Selasa Kliwonan, Menghidupkan Kembali Perjuangan Tamansiswa

0
1785
Foto: Istimewa

Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi, Melu edan nora tahan,Yen tan melu anglakoni, Boya kaduman melik, Kaliren wekasanipun, Ndilalah karsa Allah, Begja-begjane kang lali, Isih begja wong eling lawan waspasa.

(Serat Kalatidha ; Bait 7)

“Kita selama ini masih saja terus menerus mengimpor ilmu dari barat, sedangkan budaya kita dengan barat itu sangatlah beda. Ketakutannya adalah ketika kita terapkan hal itu dengan budaya kita, itu tidak sesuai. Maka dari itu, ketika kegiatan Selasa Kliwonan ini dicanangkan oleh MMF Psikologi UST ini kami sangatlah mendukung.” Begitulah kata Hartosujono selaku Kaprodi Psikologi UST dalam sambutannya.

“Bahkan sebelum Albert Camus mempublikasikan esai :’Envers et L’Endroit (1937) atau mati dalam jiwa, Ronggowarsito telah menyuarakan ungkapan mati sajroning ngaurip (Mati di Dalam Hidup) melalui Serat Kalatidha.” Kutipan dari Facebook Ryan Sugiarto dalam unggahannya tentang  Ngaji Serat Kalatidha.

“Kita ini terbiasa mengekor apa yang selama ini orang-orang barat lakukan. Ketika kita mencoba terus mengejar pengetahuan barat, orang-orang baratpun juga terus berlari menginggalkan kita. Maka dari itu, sebelum barat mencoba melirik apa yang kita miliki, kita seharusnya sudah mendalaminya.” Tambah penulis buku Psikologi Raos itu dalam diskusinya di Sarasehan Selasa Kliwon itu.

Sarasehan Selasa Kliwon ini adalah salah satu dari Program Kerja Majelis Mahasiswa Fakultas (MMF) Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan setiap 35 hari sekali (Selapan pisan) yaitu setiap malam selasa kliwon dengan pembahasan tematik dan lebih berfokus pada pembahasan tokoh dan karya lokal.

Seperti halnya yang telah dilakukan pada tanggal 9 April 2018 lalu, Sarasehan Selasa Kliwon ini mengkaji tentang Serat Kalatidha karya Ronggowarsito dengan dipandu oleh Taufik Hermawan S.Sn. sebagai pemantiknya. Dalam Sarasehan Selasa Kliwon ini satu tema akan dibahas dalam 3 pertemuan.

“Sebenarnya, Sarasehan Selasa Kliwon ini kami gagas dengan harapan dapat menghidupkan kembali corak-corak dari Tamansiswa ini sendiri. Karena selama ini kami merasakan bahwa identitas dan ideology yang telah digagas oleh Ki Hadjar Dewantara ini perlahan mulai meluntur, bahkan di Perguruan Tamansiswa ini sendiri.” Jelas Koordinator Departemen Advokasi saat bertemu tim Swarakampus.com

Foto: Istimewa

Menurut Yusuf, salah satu peserta Sarasehan Selasa Kliwon ini, apa yang disampaikan oleh Taufik Hermawan ini sedikit berbeda dengan yang telah beredar di khalayak umum. Di beberapa buku dijelaskan bahwa Kalatidha ini ditulis oleh Ronggowarsito karena kekecewaannya karena tidak diangkatnya beliau menjadi Bupati pada saat itu. Sedangkan apa yang dijelaskan Taufik ini berbeda.

Kalatidha ini ditulis oleh Ronggowarsito atas dasar apa yang terjadi pada saat itu dan dapat menggambarkan keadaan yang terjadi pada masa mendatang. Karena pada saat penulisan itu Ronggowarsito telah berusia 58 tahun (1860 M) dan pada usia itu, manusia sudahlah tidak memiliki kekarepan untuk memangku suatu kekuasaan dan akan cenderung memilih untuk menikmati kehidupan yang ada.

Selasa Kliwon yang akan datang masih akan melanjutkan pembahasan dari Serat Kalatidha, Ronggowarsito. Yaitu pada tanggal 14 Mei 2018.

 

Rio Nurkholis Syaifuddin

Mhs Psikologi, UST

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here