Mahasiswa UGM Kembangkan Pesawat Tanpa Awak

0
615
Sumber foto: humas UGM/Ugrasena

Menghadapi tantangan zaman, Universitas Gadjah Mada (UGM) terus berupaya melakukan terobosan melalui inovasi teknologi. Belum lama, Tim Ugrasena, Gadjah Mada Aerospace Team (GMAT), UGM sukses membawa pulang medali emas dalam ajang Indonesian International Invention Festival (I3F) 2018.

Lebih dari 70 tim dari berbagai instansi dan perguruan tinggi di Indonesia terlibat dalam perlombaan ini dengan membawa berbagai  protoype  inovasi yang dibuat. Pada lomba yang berlangsung di Kota Malang pada 19-20 April 2018 tersebut, Tim Ugrasena, GMAT sukses menjadi yang terbaik dalam kategori Teknologi.

Kesuksesan Tim Ugreasena UGM meraih medali emas tidak lain berkat inovasi produk wahana terbang berupa UAV (Unmanned Aaerial Vehicle). Pembimbing Tim Ugrasena, Catur Atmaji, SSi MCs, menjelaskan ada beberapa inovasi yang diciptakan pada pesawat tanpa awak ini. Catur menjelaskan salah satu inovasi tersebut terletak pada penerbangan tiga UAV  sekaligus dengan hanya satu pengendali jarak jauh saja.

Konsep inovasi yang dinamai Ugrasena Flight Group ini membuat tiga prototipe pesawat UAV yang dapat dikendalikan satu orang sekaligus dengan rute terbang yang telah ditentukan. Teknologi UAV Flight Group itu memiliki basis sistem komunikasi yang berbeda dari UAV pada umumnya. Satu pesawat UAV akan menjadi master sistem dari dua pesawat lainnya.

Dua pesawat lainnya akan dikendalikan secara otomatis sesuai rute dan target yang ingin dituju oleh seorang pengendali. Ia menambahkan masalah yang dihadapi saat ini adalah minimnya jumlah pengendali UAV yang ada. “Pasalnya, perlu keterampilan khusus untuk mengendalikan sebuah UAV sehingga tidak banyak orang yang memiliki keahlian tersebut,” terang Catur seperti dikutip dari laman ugm.ac.id (26/4).

“Melalui teknologi Ugrasena Flight Group ini satu orang pengendali dapat menggerakan tiga pesawat UAV sekaligus lewat satu kontrol sehingga minimnya jumlah pengendali UAV dapat diatasi,” tambahnya.

Giodeliva Kintan (Elins 2016), salah satu anggota tim, menyebutkan melalui penerbangan tiga pesawat sekaligus ada beberapa kelebihan yang dimiliki Ugrasena Flight Group. Salah satu kelebihan yang dimaksud Kintan adalah pesawat karya timnya tersebut mampu menjangkau tempat yang jangkauannya luas secara bersamaan. Masing-masing pesawat dapat berpencar dan mengirim komunikasi dari area yang diawasi.

“Jangkauannya yang luas membuat  Ugrasena Flight Group ini sangat cocok untuk misi kebencanaan dan kedaruratan,” tutur Kintan. Berfokus sebagai solusi pertolongan pertama terhadap evakuasi pada daerah dengan medan yang sulit dijangkau, Ugrasena Flight Group juga mampu membawa beban barang dalam pesawatnya dengan maksimal berat tiga kilo.

“Kemampuan tersebut dapat digunakan untuk mengirim P3K lebih cepat untuk menangani kejadiaan kedaruratan seperti pendaki yang hilang di hutan,” tutur Kintan lagi. Berbagai inovasi teknologi yang dikembangkan Tim Ugrasena melalui Ugrasena Flight Group tak pelak membuat karya tersebut menjadi juara di I3F 2018.

Meski demikian, anggota tim lainnya, Ray Saputra (Teknik Mesin 2018) mengatakan hasil tersebut tidak diperoleh dengan mudah. Pembuatannya yang dilakukan empat divisi yang berbeda menuntut kerja sama dan koordinasi yang ketat untuk menyelesaikan Ugrasena Flight Group.

“Memakan waktu kurang lebih dua bulan hasil kerja Tim Ugrasena akhirnya meraih hasil yang maksimal dalam I3F 2018. Harapannya nanti Ugrasena Flight Group dapat terus dikembangkan sehingga tetap dapat memberikan manfaat,” pungkas Ray. (Awib)

Naskah Asli: Humas UGM/Catur; foto: Ugrasena

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here