Kontribusi Mahasiswa dalam Menangkal Hoax

0
443
Sumber foto: techyv.com

Eh, sudah dengar Ratna Sarumpaet diserang  pendukung Jokowi?””Eh, benarkah itu, masa sih pendukung Jokowi sebrutal itu”Sudah, sudah, kalian ini, itu kan hanya hoax saja”Hoax? Apa itu?” Menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia, hoax merupakan berita bohong. Hoax  berasal dari kata hocus / hoces corpus yang artinya ‘untuk menipu’.

Saat ini hoax makin marak kita temui mulai dari situs-situs yang kurang jelas asal usulnya hingga situs berita yang terlihat resmi maupun  stasiun televisi ternama. Hal ini terutama didukung oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat sehingga memudahkan pengguna mengakses info dan berita yang bertebaran. Berdasarkan riset  Kementrian Komunikasi dan Informasi tahun 2016, di Indonesia telah beredar lebih dari 800.000 hoax. Kini hoax  semakin berkembang karena adanya kemudahan dalam mengakses  media sosial dan menyebarkannya melalui akun masing-masing. Berdasarkan survai Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016, pengguna internet di Indonesia  mencapai 55% dari total penduduk atau sejumlah 132 juta jiwa.

Perlu diketahui, ternyata hoax  ada beberapa jenis. Pertama,  hoax proper,  di mana pelaku mengetahui bahwa itu bohong dan menggunakannya untuk menipu. Sebagai contoh dapat kita lihat kasus Ratna Sarumpaet. Kedua,  clickbait atau judul yang heboh tetapi berbeda dengan isinya. Tujuan  clickbait  untuk menarik pembaca, namun hal ini dapat digolongkan sebagai hoax karena pembaca sering kali hanya membaca  judul tanpa membaca isi  informasi tersebut. Banyak berita yang menggunakan clickbait memiliki isi yang benar, namun pengemasan judulnya  cenderung heboh dan provokatif, tidak sesuai dengan isinya. Ketiga, berita benar tapi dalam konsep menyesatkan. Kita pasti pernah melihat berita yang ‘didaur ulang’  yaitu berita lama tapi dikemas seakan-akan berita baru. Berita ini juga dapat menyesatkan pembaca yang tidak mencermati tanggal dan isi  informasi tersebut.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang mahasiswa untuk melawan hoax? Sebelum menuju ke sana kita juga perlu memahami sebab-sebabnya. Hoax ada untuk mempengaruhi masyarakat, untuk menimbulkan rasa takut akan sesuatu dalam hati masyarakat. Saat ini hoax semakin marak karena kita, bangsa Indonesia, sedang berjalan menuju pesta demokrasi terbesar  yaitu pemilu presiden dan wakil presiden. Pemilu  akan dilangsungkan tahun 2019 sehingga hoax ada untuk praktik politik, untuk mempengaruhi masyarakat agar memihak ke salah satu pasangan capres dan cawapres. Tetapi ada satu hal yang tidak dipikirkan  pembuat hoax, yaitu efek   yang bisa menyakiti dan menyusahkan orang yang tidak bersalah baik secara mental dan fisik. Lalu,  apa motivasi seseorang menyebarkan hoax? Ada yang hanya sekedar iseng saja membagikan, ada juga yang karena memang mudah percaya. Juga ada yang ingin dipuji tapi tidak mengetahui bahwa informasi yang disebarkannya itu merupakan hoax. Ada pula yang memang ingin menjatuhkan lawannya baik dalam bidang ekonomi maupun politik.

Kini,  apa yang bisa kita kerjakan? Yang pertama  kita harus memilah mana informasi yang benar dan mana yang merupakan hoax. Jadi tidak asal menyebarkan informasi  tanpa mengetahui asal informasi dan kebenarannya. Pertanyaan yang pasti muncul saat ini adalah bagaimana kita bisa tahu informasi tersebut merupakan hoax atau bukan. Mudah saja, asal kita  rutin membaca berita dari situs-situs yang terpercaya untuk mengetahui perkembangan situasi.  Sebab,  sasaran hoax  adalah pihak-pihak yang jarang mengonsumsi berita. Maka kita  harus membaca informasi  dengan teliti terutama informasi yang terlihat “aneh” atau tidak mungkin.

Sebagai kaum yang dipandang intelek di kalangan masyarakat, mahasiswa bisa mensosialisasikan  bahaya hoax kepada masyarakat serta mencari cara bagaimana  membudayakan literasi media kepada diri sendiri dan masyarakat. Kita harus membaca informasi dengan teliti hingga tuntas, agar tahu apakah informasi itu layak disebarkan ke masyarakat luas atau tidak. Berdasarkan survai seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie di kelas Etika Jurnalistik dan Hukum Media, lebih dari separuh responden (mahasiswa) sering membagikan informasi melalui aplikasi pesan singkat tanpa membaca lebih dahulu. Hanya  sedikit  membaca atau bahkan tidak membaca informasi sama sekali namun membagikannya untuk alasan pergaulan ataupun tanpa ada alasan yang jelas.

Mari bersama-sama kita tangkal hoax untuk Indonesia yang lebih satu. Hidup mahasiswa!

Audrey Eileen Santoso
Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here