Tren Belajar Online Terkendala Akses Internet

0
346
Sumber foto: youth-time.eu

Mengikuti perkembangan teknologi di era disrupsi ini, metode belajar online menjadi sebuah tren baru yang banyak peminatnya di Indonesia. Meski demikian Indonesia masih dihadapkan pada belum meratanya akses internet di setiap wilayah.

Hal ini diungkap Pandu Baghaskoro, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dalam keterangan persnya, Kamis, (2/8). Menurutnya, pembelajaran online idealnya harus juga bisa sampai kepada mereka yang tinggal jauh dari kota besar.

“Pendidikan online di Indonesia akan terus bertumbuh seiring dengan keterbukaan jalur akses internet nasional. Nah, inilah yang menurut saya merupakan tantangan utama industri online, bukan hanya pendidikan online di Indonesia,” jelasnya.

Ia menuturkan, meski saat ini negara lain sudah memiliki jaringan dengan kecepatan tinggi (4G LTE), masih banyak wilayah Indonesia yang belum memiliki kecepatan jaringan tersebut. Bahkan masih ada wilayah Indonesia yang belum mendapatkan akses internet. Kalaupun ada, biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk akses internet masih tinggi.

“Menyediakan koneksi internet yang mumpuni di seluruh wilayah Indonesia bukanlah hal yang murah. Indonesia adalah negara kepulauan, sehingga untuk membangun infrastruktur jaringan internet bukanlah persoalan yang mudah dan murah,” ungkap Pandu.

Hal tersebut karena biaya yang diperlukan untuk membangun infrastruktur dari pulau ke pulau, melalui lautan, memerlukan biaya yang jauh lebih mahal daripada membangun infrastruktur di daratan. Sementara itu koneksi internet, pembelajaran online juga masih menghadapi tantangan lain, yaitu keraguan dari masyarakat mengenai kualitas, termasuk legalisasi metode belajar semacam ini.

Hambatan-hambatan semacam ini menurut Pandu, sudah seharusnya diselesaikan agar tujuan dari metode pembelajaran online bisa efektif dan tepat sasaran. Selain itu CIPS sudah meluncurkan sistem pembelajaran online yang dinamakan Akademi CIPS.

Sumber foto: dailygenius.com

Akademi CIPS meluncurkan pembelajaran perdananya pada Juni 2017 dengan topik perdagangan pangan. Selama empat minggu pembelajaran, peserta akan mendapatkan beberapa sub topik, di antaranya adalah situasi pertanian Indonesia, harga pangan dan kesejahteraan petani.

Kepala Departemen Ekonomi Yose Rizal Damuri dan mantan Kepala LPEM FE UI Arianto Patunru adalah dua dari beberapa orang yang menjadi pemberi materi dalam pembelajaran ini. Hingga saat ini, tercatat jumlah peserta sudah mencapai 2.000 orang. Saat ini topik yang sudah dikembangkan dalam Akademi CIPS juga bertambah, yaitu Faith and Modern Indonesia dan Public Speaking. (Awib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here