Demi Iklim Kondusif, Larangan Bercadar Dicabut

0
953
Foto ilustrasi: multivu.com

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mencabut aturan terkait larangan penggunaan cadar bagi mahasiswinya di lingkungan kampus pada Sabtu (10/3). Hal itu disampaikan melalui surat berkategori penting tertanggal 10 Maret 2018 bernomor B-1679/Un.02/R/AK.00.3/03/2018.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi membenarkan. Surat itu terkait pencabutan surat tentang pembinaan mahasiswi bercadar. Dalam surat tertulis, berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Universitas (RKU) pada Sabtu, 10 Maret 2018, diputuskan bahwa Surat Rektor Nomor B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 tentang Pembinaan Mahasiswi Bercadar dicabut.

Dijelaskan alasan pencabutan aturan pembinaan mahasiswi bercadar itu demi menjaga iklim akademik yang kondusif. Surat itu kemudian ditujukan kepada Direktur Pascasarja, Dekan Fakultas, Kepala Unit/Lembaga UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yudian menandatangani surat dan membubuhkan stempel berlogo kampus.

Sebelumnya, sejumlah pihak bereaksi setelah Rektor UIN Sunan Kalijaga mengeluarkan aturan terkait penggunaan cadar di kampus. Ada yang mendukung dan banyak pula pihak yang menentang. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin mendukung pembinaan yang dilakukan UIN Sunan Kalijaga terhadap mahasiswi bercadar.

Dia menilai larangan bercadar sebagai bagian dari pembinaan merupakan langkah yang terbilang bagus. Sebab menurutnya, penggunaan cadar dikhawatirkan berdampak pada tidak efektifnya proses belajar mengajar.

Sementara itu Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan setiap kampus berhak membuat peraturan mengenai penggunaan jilbab maupun cadar bagi mahasiswinya.

Menanggapi dicabutnya kebijakan larangan bercadar oleh pimpinan UIN Sunan Kalijaga, Ketua Divisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis berharap akan diikuti kampus lainnya yang masih melarang mahasiswinya menggunakan cadar.

Pimpinan Pondon Pesantren Cendikia Amanah ini mengatakan bahwa seorang pemimpin itu harus mengetahui mana yang substansial dan mana yang sifatnya simbolis. Menurut dia, menumpas radikalisme adalah masalah substansial yang harus dilawan dengan memberi pemahaman alternatif agar menjadi umat wasathiyah.

“Sedangkan cadar itu simbolis yang tak berlaku general kepada yang radikal yang solusinya cukup diberi kesadaran tentang berbusana yang lebih inklusif dan interaktif di mana hukumnya bercadar adalah masalah khilafiyah,” kata KH Cholil.

(dikutip dari berbagai sumber)

Awib Lomanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here