Komodifikasi Hijrah Generasi Milenial

0
1230
Sumber foto: rawpixel.com

Agama dipahami sebagai suatu ajaran dan ritual dengan wujud simbol yang dapat diterima oleh sosial budaya masyarakat. Proses kontekstualisasi pesan keagamaan membuat gerakan ini menjadi lebih bersifat dinamis dari waktu ke waktu. Kehadiran relasi antar keduanya menjadikan agama sebagai satu-satunya pedoman hidup masyarakat Indonesia. Keragaman penafsiran terhadap teks membuat isu-isu agama menjadi sangat sensitif, tak terkecuali ketika agama telah mengalami pergeseran dari nyata menuju maya. Berbagai dimensi kehidupan mengalami redefinisi dan diferensiasi yang terjadi secara meluas dengan menunjukkan sifat relatif suatu praktik sosial.

 

Religiusitas dalam industri media massa mengalami proses penyederhanaan simbolik. Kajian-kajian diatas mimbar kini beralih pada dunia maya dengan tujuan semua kalangan dapat menikmatinya. Simbol-simbol penggunaan hijab syar’i yang banyak digandrungi oleh perempuan khususnya generasi milenial, telah menjadi simbol komodifikasi ketaatan terhadap suatu kebudayaan tertentu. Kendati demikian, simbol bukan menjadi satu-satunya representasi atas religiusitas itu sendiri, akan tetapi ia merupakan tanda atas seperangkat simbol yang dapat menimbulkan perspektif lain dari sebuah agama. Saat perempuan menggunakan hijab syar’i maka ia terkesan menjadi perempuan yang sholehah. Kualitas ketakwaan seseorang ditentukan oleh busana yang dipakai. Identitas ketakwaan individu dalam agama ditentukan oleh komoditas iklan itu sendiri.

Pola pikir hijrah menjadi suatu yang mudah dan spele dengan beramai-ramai menggunakan simbol hijab syar’i, berpakaian panjang, bahkan bercadar. Masyarakat semakin menganggap agama sebagai simbolik-ritualis. Ketakwaan seseorang diukur dari busana dan apa yang terlihat dari luar. Media sosial telah mengajarkan masyarakat, bahwa takwa itu instan, cukup dengan menampilkan simbol-simbol agama dan berguru pada media sosial yang tak jarang sumbernya tidak diketahui. Media bukan hanya menjadi sebuah tontonan melainkan telah menjadi tuntunan. Jika diamati, kampanye hijrah paling masif dilakukan di media sosial. Berhijrah membutuhkan biaya yang besar dan tak sedikit untuk merubah penampilan seseorang (khususnya perempuan). Alasan inilah hijrah populer di kalangan generasi milenial kelas menengah ke atas dan tidak populer di kalangan kelas bawah. Gerakan-gerakan ini terorganisir dengan baik, dengan basis massa yang kuat dari bawah dan sistem terpusat.

Kehadiran agama ditengah caruk maruknya media, memberikan kontribusi dan angin segar kepada industri kapital dengan menjadikannya sebagai bagian dari komoditas itu sendiri. Media massa menyuguhi sebuah format hiburan baru untuk menarik khalayak kepada arah spiritual yang bersifat kapitalis. Merebaknya konten keagamaan di media sosial merupakan sebuah konsekuensi logis dari persaingan yang berlangsung antara ustadz-ustadz kondang masa kini dengan memberikan wacana keagamaan yang sifatnya dapat diterima oleh generasi milenial. Kesakralitasan agama yang masuk dalam industri media massa menjadikan kaum akademisi banyak meneliti relasi antara agama dan media.

Adanya publikasi pesan keagamaan dan kontribusi media melibatkan aktor-aktor pop, ustadz, bahkan kyai menjadi fenomena komersialisasi yang tak dapat dielakkan dengan menjadikannya sebuah pemenuhan kebutuhan terhadap spiritualitas dunia maya. Media sosial menjadi bagian baru dalam menyampaikan ajaran keagamaan yang bersifat praktis. Maraknya pesan spiritual bukan dibangun untuk kepentingan umat jangka panjang, namun tidak lain dari kejelian para kapital menangkap selera pasar. Pada saat permintaan konsumen akan kajian keagamaan media sosial meningkat, pada saat itu pulalah produksi konten religiotainment menjadi pilihan.

Belakangan ini, kampanye hijrah tengah mewarnai sosial media kita dengan target sasaran yaitu generasi milenial. Akun instagram @pemudahijrah misalnya telah memiliki 1,7 juta followers dan 380 postingan yang dimuat. Akun perseorangan lain juga dimiliki oleh Ustadz Salim A. Fillah pemilik toko buku Pro-U Media di Yogyakarta. Ia juga merupakan seorang penulis buku, dan mempunyai beragam produk busana muslim dengan brand Full Heart Corp. Tak hanya memanfaatkan sosial media instagram, Ustadz Salim A Fillah ini juga memanfaatkan Youtube Channel serta Web sebagai media dakwahnya. Akun-akun instagram ini tidak hanya menyebarkan pesan-pesan keagamaan yang sifatnya tekstual, namun ia juga meraup keuntungan dengan beriklan dan menciptakan sebuah produk baru sebagai suatu identitas bagi para pengikutnya.

Kampanye-kampanye semacam ini mendapat banyak respon dari kalangan para selebriti yang sekaligus menjadi aktor hijrah itu sendiri. Kehidupan rumah tangga dan keterpurukan karir para selebriti menjadi jalan untuk membuat keputusan beralihnya kehidupan selebriti menuju proses hijrah yang disimbolkan dengan penggunaan busana muslimah. Tak jarang setelah berhijrah, banyak dari mereka yang mendeklarasikan dirinya di akun sosial medianya sendiri. Kartika Putri misalnya, sosok artis yang terkenal dengan keseksiannya memutuskan untuk berhijrah pada awal 2018 februari lalu. Kartika Putri secara langsung membeberkan pengalaman spiritualnya tentang perjalanan hijrahnya di beberapa media cetak dan online.

Fenomena hijrah artis ini, dilirik oleh banyak industri busana muslimah untuk beriklan di media sosial yang biasa disebut endorse. Foto dan caption di intagrampun penuh dengan kata-kata islami dengan banyak membagikan pengalaman religiusitasnya kepada khalayak. Tak jarang banyak netizen mengomentari pro kontra hijrahnya Kartika Putri di kolom komentar akun instagramnya. @lestari_5045 misalnya dengan komentarnya yang mengatakan “maaf ya kak kakak boleh ajah pakek niqab tapi jangan pakek lensa dong kak.” Ekspose prilaku artis di media sosial ini sebenarnya tengah menyampaikan pesan dan identitas dirinya bahwa artis-artis ini tengah merepresentasikan religiusitas ketakwaannya.

Bagi Marx kesan kita akan siapa diri kita adalah hasil dari hubungan kita dengan produksi, dan oleh sebab itu dalam masyarakat kapitalis hubungan kita dengan produksi distrukturkan oleh hubungan kekuasaan antar kelas sosial yang tidak setara. Pelemahan identitas kelas diakibatkan karena banyak orang yang memandang diri mereka sendiri dalam hubungannya dengan apa yang mereka konsumsi dan bukan dalam hubungan dengan produksi. Kesadaran kelas menjadi penggerak munculnya resistensi dalam masyarakat.

Fenomena ini menimbulkan bagian baru budaya konsumsi pada level agama dengan melihat keuntungan pasar. Tak jarang, banyak akun instagram online shop bertebaran dengan memproduksi dan menjual fashion muslimah dengan tampilan trendy yang berubah dari waktu ke waktu. Kajian keagamaan dikemas sedemikian rupa dengan bahasa dan selera ala generasi milenial. Fenomena ini memunculkan adanya ustadz-ustadz dadakan dengan bermodalkan gaya bicara santai kekinian tanpa latar belakang ilmu pesantren dan keagamaan yang jelas. Tak hanya itu, pernikahan dini pun menjadi sebuah pesan terselubung ditengah semaraknya kampanye hijrah yang digandrungi oleh para ustadz dan akun media sosial kita hari ini. Tak jarang, aktor-aktor baru ini dengan mudahnya mengkafir-kafirkan seseorang dengan merasa dirinya paling benar.

Dengan tingkat literasi masyarakat yang rendah, masyarakat melupakan sisi performatif Al-Qur’an yang terus menerus mengalami proses transmisi dan transformasi dari masa ke masa. Ustadz-ustadz dadakan ini menampilkan agama secara instan. Informasi teks keagamaan ditafsirkan dengan sangat sempit dan kaku. Akibatnya banyak penafsir teks agama abal-abal menjadikannya sebagai sebuah praktik komoditas. Alhasil, pemaknaan hijrahpun mengalami proses komodifikasi di kalangan generasi milenial.

Khefti Al Mawalia

Mahasiswa S2 Media Komunikasi
Universitas Airlangga Surabaya