Hari Perempuan Internasional, Di Kampus Masih Banyak Pelecehan

0
577
Foto ilustrasi: Women in march (SwaraKampus.com)

Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Februari 1909 di New York dan diselenggarakan oleh Partai Sosialis Amerika Serikat. Namun demikian, ada sebuah peristiwa demonstrasi pada tanggal 8 Maret 1917 yang dilakukan oleh para perempuan di Petrograd memicu terjadinya Revolusi Rusia.

Tanggal 8 Maret inilah yang kemudian diresmikan sebagai Hari Perempuan Internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di tahun 1977 dengan tujuan untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Adanya momentum sejarah di atas sepertinya tidak menghasilkan apa-apa, mengingat status perempuan masih rentan menjadi korban sejumlah tindak kekerasan. Pengamat Sosial dari Universitas Pancasila Aully Grashinta mengatakan, kejahatan terhadap kaum perempuan bukan menjadi hal baru.

Aully menyebut, perempuan kerap dianggap lemah daripada laki-laki. “Di manapun kejahatan terhadap kaum perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Dari sekadar pelecehan, pencurian sampai pembunuhan. Ini terjadi karena perempuan dianggap makhluk lemah secara fisik,” ujarnya. Lantas seperti apa kehidupan perempuan di kampus?

Pelecehan seksual terhadap perempuan masih marak terjadi di kampus. Pelecehan tersebut dilakukan baik oleh mahasiswa, dosen, karyawan maupun masyarakat sekitar kampus. Salah satunya dirasakan oleh Nadia Alfi, mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati. Mahasiswi yang juga Aktivis Jaringan Relawan Anti Kekerasan Anak dan Perempuan (JARAK) ini mengaku, banyak mendapatkan laporan di kampusnya.

“Ada sekitar 20 mahasiswi telah mengadu ke kami. Mereka mendapatkan pelecehan seksual di kampus. Mulai dari Catcalling oleh mahasiswa hingga dosen ngajak tidur mahasiwi,” katanya saat mengikuti Aksi Hari Perempuan Internasional di depan Gedung Sate, Bandung, Kamis, (08/03).

Nadia mencontohkan, banyak mahasiswi mengalami Catcalling atau godaan jahil bernada seksual. Si mahasiswi memiliki nama, namun dipanggil dengan tidak seharusnya, “Misalkan, hei Semok (Seksi Montok) mau kemana? Panggilan ini membuat perempuan tidak merasa nyaman,” katanya.

Selain itu, aduan lain yang mereka terima adalah tawaran nilai terhadap mahasiswi dengan embel-embel tidur bersama. Si dosen menawarkan nilai bagus asalkan si mahasiswi mau bertemu di hotel.

Teenager karya Suryadila (Foto: SwaraKampus.com)

Masih banyak bentuk pelecehan lain di kampus, namun belum terkuak. Karena yang namanya perempuan, ketika ada bentuk seperti itu, baik secara psikologi dan pandangan moral belum siap menghadapinya. Apalagi ada ancaman nilai,” ungkap mahasiswi psikologi yang kerap membuka posko aduan khusus untuk masalah perempuan ini.

Saat ini Nadia dan teman-temannya di JARAK, masih mencoba menginventarisir sejumlah pelecehan seksual di kampusnya. Diantaranya dengan melakukan diskusi dengan mahasiswi dari lintas Fakultas dan membuka posko pengaduan. “Tantangannya adalah banyak korban yang belum bisa terbuka,” terangnya.

Sementara Dewi Amalia, aktivis Serikat Perempuan Indonesia (Seruni) mengungkapkan, pelecehan terhadap perempuan adalah bentuk dominasi laki laki terhadap perempuan. Baginya bila ingin menghindari pelecehan terhadap perempuan, hindarilah bentuk dominasi gender tersebut, “Perempuan dan laki-laki itu sama,” ungkapnya.

Awib Lomanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here