Supervisi Kreatif di Kelas

0
808
Foto: Pexels.com

Supervisi menurut Suhertian merupakan usaha memberikan layanan dan bantuan kepada guru-guru demi memperbaiki pengajaran. Senada dengan Suhertian, Soewadji berpandangan supervisi merupakan rangsangan, bantuan yang diberikan agar kemampuan guru semakin profesional dan berkembang sehingga kegiatan pembelajaran berlangsung efektif dan efisien.

Namun acap kali kegiatan supervisi justru menjadikan beban bagi guru, merasa diawasi dan seperti tidak lepas mengajarnya. Prinsip memberi bantuan justru diartikan mengawasi. Jika tidak benar akan mendapat penilaian yang buruk, sehingga terkadang hasil supervisi menjadi anti klimaks.

Baik guru kelas maupun supervisor tentu berharap proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan panduan serta harapan dari supervisi itu sendiri. Yang menjadi masalah, bagaimana agar proses yang baik tersebut tidak hanya terjadi saat dilakukan supervisi saja?

Hal lainnya, supervisi guru di kelas sering tidak melibatkan peserta didik, sehingga siswa kadang bingung, mengapa gurunya jadi berubah baik, misalnya. Dalam diri siswa tidak terbangun sebuah kebiasaan baik dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Baik dan menyenangkan hanya berlangsung sehari sua hari, setelahnya kembali membosankan bagi siswa.

Tiga persoalan di atas kemudian menggugah ide dan gagasan kreatif bagaimana mengatasi masalah tersebut? Muncul sebuah kegiatan sebagai alternatif pelaksanaan supervisi di kelas, disebut dengan “supervisi kreatif”. Dengan supervisi kreatif ini diharapkan tidak menjadi beban guru, kelas yang baik tidak hanya saat disupervisi, dan seluruh warga kelas terlibat.

Dalam supervisi kreatif peran guru lebih besar dibanding supervisor dalam hal perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan yang ada. Peran supervisor hanya membina dan mendorong guru (fasilitator). Sebagai fasilitator, supervisor menciptakan situasi yang dapat meningkatkan kreativitas guru. Hal-hal yang baru hanya mungkin terjadi berkat adanya kreativitas yang tinggi. Daya kreativitas hanya muncul dalam situasi di mana orang merasa aman untuk mencoba hal-hal yang baru, dengan resiko akan membuat kesalahan-kesalahan.

Supervisi kreatif yang dimaksud berupa kegiatan penilaian kelas inspiratif. Di mana tidak hanya guru yang tampil aktif dan kreatif dalam mengelola kelas, tapi juga melibatkan peserta didik untuk membuat format atau layout kelas semenarik mungkin. Dalam prosesnya, ada kesepakatan bersama antara guru dengan peserta didik, seperti membuat visi misi kelas, golden rules, kontrak belajar, metode belajar, layout, dan sebagainya.

Terjalinnya kolaborasi peserta didik dengan guru menumbuhkan rasa memiliki warga kelas terhadap kelasnya sendiri, terbangun hubungan yang lebih komunikatif dan terbuka. Dengan begitu, diharapkan guru akan lebih mudah dalam menyampaikan materi pelajaran, siswa juga selalu lebih semangat dan tidak merasa bosan berada di kelasnya. Apalagi jika kelas mereka akan dinilai bersama kelas-kelas lainnya.

Bagi kelas yang dinilai baik akan mendapat apresiasi dari kepala sekolah (supervisor) setiap minggunya. Apresiasi atau penghargaan tersebut menjadi suatu yang bernilai bagi guru kelas dan siswanya. Bagi yang belum mendapatkan apresiasi akan terus berupaya menperbaiki diri atau bahkan jika perlu mencontoh kelas yang sudah dinilai baik.

Dengan demikian, adanya supervisi tidak lagi menjadi beban bagi guru, tapi justru sesuatu yang ditunggu-tunggu juga oleh peserta didik. Meskipun tujuan akhir dari supervisi adalah hasil belajar siswa, namun yang diutamakan dalam supervisi adalah bantuan kepada guru terutama dalam mengelola kelas. Suasana kelas dapat berkorelasi langsung terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

Ailis Safitri, SH
Magister Manajemen Pendidikan
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here