Writerpreneurship: Kaya Karena Buku?

0
453
Foto: Istimewa

Kaya karena buku? Bagaimana caranya bisa kaya dengan buku? Kan minat baca orang Indonesia saja rendah, bahkan terendah nomor dua dari 61 negara setelah Bostwana. Bagaimana bisa laris jualan buku? Dan masih banyak pertanyaan lain yang mungkin akan muncul dari pikiran kalian ketika membaca “Kaya dari Buku”.

Sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa makna dari ‘kaya’ bagi setiap orang berbeda-beda. Tinggal mau dilihat dari segi finansial, religiusitas, teologi atau apa? Begitulah Edi Ah Iyubenu, penulis sekaligus pemilik Diva Press mengawali Bincang Bisnis Bulan yang diadakan oleh CENDI (Center for Entrepreneurship and Career Studies) UIN Sunan Kalijaga di Gedung Rektorat Lama lantai 2, Selasa (27/02).

Edi mengisahkan perjalanannya di dunia menulis sejak tahun 1995. Tujuannya menulis pada waktu itu adalah uang, guna menghidupi kebutuhan hidupnya sebagai mahasiswa. Tak tanggung-tanggung, penghasilannya dari menulis mencapai 1 juta/bulan. Padahal kala itu uang bulanan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (dulu IAIN Sunan Kalijaga) rata-rata 100 ribu/bulan. “Gimana? Dari sini sudah kelihatan kayanya belum?”, guraunya.

Hidup mandiri tanpa beasiswa dari orang tua, dilanjut dengan ngutang-ngutang ke penerbit demi menerbitkan buku sendiri, hingga akhirnya kini telah memiliki perusahaan penerbit sendiri yang telah seusia ABG (17 tahun), Diva Press. Proses yang panjang dan tidak mudah tentunya.

“Tulisan saya bisa dimuat di berbagai media se-Indonesia raya ini bukan karena saya pintar, tetapi karena saya gigih”, tukas Edi menyemangati peserta bincang.

Untuk menjadi writerpreneur yang baik, Edi mengungkapkan ada tiga hal yang harus dimiliki. Pertama, kompetensi. Tidak ada orang yang terlahir pintar, semua orang dapat meningkatkan kompetensi jika sering berlatih dan gigih.

Kedua, amanah. Kebanyakan orang mencari rekan kerja dari sisi satu ini, “Anak ini bisa dipercaya nggak ya?”. Seberapa dapat dipercaya dan tahan seseorang menentukan kualitas orang tersebut. Edi menambahkan ketika ditengah jalan ada masalah, cobalah untuk terbuka kepada orang-orang sekitar. Jangan langsung memutuskan untuk berhenti atau keluar dari pekerjaan tersebut (tidak amanah).

Foto: Istimewa

Terakhir, profesional. Sebagai pemilik Diva Press Edi tentu bertanggungjawab penuh terhadap setiap buku yang diterbitkan. Untuk itu semua prosesnya harus dipikirkan dengan detil dari A-Z. Meskipun Diva Press berorientsi pada profit, namun Edi juga memiliki nilai-nilai sebagai wujud idealismenya sebagai penulis sekaligus penerbit.

Hal ini juga sejalan dengan Daniel Owen, publicity director Ugly Duckling Presse New York. Narasumber lain asal New York ini mengungkapkan idealisme memang berat, terlebih mempertahankannya. Tetapi idealisme itulah yang menjadi ruh atau semangat untuk terus bertahan menjadi seukarelawan di  Ugly Duckling Presse, media non profit yang telah berdiri selama 25 tahun.

Ketika Edi ditanya bagaimana sebagai pemilik penerbitan menghadapi persaingan dari hadirnya buku-buku digital (e-book)? Ia meminjam pernyataan salah seorang temannya. “Tenang saja. Orang Indonesia masih lebih bangga majang dan nenteng buku kok daripada kalungan flashdisk (baca: sebagai alat penyimpan e-book)”.

Nining Kinasih

Mhs Komunikasi dan Penyiaran Islam FDK
Universitas Islam Negeri Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here