritisnya: ‘humor politik’. Humor politik ada untuk menjembatani kritik secara tidak langsung terhadap konten-konten politik. Menurut Danandjaya dalam Cangara (2018), seorang pakar antropologi budaya, orang Indonesia lebih mudah menerima kritik tidak langsung. Oleh karena itulah muncul humor-humor politik.

Saya ingin merefleksikan kampanye pemilu legislatif dengan ide tersebut terhadap kampanye pilpres 2019. Begitu banyak perang media antar kedua kubu karena kampanye lebih banyak menggunakan debat topik yang terlalu serius misalnya krisis ekonomi. Namun ada juga suasana humor yang dibawa kecebong, kampret dan sontoloyo sehingga menimbulkan respon saling melempar istilah baru. Semakin banyak menggunakan ide kreatif, semakin rendah tingkat konflik yang ditimbulkan, begitu pula sebaliknya.

Kita bisa bandingkan gaya humor para aktor politik Indonesia. Video Dilan tadi sangat berbeda jika dibandingkan dengan humor yang dilakukan oleh salah satu calon wakil presiden, Sandiaga Uno. Saat blusukan ke pasar tradisional, Pak Uno mengalungkan dua ikat petai di lehernya menjadi rambut petai untuk menarik perhatian ibu-ibu di pasar itu. Lebih menarik lagi, adanya pernyataan bahwa Pak Uno ini adalah santri. Bagaimana menurut anda? Bagaimana selera humornya? Menurut Cangara (2018), humor politik tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap perolehan suara. Saya justru melihat sebaliknya, para pemilih pemula, santri, dan teman-teman lain berharap calon pemimpin nanti memahami perasaan kita, masa kita, hidup kita, anak muda yang katanya ‘generasi micin’ bahwa kami juga merupakan bagian dari warga negara Indonesia. Kami cenderung menyukai hal sepele namun sangat ngena, kekinian, dan kreatif, bukan humor yang krik-krik…

Jumlah calon presiden Indonesia 2019 hanya dua sehingga pertarungan kampanye sangat kentara. Pengusung kedua calon mudah terpancing satu sama lain dan booming di media sosial. Kata Dilan, ‘cemburu itu cuma untuk orang yang tidak percaya diri’. Semoga kamu bukan termasuk pengusung yang sedang tidak percaya diri..

Kirana Nur Lyansari

Mahasiswa Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam,
Interdisciplinary Islamic Studies,
UIN Sunan Kalijaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here