ITS dan ITB Lakukan Kajian Teknologi Energi Laut

0
971
Sumber foto: infonawacita.com

Dua kampus besar Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Sepuluh Nopember (ITS) menunjukkan peran dan fungsi perguruan tinggi sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa. Kedua kampus tersebut berkontribusi dan terlibat melakukan kajian teknologi energi laut.

Teknologi energi laut di dunia telah berkembang pesat. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah pula melakukan pengkajian untuk kemungkinan diterapkan di Indonesia, menyusul kajian yang dilakukan ITS dan ITB.

Berdasar kajian, sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai karakteristik yang ideal untuk mengembangkan energi arus laut. Selat antara dua pulau menghasilkan potensi energi yang cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif berbasis energi baru terbarukan (EBT).

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (2/4).

Dalam rangka mengembangkan energi arus laut, pada tanggal 9 November 2017 lalu, delegasi Indonesia dipimpin Rida Mulyana mengunjungi perusahaan pengembang energi arus laut, Naval Energies, di Cherbourg, Perancis.

Energi arus laut yang dikembangkan Naval Energies memiliki teknologi turbin sederhana, yaitu hanya memiliki satu bagian yang bergerak menggunakan air laut sebagai pelumas. Dengan teknologi itu, biaya operasi dan pemeliharaan lebih rendah jika dibandingkan menggunakan teknologi propeler.

Teknologi open hydro open centre turbine yang memiliki diameter 16 meter dan kecepatan arus 2-5 meter per detik itu dapat menghasilkan listrik sebesar 2 MW, demikian seperti dikutip dari detikfinance (2/4).

Sementara itu esdm.go.id yang dilansir infonawacita.com menyampaikan rilisnya bahwa Indonesia akan segera memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL-red) yang pertama sekaligus terbesar di dunia. Adapun lokasinya di Selat Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bukan itu saja, PLTAL ini rencananya juga akan terintegrasi dengan jembatan Pancasila-Palmerah di Selat Larantuka, “Dengan pembangunan jembatan itu maka diharapkan pembangunan di Adonara dapat berlangsung cepat. Kalau bisa tersambung ini bisa dibangun dengan baik,” ujar Jonan, menteri ESDM.

Sumber foto: presidentpost.id

Jonan menambahkan, jika terlaksana, proyek Independent Power Producer (IPP) berbasis arus laut ini juga menjadi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) pertama di Indonesia dan terbesar di dunia yang bisa menghasilkan energi listrik mencapai 20 MW.

Saat ini pula telah ditandatangani Head of Agreement (HoA) on Building Bridges Equipped with Sea Current Turbine Power Plant in the District of East Flores Sea. Kerjasama investasi antara Kementerian PUPR, Tidal Bridge BV, dan Pemerintah Provinsi NTT pada acara Indonesia – The Netherland Business Forum di Belanda.

Tidal Bridge mengasumsikan, dengan kecepatan arus laut Selat Larantuka rata-rata 3,5 m/s, kapasitas terpasang tiap turbin adalah sebesar 16 MW. Dengan energi yang dibangkitkan secara efektif sebesar 6 MW. Dengan asumsi pemasangan 5 turbin, maka energi terbangkitkan rata-rata sebesar 30 MW. (Awib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here