Waspadai Hoaks sebagai Alat Kampanye Politik

0
425
Sumber foto: techyv.com

Internet dan media sosial merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mereka saling terkait satu sama lain pada era milenieal ini. Umumnya bagi masyarakat Indonesia sudah bukan lagi sesuatu yang baru ataupun asing, sebab secara keseluruhan masyarakat sudah mengenal dan mengetahui apa itu internet. Kebanyakan  masyarakat memiliki dan menggunakan media sosial, dan yang menjadi favoritnya adalah Facebook dan Twitter. Survei Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) bekerjama dengan Teknopreuner Indonesia menyatakan  bahwa, 89.4% masyarakat telah menggunakan internet untuk mengakses aplikasi percakapan. Selain itu, 87% pengguna memanfaatkan internet untuk mengakses sosial media seperti facebook, twitter dan instagram. (m.katadata.co.id). Hal ini menunjukkan bahwa keterkaitan yang dimiliki internet dengan media sosial sangatlah besar dan tentu juga memiliki pengaruh  begitu luas dalam penyebarluasan informasi dan berita yang pada akhirnya menimbulkan beragam reaksi.

Menurut KBBI, hoaks mengandung makna berita bohong, berita yang tidak bersumber  (kbbionline.com). Menteri Komunikasi dan Informatika pernah mengungkapkan bahwa hoaks dan media sosial adalah dua kategori yang saling terikat,  didasarkan dengan adanya undang-undang yang mengaturnya. Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik  menyebutkan, pertama berita bohong dan yang kedua adalah berita yang disebarkan, serta mampu menimbulkan kebencian atau permusuhan individu dan kelompok. Beberapa hal tersebut telah diatur dalam UU ITE pasal 28, khususnya ayat 2.  Oleh karena hal itu media sosial  telah menjadi salah satu media yang digunakan sebagai  sumber informasi dan berita.  Lewat media sosial inilah, berbagai hal yang tekait dengan politik dapat dengan mudah diakses dan dimiliki  masyarakat dari kalangan umum hingga  anak muda, generasi milenal.

Media sosial  memiliki beberapa manfaat dan kerugian. Sampai saat ini secara umum media sosial sudah sangat bermanfaat dan memiliki dampak positif sebagai sumber informasi yang cepat sekaligus juga menjadi alat kampanye dan pembelajaran politik yang murah dan efektif. Tetapi tidak jarang juga kita menemukan media sosial yang berisi  berbagai konten hoax dan cenderung mengarah kepada hal yang negatif dengan menbawa isu dan provokasi politik serta membentuk opini publik. Menurut CNN, setidaknya ada delapan ratus ribu situs penyebar hoax tumbuh subur di Indonesia. Tidak hanya itu, di dalam media sosial tidak ada batasan yang jelas, sehingga dengan mudah tingkat kepercayaan masyarakat  mengenai sebuah berita  semakin meningkat, mempercayai mentah-mentah. Selain dapat mengakses berita melalui media sosial, masyarakat Indonesia juga dapat dengan mudah ikut serta mengomentari isi konten   media sosial. Dan seringkali hoax mengandung provokasi yang di dalamnya banyak ditemui kata-kata kasar yang menjurus terhadap etnis, agama, budaya, ataupun instansi tertentu.

Hoaks di media sosial saat ini cenderung mengarah kepada isu yang terkait dengan  politik sekaligus juga menjadi bagian dari alat kampanye politik. Kita lihat saja dengan isu yang sedang ramai dibahas dalam berbagi media sosial dan juga berita saat ini tentang hoaks dari  Ratna Sarumpaet. Ia merupakan aktor seni Indonesia yang memiliki latar belakang sangat banyak menggeluti dunia pangunng teater selain sebagai aktivis organisasi sosial. Ia terkenal juga lewat pementasan monolog Mursinah Menggugat yang banyak dicekal disejumlah daerah pada era administrasi Orde Baru. (liputan6.com).

Uraian di atas merupakan sedikit gambaran atau profil dari seorang Ratna Sarumpaet yang sekarang tengah menjadi topik pembicaraan di berbagai media sosial kaena berita hoaks yang  disampaikannya. Sebelum kasus hoaksnya menjadi topik pembicaraan,  telah banyak hoaks yang  kita temui. Sayangnya berita hoaks tersebut tidak menjadi topik utama dalam masyarakat. Mengapa demikian? Hal itu dikarenakan pelaku hoaks itu adalah orang biasa ataupun masyarakat yang tidak memiliki kaitan dengan politik tertentu. Sedangkan saat ini tahun 2018, menjelang pilpres 2019 merupakan tahun politik, yang sangat rentan terhadap berbagai isu, dan Ratna Sarumpaet memiliki keterkaitan politik ini.

Beberapa pihak terkait langsung dengan penyebaran berita hoaks Ratna Sarumpaet, salah satunya adalah  Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada pilpress 2019. Penyebaran hoaks Ratna secara tidak langsung menggiring opini publik dan merupakan bentuk  kampanye politik yang dilakukan  golongan dan pihak-pihak politik di dalamnya. Di tengah  marak dan beragam kasus hoaks di  masyarakat,  hoaks dari  Ratna Sarumapet adalah  topik pembicaraan utama dan terpopuler  dalam dunia politik.

Indonesia yang merupakan sebuah negara demokrasi  di mana siapapun dengan bebas dapat menyampaikan pendapat melalui berbagai media sosial dan media lainya. Oleh karenanya kasus Ratna  merupakan  kasus hoaks ataupun berita bohong  yang menjadi model baru dalam politik. Kasus ini dapat disebut sebagai salah satu alat kampanye politik dengan model yang baru.

Dalam persspektif komunikasi politik kita ketahui  bahwa segala sesuatu yang berbentuk penyebarluasan informasi harus memiliki sumber dan tujuan tertetu.  Terjadinya hoaks ini merupakan bagian dari komunikasi politik yang mengarah pada sebuah kebohongan politik. Penyebarannya  cenderung membangun dan menggerakkan para pelaku politik untuk ikut serta dalam memobilisasi dukungan. Hal ini dilakukan dengan begitu mudahnya tanpa memverifikasi  kebenarannya.

Kita sebagai pengguna aktif media sosial sudah seharusnya lebih cerdas dan bijak  membagikan berbagai konten yang dianggap rentan dan merupakan  hoaks.  Sudah seharusnya kita peduli dan memiliki keingintahuan yang lebih terkait dengan sumber berita. Segera mencari dan memverifikasinya. Usahakan  membandingkan sumber informasi yang diterima dengan sumber yang lain. Jangan  mudah ikut serta menyebarluaskan berita jika dirasa tidak benar. Melaporkan kepada  pihak yang terkait dapat menjadi salah satu langkah  efektif  menanggulangi berbagai penyebaran  hoaks  di masyarakat.

 

Putik Dian Larasati

Mahasiswi Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here