Kagama Virtual Writing Helat Kelas Menulis Perdana

0
569
Foto: Istimewa

Belajar menulis tidak mengenal batas usia. Demikian yang tergambar dalam kelas menulis yang dihelat oleh Kagama Virtual Writing, Sabtu (7/7). Bertempat di Ruang Multimedia 2 Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebanyak empat puluh orang peserta alumni dari berbagai fakultas dan angkatan mengikuti Kelas Menulis kali perdana tersebut.

Sebagai pemateri pertama, Wahyu W. Basjir secara luas menyampaikan seluk-beluk menulis. Berlatar belakang pengalaman sebagai jurnalis, Wahyu memaparkan jenis-jenis tulisan beserta contoh-contohnya. Menurut Wahyu, tulisan terbagi dalam beberapa model, yaitu deskripsi, eksposisi, narasi, argumentasi, dan persuasi. Masing-masing memiliki daya pikat tersendiri dan harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh tulisan.

Dalam kelas menulis yang berlangsung serius namun santai ini, peserta dapat saling berinteraksi langsung antar sesama peserta. Eviana, salah satu peserta, membahas tentang tulisan sains ilmiah yang sesuai dengan segmen pembaca usia anak. Sementara Dian Nirmalasari menanyakan contoh tulisan argumentatif. Peserta lain, Etyastari Soeharto bertanya tentang tips penulisan buku agama agar lebih renyah dikunyah oleh pembaca.

Foto: Istimewa

Usai break istirahat, materi dilanjutkan kembali. Kali ini giliran Agung Wibawanto atau biasa disapa Awib, mengajak peserta untuk mengenal seputar dunia jurnalistik. Awib memulai materinya dengan sebuah pertanyaan, mengapa menulis? “Menulis hanyalah salah satu dari sekian banyak alat komunikasi lainnya. Esensi dari komunikasi sendiri adalah menyampaikan pesan,” tuturnya.

Menurut Awib lagi, agar tulisan dapat dimuat di media, maka penulis harus peka terhadap isu-isu aktual dan faktual yang tengah terjadi di masyarakat. Namun begitu, ia mengingatkan agar selalu menyesuaikan antara konten dengan konteksnya, “Seperti berbicara, biasanya kita melihat dulu tempatnya di mana? Menulis di media resmi tentu berbeda dengan di medsos,” pesannya.

Selain itu, Awib yang kini mengelola SwaraKampus.com juga banyak memberi motivasi kepada peserta untuk menulis. Baginya menulis ibarat orang belajar naik sepeda atau berenang, “Percuma mempelajari banyak teori tapi tidak pernah mencobanya sama sekali. Ini bukan soal jelek atau buruk sebuah tulusan, tapi ini soal seberapa berani mulai menulis,” tambahnya.

Guna membangun dinamika kelas, pemateri mengajak peserta melakukan ice breaking dalam bentuk game. Selain itu peserta juga dilatih menuliskan sebuah imajinasi  dan kemudian dibahas dengan peserta lainnya apakah imajinasi tersebut cukup logis dan mengapa memilih imajinasi tersebut? Peserta juga melakukan simulasi menuliskan sebuah profil dengan terlebih dahulu mewawancarai rekan di sebelahnya.

Foto: Istimewa

Kelas Menulis yang baru pertama diselenggarakan ini terbukti memperluas wawasan dan menambah kemahiran peserta dalam menulis. Para peserta menyatakan lebih percaya diri untuk menggeluti dunia aksara. Ratih Jussac, salah seorang peserta, menyatakan bertekad menyelesaikan buku yang sudah dimulainya. Sementara Amalin Budi Setiani mengaku berencana menerbitkan bukunya di tahun 2019.

Di sela pelatihan, Dian Nirmalasari sebagai Admin mengatakan, “Acara ini sebagai awal dan akan berkelanjutan dalam kelompok angkatan. Selain bisa lebih produktif, acara semacam ini juga bisa jadi perekat silaturahmi antar anggota grup,” ungkapnya. Dian juga berharap dengan bertambahnya pegiat literasi, maka akan melahirkan penulis yang berkualitas dan menerbitkan buku yang layak baca bagi kaum muda. (Evy Sofia)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here