Indonesia Darurat Pancasila ?

0
708
Sumber foto: Karya Kurosakisasori-kun Devianart.com

Maraknya kasus pembunuhan dan bunuh diri di Indonesia merupakan salah satu contoh kasus yang dapat membuat menurunnya penggunaan Pancasila dalam diri manusia. Bila kita mengingat, bagaimana perjuangan para pahlawan melawan penjajah, sudah sepatutnya kita untuk meneruskan perjuangan mereka. Kita sebagai rakyat Indonesia masa kini, telah menyepelekan bahkan melupakan perjuangan mereka.

Sebagai contoh, kasus pembunuhan yang terjadi di Semarang Utara, yang dialami oleh driver berinisial DS (25). Ia ditemukan tidak bernyawa dan mobilnya pun menghilang. DS dibunuh oleh dua pelajar dari Kota Semarang dengan motif pembunuhan yaitu ekonomi. Pelaku melakukan hal tersebut dikarenakan biaya SPP yang menunggak. Diketahui, pelaku yang berinisial IBR ini tinggal bersama ayah angkat dan ibu angkatnya, dan pelaku tidak terlalu akrab dengan tetangganya.

Bila kita gali lebih dalam, permasalahan yang dialami oleh pelaku semata-mata karena ekonomi, yaitu biaya SPP yang menunggak. Kurangnya sosialiasi kepada tetangga, membuat pelaku sulit untuk mengutarakan masalah yang ia alami, sehingga ia lebih memilih jalan pintas dengan membunuh orang lain, agar masalahnya bisa teratasi.

Kasus pembunuhan dan bunuh diri itu sendiri berasal dari 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dimana faktor internalnya mulai dari seseorang yang mempunyai masa lalu yang kelam atau sulitnya ia untuk meluapkan emosi dan masalah yang ia alami. Dapat juga dari keluarga yang bermasalah atau biasa kita sebut broken home. Dan faktor eksternalnya mulai dari lingkungan yang kurang mendukung, tidak dapat menghargai satu sama lain, dan lain sebagainya.

Seseorang yang mengalami permasalahan, hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan pembunuhan atau bunuh diri, sebaiknya jangan kita jauhi, melainkan kita rangkul dan kita nasihati, bahwa apa yang ia putuskan tersebut, dapat merugikan diri sendiri, bahkan merugikan negara. Merugikan negara disini maksudnya yaitu, dengan dia memutuskan untuk melakukan pembunuhan atau bunuh diri, sama saja dia memberikan contoh yang tidak baik untuk masyarakat.

Kasus tersebut ada, karena kita sebagai makhluk sosial, kurang menghayati dan menerapi Pancasila, mulai dari saling menghargai antar umat beragama, adil dalam hak dan kewajiban (baik di dalam keluarga, sekolah, maupun lingkungan), saling membantu sesama, berlaku hukum yang adil, dan sebagainya. Kita lebih sering mengumbar kebencian di media sosial, mengomentari hal-hal yang tidak penting, sehingga masyarakat pun mengikuti apa yang kita lakukan. Sehingga kasus pembunuhan dan bunuh diri pun akan terus terjadi dan tidak akan berhenti sampai kapan pun.

Jika kita, sebagai manusia yang memiliki akal dan budi, sudah sepatutnya kita melakukan kegiatan positif yang berkaitan dengan akal dan budi yang kita miliki. Dimana, pancasila lah dasarnya. Dengan kita menerapi satu per satu sila yang ada, kasus pembunuhan dan bunuh diri akan berkurang seiring berjalannya waktu. Dan kelak, generasi baru pun akan melakukan hal yang serupa dengan kita.

Monalisa Indah Deborah

Mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here