Prof Djoko Dikenal Dunia Karena Meneliti Katak

0
670
Sumber foto: jawapos.com

Siapa menyangka bahwa hewan amphibi ini bisa membuat terkenal salah satu putera terbaik bangsa di mata dunia? Khususnya di bidang penelitian. Ya, katak yang sepertinya hanya  sebagai hewan biasa saja, ternyata menjadi unik di mata peneliti satu ini.

Diapit oleh dua benua (Asia dan Australia), dua samudera (Hindia dan Pasifik), dan dua sirkum (Mediterania dan Pasifik) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara Mega Biodeversity dengan lebih dari 10% spesies dunia hidup.

Indonesia memiliki 25.000 spesies tumbuhan berbunga, 1.592 spesies burung, 515 spesies mamalia, 35 spesies primata, 781 jenis reptil, dan 270 spesies amfibi. Namun, tidak banyak peneliti dalam negeri yang tertarik untuk menggelutinya, selain dikarenakan faktor biaya faktor lain yang menjadi kendala adalah faktor birokrasi perizinan yang dipersulit.

Semua kendala tersebut tak lantas membuat Guru Besar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Prof Dr Djoko T. Iskandar, berhenti untuk mengungkap biodeversitas negeri, khususnya di bidang hipertologi. Hipertologi merupakan cabang ilmu zoologi yang mempelajari reptil dan amfibi.

Pria kelahiran Bandung, 23 Maret 1950 itu mendunia namanya karena meneliti katak. Ia mengaku bahwa meneliti katak dikarenakan sebaran spesiesya yang beragam, sebagai contoh untuk 1.500 ekor ular setelah diteliti hanya ditemukan 5 spesies yang berbeda, sedangkan untuk katak dapat ditemukan 40 spesies yang berbeda.

Sumber foto: globalindonesianvoices.com (Jim McGuire)

Dilansir dari laman ITB, Kamis (5/4), hingga saat ini tercatat lebih dari 100 spesies reptil yang berhasil ditemukan Prof Djoko, atas kontribusinya sebagai hipertologis beberapa peneliti dunia bahkan mengabadikan nama Djoko Iskandar sebagai nama 6 spesies reptil diantaranya Djokoiskandarus annulatus, Polypedates iskandari, Draco iskandari, Fejervarya iskandari, Luperosaurus iskandari, dan Collocasiomya iskandari, sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam dunia hipertologi.

Prof Djoko menuturkan, ketertarikannya dengan katak berawal dari kembalinya ke Tanah Air setelah menyelesaikan studi magister dan doktoral di Université des Sciences et Techniques du Languedoc, Montpellier, France dalam kondisi kekurangan.

“Saya tidak mampu membeli peralatan untuk meneliti tikus karena harga perangkap yang mahal, sedangkan untuk mengobservasi katak saya hanya perlu tangan dan senter,” kenangnya. (Awib)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here