Tahun Politik : Refleksi Kebhinekaan

0
557
Foto: Jogjaprov.go.id

Beberapa bulan ke depan kita akan dihadapkan dengan pesta demokrasi di berbagai daerah artinya masyarakat akan menjadi aktor dalam menentukan pilihannya selama lima tahun ke depan. Kontestasi politik bukan hanya sekadar ajang adu cantik, garis keturunan hilngga klaim kebenaran untuk memikat simpati pemilih.

Sebagai negara demokratis kontestasi politik merupakan sebuah pesta rakyat yang harusnya dapat berjalan dengan khidmat dan penuh dengan euforia agar dapat membawa nilai-nilai perubahan. Idealita dari sebuah sistem yang dinamis harusnya dapat menjadi solusi kongkrit karna bersifat menyesuaikan dengan kebutuhan masa kini. Dari monarki hingga demokrasi semua  memiliki kelebihan dan kekurangan.

Namun, bagaimana bila tahun politik dianggap sebagai demokrasi yang kebablasan. Kita bisa lihat pada saaat ini salah satu hal yang cukup menarik mewarnai medsos  polarisasi mengenai sara seringkali di manfaatkan untuk meraup simpati para pemilih . tidak dapat kita naifkan kemudahan akses informasi membuat kita dengan mudah merespon berbagai isu yang bermunculan.

Hegemoni isu dapat memunculkan berbagai macam reaksi yang harusnya ditanggapi dengan kepala dingin tapi kenyataanya saling hujat hingga istilah “cyduk” pun meramaikan dunia maya saat ini. penggulingan isu sendiri bukanlah suatu barang yang baru untuk memuluskan jalan menuju kemenangan. Bila tidak direspon dengan bijak bisa memunculkan berbagai macam potensi dan salah satunya adalah perpecahan.

Kemudahan akses informasi harusnya dapat dimanfatkan sebijak mungkin agar tidak mudah terprovokasi terutama di dunia maya. Sangat disayangkan apabila kita masih terjebak dalam isu sara sedangkan hal yang paling subtanisal dalam politik agar dapat mebawa kita ke arah perbaikan. Harusnya kemudahaan seperti saat ini dapat di manfaatkan untuk kampanye yang lebih dealektis melalui program, visi dan misi dalam menentukan pilihan.

Dari mata pelajaran hingga mata kuliah istiliah kebhinekaan seringkali menjadi materi wajib dalam ruang kelas, Kita cukup khatam dengan pemakanaan istilah tersebut. Tapi yang tersulit bukanlah tentang seberapa paham namun bagaimana cara kita  mengaktualisasikan nilai-nilai tersebeut dalam kehidupan berbangsa.

Secara historis, Nusantara sudah sejak lama menjadi titik temu penjelajah bahari selain memilki daerah yang strategis, kekayaan akan komoditi rempah membuat nusantara menjadi daerah pilihan untuk di singgahi. berbagai kerajaan telah membawa perbagai arus peradaban pula. Proses akulturasi budaya berlansung sudah sejak lama. sudah menjadi keuntungan tersendiri arus peradaban telah membawa Indonesia menjadi negeri yang kaya akan perbedaan.

Indonesia lahir dari Rahim perbedaan. Salah satu instrumen dalam mendapatkan kemerdekaan adalah bergabungnya berbagai elemen atas rasa yang sama. Hal ini bisa dilihat ketika berbagai joung bergabung dalam forum yang kemudian disebut kongres pemuda pada tahun 1928 silam ini merupakan titik awal perjuangan dengan nilai kesamaan.

Setelah kemerdekaan, Bung Karno pernah mengatakan bahwa perjuangan kita akan lebih sulit karna melawan bangsa kita sendiri. Ini terbukti dengan banyaknya berbagai macam isu yang rawan memecah belah keadaan bangsa saat ini. Egosentris bisa saja mengancam kebhinekaan yang sudah sejak lama terjalini dalam rumpun nusantara.

Sebagai fondasi fundamental kesatuan bangsa harus tetap menjadi sesuatu yang diutamakan untuk kepentingan bersama. Mau bagaimana pun negara ini hadir atas kesamaan yang harus tetap dijaga. Tahun politik biar saja menjadi sebuah pesta demokrasi  dan tetap menjadi pesta rakyat lima tahunan yang dapat berjalan dengan khidmat. Perlunya bagi kita untuk merefleksikan kebhinekaan sebagai bangsa yang majemuk yang sesuai dengan sila ke tiga.

Harispa Nugraha

Mhs Univ Muhammadiyah Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here