Ratna Sarumpaet Pembuka Tabir Wajah Politik

0
415
Sumber : Twitter/Fadli Zon

Pengalaman soal politik saya temukan kembali dari media sosial WhatsApp. Malam itu saya melihat WA story salah satu teman saya yang notabene dia adalah penggemar Rio Dewantara. Dalam story tersebut tampak screnshootan pembicaraannya dengan teman saya yang satunya. Pembicaraan tersebut soal Ratna Sarumpaet yang tidak lain adalah ibu mertua dari Rio Dewantara. Nama keduanya begitu asing, sehingga saat itu saya tidak menggubrisnya. Keesokan harinya dari story WA teman saya yang lain muncul satu alamat web dengan judul Kebohongan Ratna Sarumpaet dan Empat Faktor Psikologis yang Melatarbelakanginya ditulis oleh Ahmad Saifuddin pada 4 Oktober 2018 (www.islami.co.id).

Saya sempat terkejut ketika membacanya, dan ternyata sederatan tulisan lainnya muncul. Tulisan-tulisan dengan pembahasan yang sama, soal Ratna Sarumpaet. Jika Ahmad Saifuddin mencoba menilik kasus Ratna dari motif psikologis, berbeda dengan Ahmad M Firdausi yang melihat kasus Ratna ini dari segi taktik. Artikel Firdausi diunggah pada tanggal 6 Oktober 2018 ini berjudul Kasus Ratna Sarumpaet dan Teknik Firehose of Falsehood, pasalnya taktik ini pernah digunakan oleh Donal Trump yang ampuh membuatnya berhasil terpilih sebagai presiden Amerika di tahun 2016. Ada kemungkinan Ratna meniru taktik ini, agar capres-cawapres yang dia kampanyekan menang dalam pemilu 2019 nanti.

Sebagai seorang yang awam akan dunia politik, saya menyimpan berbagai pertanyaan. Apakah yang dilakukan Ratna ini adalah taktik dalam menggiring massa di pilpres 2019 nanti? Apakah hoaks ini murni “ide kreatif” dilakukan oleh Sarumpaet atau memang telah menjadi sandiwara bersama? Dan yang sangat disayangkan kenapa aktor-aktor politik ternama seperti Amien Rais dan bahkan Prabowo sendiri pun tertipu.

Empati Demi Menarik Simpati

Mengapa sikap empati menghilangkan sikap kritis? Sudah menjadi hal yang lumrah apabila orang-orang terdekat kita disakiti maka kita akan ikut merasakannya (empati). Akan tetapi dalam hal ini sebenarnya kita perlu jeli, agar tidak salah dalam meletakkan rasa empati. Ini berarti kita pun perlu tahu mengapa sampai ada pihak yang menyakiti, meskipun itu orang terdekat kita bukan berarti kita dengan serta merta dapat membelanya. Bagaimana jika orang yang kita bela tersebut memang yang bersalah?

Berempati untuk mengambil simpati agaknya menjadi “bumbu” kampanye yang cukup “gurih.” Merasa juru kampanyenya dianiaya tentu Prabowo bergerak cepat untuk mengusut kasus ini. Kesempatan yang sangat bagus untuk mengambil simpati massa. Terlebih sang jurkam (juru kampanye) mengaku dianiaya dari pihak lawan. Media memang menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan berita. Maka Ratna pun sangat cerdas dalam bermain drama. Setelah itu dengan mudahnya mengaku bahwa dia berbohong, menyatakan diri khilaf. Ternyata dunia politik sedang membuat “lelucon” menjelang kampanye pilpres 2019.

Kini keberadaan media menjadi semakin bias, awalnya masyarakat tidak boleh serta merta percaya dengan media massa. Alasannya media massa banyak rekayasa, dan dewasa ini seorang tokoh politik lebih cerdas membuat rekayasa. Sekarang muncul pertanyaan, mana manipulasi media dan mana yang benar-benar dapat dipercaya. Sandiwara Ratna Sarumpaet tidak tanggung-tanggung, buktinya dia mampu mengelabuhi capres-cawapres dan deretan aktor politik ternama lainnya (Amien Rais, Fadli Zon dan Fahri Hamzah). Wajah politik kini semakin nampak, tujuannya bukan lagi soal kesejahteraan rakyat tetapi perebutan kekuasaan. Buktinya operasi plastik lebih diutamakan, dan lagi baru menjelang kampanye saja sudah bermodal hoaks.

Cerdas Akal, Cerdas Berpolitik

Kita mungkin patut “berterima kasih” kepada Ratna Sarumpaet, dia telah menunjukkan aktivitas politik di negeri kita ini agaknya tidak sehat dan kurang cerdas. Jika Prabowo menyatakan bahwa menganiaya pihak lawan adalah perbuatan pecundang, maka sekarang kita bisa tahu mana yang lebih pecundang. PR kita sekarang adalah menjadi pribadi yang kritis. Jiwa kritis bisa dimiliki oleh siapapun, tidak hanya milik orang-orang berpendidikan tinggi. Toh pada kenyataannya mereka yang berpendidikan tinggi tertipu dengan hoaks.

Masyarakat awam kemungkinan akan menjadi semakin bingung, jika sesama capre-cawapres kita bersaing secara tidak sehat. Saling menyebar isu, membuat hoaks, atau menuduh satu sama lain. Jika masyarakat sudah bingung, tidak menutup kemungkinan mereka akan lebih memilih menjadi golongan putih (golput) dalam pemilu 2019 nanti. Perbedaan adalah hal yang manusiawi, tetapi apa salahnya jika bersaing secara fair. Paling penting sekarang hendaknya kita lebih cerdas dan kritis untuk menghadapi kampanye pemilu 2019.  Tujuannya agar kita tidak terjebak hoaks dari sandiwara para aktivis politik.

Claudia Tevy Wulandari

Mahasiswi Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here