Pratikno: Kampus Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

0
415
Foto: Istimewa

Ada hal yang menarik disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Pratikno, saat  mengisi kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa teknik lintas departemen di Ruang Sidang Kantor Pusat Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu yang lalu.

Ia memaparkan pentingnya kesiapan perguruan tinggi dan mahasiswa dalam menyongsong Revolusi Industri 4.0 yang sudah ada di depan mata. Untuk itu, Pratikno menekankan pentingnya mahasiswa teknik memiliki pemahaman teknik digital economy.

Dalam materinya, Pratikno menekankan betul kemajuan-kemajuan yang mau tidak mau sudah tersaji dalam Revolusi Industri 4.0. Karenanya, penting memiliki kemampuan mengelola inovasi-inovasi yang sudah mulai muncul dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

3D printing jadi salah satu contoh inovasi paling mutakhir yang dipaparkan Pratikno, yang turut membuat takjub mahasiswa-mahasiswa yang hadir. Pasalnya, apa yang bisa dilakukan 3D printing bisa dibilang merupakan hal-hal yang mustahil pada generasi lalu.

“Senjata misalnya, dengan 3D printing yang sudah ada di pasaran pun kita sudah bisa membuat senjata,” terangnya. Uniknya, senjata yang mampu dihasilkan 3D printing berbahan plastik, sehingga tidak akan terdeteksi sistem keamanan sederhana yang biasanya hanya mendeteksi logam dan metal.

Pratikno mengingatkan, setiap inovasi yang akan muncul memiliki paradoks, “Ada kemanfaatan, tapi ada risiko yang harus dikelola pula,” ujar mantan Rektor UGM tersebut. Akan selalu ada dua sisi yang muncul dari setiap inovasi-inovasi yang lahir dari berbagai aspek kehidupan manusia.

Pratikno juga berharap agar mahasiswa mempelajarai teknik meliputi pula isu etik, isu tanggung jawab dan isu moral. Ia mengingatkan, ini level yang sudah dicapai manusia dalam apa yang disebut Revolusi Industri 4.0, sehingga benar-benar dibutuhkan kesiapan manusia itu sendiri untuk menerimanya.

“Teknologi (3D printing) ini bisa merambah ke mana-mana, mendisrupsi apa saja, itulah teknologi yang disebut Revolusi Industri 4.0, dan kita harus siap dengan implikasinya yang disebut disruptif tadi,” paparnya.

Ia menambahkan, mahasiswa teknik yang akan menciptakan inovasi-inovasi itu harus memiliki pemahaman yang luas. “Karenanya, dibutuhkan kolaborasi yang akan membuat ilmu-ilmu yang ada memiliki makna bagi kehidupan manusia,” tutupnya.

Sementara Muhammad Nur Rizal, PhD yang bertindak selaku moderator menyampaikan, pemahaman Revolusi Industri 4.0 itu memang sudah harus dimiliki perguruan tinggi, “Utamanya, mempersiapkan diri atas perubahan-perubahan pola pengajaran yang kemungkinan memang akan terjadi dalam dunia pendidikan,” ujarnya.

Terlebih, menurut Rizal yang juga pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, dunia pendidikan Indonesia masih terkekang sistem yang belum menampung perubahan yang ada, “Konsep kelas tatap muka  selama ini mengalami kepunahan. Hanya perguruan-perguruan tinggi yang fleksibel dan adaptif yang bertahan,” terangnya.

Kini banyak kampus yang mengadopsi sistem online. Artinya, tidak lagi mengandalkan berapa ratus satuan kredit semester (SKS) yang harus didapat, berapa puluh kuliah yang harus diikuti. Menurut Rizal, sistem yang sampai saat ini masih diadopsi di Indonesia itu mengekang pendidik sendiri.

Rizal memperkirakan, bisa jadi di masa depan sistem pendidikan yang akan diadopsi justru yang berbasis personalita. Sehingga, anak-anak yang menuntut ilmu itu hanya fokus mempelajari minat-minat mereka sendiri.

Mengutip materi studi McKinsey yang disampaikan Mensesneg, Pratikno, ia mengingatkan jika di masa yang akan datang akan ada 52,6 juta jenis pekerjaan yang hilang. Sedangkan, hanya ada 3,7 juta pekerjaan yang muncul pada Revolusi Industri 4.0 pada masa mendatang.

Awib Lomanis

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here