Haruskah Belajar Ospek ke Kampus Luar Negeri?

0
1497
Foto: SwaraKampus.com/Budi Adi Santosa

Ospek masih selalu menjadi pembicaraan hangat di Indonesia. Meski sudah dihimbau bahkan diatur agar tidak menggunakan unsur fisik dan bersifat perploncoan, namun tetap saja praktik-praktik itu masih terjadi. Bahkan beberapa sampai jatuh korban nyawa.

Apakah ciri orientasi pengenalan kampus maupun sekolah harus identik dengan perploncoan? Tujuan ospek kadang menjadi ajang “balas denndam” senior kepada yunior. Bukan mengenalkan lingkungan kampus kepada mahasiswa baru. Tapi gimana sih, sistem ospek di LN? Yuk, kita intip ospek di beberapa kampus LN sebagai perbandingan.

Universitas St Andrews, Skotlandia.

Sumber foto: st-andrews.ac.uk

Universitas tempat Pangeran William dan Kate Middleton kuliah ini memiliki tradisi yang keren dan unik saat tahun ajaran baru. Mahasiswa baru akan diadopsi menjadi adik angkat oleh mahasiswa seniornya yang sudah menduduki tahun ketiga.

Mereka akan membiasakan diri layaknya adik dan kakak dalam proses adopsi ini. Pada bulan kedua, mahasiswa baru ini diharuskan mengunjungi rumah asrama kakak tingkat mereka. Di dalam asrama, mereka mengadakan pesta busa dan Raisin Weekend. Keren ya! Bukan dengan tindakan pembulian tetapi membangun hubngan positif bersama kakak tingkat.

Kampus di Belanda.
Hampir semua kampus di Beanda memiliki tradisi wisata budaya. Mereka memperkenalkan tempat-tempat wisata bersejarah yang ada di sekitar kampus. Kegiatan ospek ini dikenal dengan nama Introduction Week.

Kegiatan bertujuan agar mahasiswa baru lebih mengenal lingkungan di sekitar kampus agar mudah beradaptasi. Pengenalan budaya di sekitar kampus memang sesuatu yang wajib diketahui oleh mahasiswa baru yang melakukan studi di Belanda. Menariknya lagi, mahasiswa baru juga diajak makan malam di rumah keluarga senior agar tercipta persahabatan.

Universitas Jichi Medical, Jepang.

Sumber foto: jichi.ac.jp

Di kampus ini lebih mengedepankan keakraban antara mahasiswa baru dan mahasiswa tingkat atas. Semua mahasiswa tinggal di dalam apartemen atau dormitory yang sama. Bagi para mahasiswa baru yang masuk ke kampus tersebut, mereka akan mendapatkan kelompok yang terdiri dari sepuluh orang dan masing-masing dalam kelompok kecil ini memiliki mahasiswa senior pendamping.

Tugas mahasiswa pendamping untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan kehidupan kampus, seperti cara belajar, cara makan, dan sebagainya. Juga mengajak mahasiswa baru untuk makan bersama agar tercipta hubungan yang akrab.

Universitas Hampshire College di Amerika Serikat.

Sumber foto: wikimedia.org

Kegiatan ospek di kampus ini terbilang cukup menyenangkan. Mahasiswa baru diajak mengikuti kegiatan sportif yang memicu adrenalin seperti bermain arung jeram, melakukan panjat tebing, basket dan permainan yang lain agar mahasiswa baru tidak merasa stress atau tertekan.

Di samping itu, program ospek di kampus ini juga membuka forum diskusi dan tukar pikiran secara santai di taman-taman. Topik yang didiskusikan biasanya berisi informasi tentang isu-isu yang aktual seperti kekerasan seksual, penyalahgunaan sosial media, dan lain-lain.

Kampus di Australia.

Sumber foto: curtin.edu.au

Kegiatan pekan orientasi mahaiswa atau yang disebut dengan ‘O-Week’ ini bertujuan agar mahasiswa baru dapat lebih siap dalam menghadapi segala kegiatan yang ada di kampus. Jadi, mahasiswa senior ikut membantu dalam mengembangkan kegiatan pendukung yang ada di perkuliahan seperti halnya pelatihan cara menulis essay dan tugas menulis berbahasa inggris untuk mahasiswa internasional.

Di kampus ini, mahasiswa baru diajak berkeliling sekitar kampus dengan kegiatan mentoring yang diadakan oleh mahasiswa senior. Di akhir pekan orientasi mahasiswa, ada sejumlah klub mahasiswa yang menunjukkan potensinya masing-masing di bidang seni, budaya, olah raga, alam, literatur dan masih banyak yang lain agar mahasiswa baru bisa bergabung dengan klub mereka.

Pada intinya, memang agak berbeda antara ospek di LN dengan di kampus-kampus Indonesia. Di sana lebih untuk meningkatkan motivasi, mengembangkan potensi minat bakat, serta menggalang keakraban. Orientasi kampus memang perlu dan masih dibutuhkan, tapi bukan menjadi ajang “horor” bagi mahasiswa baru. (Awib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here