Belum Saatnya Anak Berkendara

0
324
Foto ilustrasi: anak-anak bermain sepeda motor di area Bukit Siti Nurbaya Padang (SwaraKampus.com/Budi Adi Santosa)

Mengingat banyaknya kasus kecelakaan yang disebabkan oleh anak-anak, peran orang tua tentu menjadi yang utama. Orang tua merupakan sosok yang sudah seharusnya melindungi anak dari bahaya ancaman seperti kecelakaan. Orang tua perlu memberi perhatian dan pengawasan agar anaknya tidak sembarangan menggunakan kendaraan bermotor.

Orang tua juga harus tegas memberitahu bahwa pengendara yang baik adalah mereka yang telah memenuhi usia dan memiliki surat ijin mengemudi. Sesuai dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, batas usia mengendarai kendaraan motor atau mobil adalah 17 tahun.

Selain itu, orang tua perlu mengingatkan bahaya yang dapat mengancam pada saat berkendara. Hal ini dilakukan agar anak menjadi sadar dan was-was, sehingga anak-anak tidak sembarangan menggunakan kendaraan bermotor. Perlu adanya kesadaran dari orang tua bahwa anak-anak masih dalam kondisi emosional yang labil. Di mana ketika anak-anak diberi kebebasan menggunakan kendaraan bermotor, akan membahayakan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Apabila itu dibiarkan, akan timbul kecelakaan lalu lintas bahkan kematian.

Ketika anak-anak sudah memenuhi usia berkendara, orang tua juga turut mendampingi dan mengajari cara berkendara yang benar. Mengenalkan rambu-rambu lalu lintas dan fungsi-fungsi alat di kendaraan seperti kegunaan lampu sein, klakson, dan kaca spion penting dilakukan.

Selanjutnya, selain peran dari orang tua, ada pula peran dari Polisi Lalu Lintas (Polantas). Perannya tentu saja sebagai pihak yang mengawasi dan menindak pelanggar lalu lintas, terutama anak-anak. Sering kita lihat setiap pagi yang merupakan jam sibuk di mana orang-orang berangkat beraktifitas, ada petugas Polantas yang mengatur lalu lintas. Ini merupakan langkah yang sangat baik. Namun sayangnya, hal tersebut jarang dilakukan pada waktu orang-orang pulang beraktifitas.

Sering kita lihat pada waktu siang atau sore hari, jarang ada petugas Polantas berjaga di Pos Polisi Lalu Lintas atau yang mengatur lalu lintas. Ini yang menjadi celah bagi pengendara untuk melanggar lalu lintas. Operasi lalu lintas juga harus terus dilakukan, bila perlu rutin dilakukan. Agar dapat mencegah atau paling tidak mengurangi angka pelanggaran lalu lintas.

Kemajuan dari adanya tekonologi juga perlu diterapkan dalam hal mengawasi lalu lintas. Seperti penggunaan Closed Circuit Television (CCTV) yang dapat dipasang di persimpangan jalan atau di jalanan padat kendaraan. Di Indonesia, beberapa wilayah sudah terdapat CCTV yang terpasang. Namun, penggunaan dari adanya CCTV sendiri yang perlu dioptimalkan.

Pengguna CCTV pada dasarnya adalah untuk mengatur lalu lintas dalam hal kemacetan. Semestinya hal ini dapat dioptimalkan untuk mengawasi para pelanggar lalu lintas. Seperti untuk mencatat nomor plat kendaraan pelanggar lalu lintas. Agar dapat mengatahui identitas pemilik kendaraan, yang kemudian dapat dikirim surat tilang.

Pihak Polantas juga perlu menggencarkan aksi sosialisasi atau pelatihan tentang safety riding. Polantas dapat bekerjasama dengan sekolah-sekolah untuk mengadakan sosialisasi safety riding, agar para siswa dapat mengetahui pentingnya menjaga keselamatan dan keamanan di jalan pada saat berkendara. Selain itu, juga perlu dilakukan pelatihan safety riding agar nantinya para siswa terlatih dan mempunyai kemampuan dasar (basic skill) bagaimana cara berkendara dengan baik dan benar.

Baik dari orang tua, Polantas, pihak sekolah, maupun pemerintah, semuanya sama-sama menjadi pelindung terutama bagi anak-anak agar terhindar dari bahaya kecelakaan.

Firdaus Al Hakim

Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Negeri Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here