Menjadikan Mahasiswa Sebagai Agen Pencerah Bangsa

0
941
Foto: SwaraKampus.com/BAS

Salah satu harapan dari Pelatihan Literasi Media Sosial kerjasama antara SwaraKampus.com bersama Menkominfo dan Pasca Sarjana UAJY ini adalah menjadiian mahasiswa sebagai agen literasi yang cerdas. Hal ini disampaikan Waji Cahyaningrum perwakilan dari Menkominfo, di hari kedua pelatihan di Ballroom, Hotel Neo Awana, Yogyakara, Sabtu (22/9).

“Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang merupakan pemegang tongkat estafet. Mahasiswa juga kaum muda yang produktif, untuk itu jangan pernah berputus asa dan pantang menyerah, terutama menjadi agen pencerah masyarakat serta memerangi berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” pesan Aji.

Dalam kerangka tersebut, mahasiswa peserta memperoleh pembekalan pengetahuan berkait dengan literasi media sosial. Di hari pertama dipaparkan banyak informasi apa dan bagaimana hoax di medsos dan bagaimana memeranginya oleh Tim Kominfo. Dilanjutkan diskripsi perubahan global akibat revolusi industri 4.0, oleh M. Nur Rizal, PhD (dosen FT UGM).

Rizal menyampaikan betapa pentingnya kaum muda menyadari perubahan teknologi yang drastis tersebut, dan bagaimana kemudian mahasiswa bersikap dengan positif dan produktif (critical thinking), “Rugi jika mahasiswa hanya sibuk saling cela, mencari kesalahan orang lain dan apalagi memproduksi serta menyebarkan hoax. Tidak ada untungnya sama sekali. Mahasiswa akan terjebak dalam disrupsi itu sendiri,” terang Rizal.

Dilanjutkan oleh Bambang Arianto, MA yang menyampaikan betapa medsos saat ini dijadikan arena atau media penyebaran hoax. Berikut Lukas Ispandriarno menambahkan pengetahuan mahasiswa akan sejarah lembaga penyiaran publik serta kode etik jurnalistik, “Kaum muda perlu memahami histori bagaimana perjuangan media sebagai salah satu pilar demokrasi di Indonesia,” tutur Lukas.

Foto: SwaraKampus.com/BAS

Pengetahuan akan kemediaan dilanjutkan dengan praktik bagaimana menulis membuat berita maupun opini. Meski medsos adalah media publik yang dapat dikatakan lebih terbuka dan bebas, namun hendaknya tetaplah mengindahkan kaedah-kaedah jurnalistik sehingga masyarakat bisa lebih cerdas dan bisa membedakan mana tulisan yang baik dan benar dan mana yang tidak.

Praktik penulisan ini secara berturut disampaikan oleh Agus Widhartono (konsultan media), Agung Wibawanto (wapemred Swara Kampus online) dan Krisno Wibowo (pemred SwaraKampus.com). Peserta mendapat bekal bagaimana menulis berita, opini serta membuat perencanaan berita.

“Kemampuan atau keterampilan menulis bagi mahasiswa juga penting selain pengetahuannya itu sendiri. Kami membuka kesempatan kepada mahasiswa peserta untuk belajar ataupun memperdalam kompetensi mereka dalam menulis,” ungkap Krisno.

Tantangan dan kesempatan yang disampaikan Krisno mendapat respon positif dari mahasiswa. Hal ini terlontar dari salah satu peserta ketika diminta menyampaikan kesannya selama mengikuti pelatihan, “Saya mendapat banyak pengetahuan, pengalaman serta praktik langsung bagaimana merencanakan berita. Semoga pelatihan ini dapat dilakukan berkala untuk mahasiswa lainnya. Dan kesempatan berkarya langsung tidak sekadar wacana,” harap Alina dari Undip.

Selain padatnya materi yang diterima peserta selama dua hari pelatihan, mereka juga diajak untuk saling berinteraksi melalui game-game yang dilakukan disela-sela materi, “Senang sekali. Dinamika kelas pelatihan terbangun, kami juga bisa saling mengenal. Dan pastinya suasana jadi cair, tidak stress ataupun ngantuk. Acara dua hari tidak terasa dan rasanya kurang,” ujar Josef mahasiswa Teknik asal Papua.

Di akhir seluruh rangkaian acara, suasana pelatihan berubah menjadi haru. Diawali oleh MC yang dipandu Fetty Kartini dan Relisa Wahyu Ningrum, meminta seluruh peserta menyanyikan lagu Kemesraan dan dipimpin oleh Tim Kominfo, Waji Cahyaningrum dan Riski Lystiono. Seluruh peserta dan panitia lebur bernyanyi lagu yang memang sudah populer itu.

Foto: SwaraKampus.com/BAS

Seluruh panitia kemudian menuju ke peserta dan mulai menyalami satu-persatu sebagai simbol perpisahan sementara serta untuk memberi semangat agar peserta bisa berbuat banyak dari hasil pelatihan tersebut. Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan. Namun perpisahan ini justru sebagai awal perjuangan, untuk merubah Indonesia lebih baik. (Awib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here