Agama dan Media Baru

0
656
Sumber foto; efl.edu

Media baru atau internet membawa nilai baru dalam beragama bagi sebagian masyarakat. Sehingga dengan kehadiran media baru tersebut sebagian orang cenderung mengambil nilai agama melalui media. Sebagai contoh adalah  berkembanganya media online yang menggunakan pendekatan Islam. Media ini menggunakan  content yang menggunakan ajaran Islam. Bahkan seseorang yang ingin mencari referensi Al-Qur’an dan Al-Hadits hanya perlu mengklik sebuah situs online, maka referensi yang dicari akan muncul.

Hampir secara keseluruhan masyarakat mencari sumber hukum agama atau dasar teologi dari media baru (teologi on new media). Kondisi tersebut semakin tampak nyata dengan munculnya internet atau yang disebut dengan media baru (new media). Media baru (internet) juga berfungsi sebagai entitas untuk menyebarkan ajaran agama. Jika dahulu seseorang yang ingin menyebarkan agama harus menempuh dengan jalan kaki, maka sangat berbeda dengan saat ini. Media baru (internet) sudah menyediakan ruang bagi setiap orang, kelompok maupun lembaga yang akan menyebarkan agama. Dengan menggunakan situs online maka seseorang dapat membuat progam penyebaran berupa content keagamaan. Content yang dibuat tersebut menembus batas ruang, waktu dan berbagai kalangan.

Sebagai contoh dapat kita lihat pada penggunan media online atau youtube dalam menyebarkan berbagai video dakwah Islam. Jika  zaman dahulu, ceramah atau dakwah dilakukan dengan ceramah dari mimbar ke mimbar, maka sekarang cara tersebut dianggap tidak efektif lagi. Penyebaran dakwah dan agama Islam dianggap lebih efektif dengan memanfaatkan media baru atau internet. Selain itu, hasilnya dapat dilihat oleh orang lain dengan jumlah yang tidak terbatas. Penyebaran dakwah melalui internet ini tidak dibatasi oleh ruang dan jarak, bahkan dalam hitungan detik dapat dijangkau. Hal tersebut menunjukkan bahwa agama dan media memiliki hubungan yang sangat signifikan.

Dakwah sebagai media pembentuk kepribadian (self personality) dan perilaku (attitude) umat harus dihadirkan dengan strategi yang berhaluan kepada pengembangan keberagamaan (religiosity) yang progresif. Progresivitas dakwah mustahil diwujudkan tanpa dukungan media dan strategi dakwah yang kompeten. Seiring dengan munculnya ragam media dan strategi dakwah, eksistensi jurnalistik hadir sebagai salah satu media komunikasi produktif. Di samping strategi dakwah yang telah umum diterima akal sehat, kehadiran jurnalistik menjadi media kontemporer yang dapat menyeimbangi perkembangan zaman (globalization) yang semakin pesat. Kehadiran media jurnalistik dalam dinamika kehidupan manusia menjadi fakta yang tidak terelakkan. Televisi dan media teknologi informasi lainnya jelas memainkan peran penting dalam memfasilitasi kegiatan keagamaan di Indonesia (Philip Lee, 2012).

Media dan agama memang memiliki relevansi yang cukup siginifikan. Namun, media tetap tidak dapat dijadikan sebagai agama apapun. Media hanya dapat dijadikan saluran. Praktik keagamaan harus dikembalikan pada kitab suci yang dimiliki oleh agama tersebut. Sehingga, agama bukan merupakan produk budaya media. Agama dan media memiliki hubungan timbal balik dalam setiap sejarah kehidupan manusia.

Budaya media, dengan segala konsekuensi pengaruh baik dan buruk yang ditimbulkan, merupakan suatu pengaruh atau efek dari media itu sendiri. Sebab dalam dunia modern, arus informasi yang bertebaran di sekitar kita hanya membawa dua pilihan, ambil atau tinggalkan. Bahkan pada tahapan paling ekstrim, rutinitas keagamaan bisa terganggu oleh derasnya arus informasi yang dihasilkan oleh budaya media. Peran agama yang sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta (Waid, 2017). Ada ketergantungan yang nyata, antara kebutuhan terhadap informasi dengan pengaruh yang timbul akibat kecemasan terhadap media. Dalam kehidupan beragama, mau tidak mau atau suka tidak suka harus menyesuaikan diri dalam menyikapi terjadinya perubahan yang cepat dalam perkembangan arus informasi yang terjadi pada budaya media. Sebab, bersikap menghindar hanya akan membuat kualitas manusia beragama tertinggal dalam segala hal.

Siti Mupida

Konsentrasi Kajian Komunikasi Masyarakat Islam
Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here