Mahasiswa, Jangan Lupa Tri Dharma PT

0
702
Sumber foto: youth-time.eu

Medsos untuk beberapa hari lalu diramaikan perdebatan “kartu kuning” yang diacungkan Ketua BEM UI Zaadit Taqwa kepada Presiden Joko Widodo, di sela-sela prosesi panggung Dies UI beberapa waktu lalu. Di salah satu akun facebook seorang dosen fisipol UGM menuliskan yang intinya, demo (demonstrasi) itu dari zaman dulu ya begitu, namun tetap harus dimaknai sebagai proses demokrasi.

Warganet lain setuju? Memang benar bahwa demo adalah bagian dari demokratisasi. Artinya, kebebasan bersuara, berpendapat dan berserikat adalah hak tiap warga negara bahkan dijamin oleh konstitusi kita. Dengan begitu pula harusnya demo tidak boleh diberangus, gak boleh dilarang-larang, gak boleh juga dipersekusi.

Namun disayangkan, tidak sempat ditanyakan, apakah dosen itu juga membayangkan saat anaknya berekspresi yang kurang sopan kepada tamunya yang ia undang ke rumah, misalnya. Bisa jadi ia hanya berujar, “Maafkan anak saya… Dia memang suka kritis, tapi namanya juga anak-anak belum banyak belajar”.

Ya, tentu dimaafkan saja, karena itu bukan soal benar-salah, melainkan pantas-tidak pantas. Intinya, saya ingin bertanya bahwa sebuah ekspresi kekritisan itu apakah sama sekali tidak boleh dilarang dengan segala kondisi apapun? Mungkin itu kan yang menjadi substansi masalahnya? Jangan digoreng kemana-mana, apalagi sampai mengadu UI vs UGM.

Ah, biar saja demo dengan memaki-maki ataupun mengancam dan mengajak membunuh orang, misalnya. Orang demo bebas meski dengan anarkhi merusak fasilitas umum. Menyampaikan pendapat gak papa meski sambil membawa senjata tajam dan menakut-nakuti orang? Pada akhirnya tidak apa-apa ngebom, wong itu ekspresi atas keresahan pribadi dan kelompoknya yang merasa tidak suka dengan pemerintah.

Mengapa kita tidak menjadi liberal saja, bukankah kita menggunakan sistem demokrasi? Mengapa LGBT ditentang, bukankah itu juga bagian dari kebebasan berekspresi? Mengapa atheis gak boleh ya, bukankah itu juga sebuah ekspresi atas keyakinan? Itu semua soal demokrasi lho…

Ada apa dengan demokrasi? Di satu sisi demokrasi ada dan diakui saat mahasiswa “mengacau” dalam acara dies yang resmi nan sakral di kampusnya sendiri. Namun demokrasi seolah diabaikan saat ada pembubaran kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh komunitas agama tertentu, misalnya? Oh ya, teman saya ini seorang akademisi lho… Lantas, di mana ia tegak berdiri?

Kesimpulannya, proses demokrasi sebagai pilar sistem politik tetap dibutuhkan dan penting. Namun demokrasi yang dianut Indonesia bukanlah demokrasi liberal melainkan demokrasi Pancasila. Tidak semua hal dapat diatasnamakan demokrasi. Demokrasi kita ada aturannya, dan di atas itu ada yang dinamakan etika sebagai kearifan lokal bangsa, yakni sopan santun.

Sebagai seorang akademisi yang fungsinya mendidik generasi muda penerus bangsa, semoga rekan saya tersebut tidak mengajarkan “silahkan kritis dengan cara apapun”. Silahkan demo dengan cara apapun. Semoga juga ia tidak lupa dengan Tri Dharma Perguruan tinggi. Jika tri dharma itu sudah tidak ada, maka ajarkan saja mahasiswa orasi dan demo agar kelak menjadi politisi ulung.

Tidak perlu KKN sebagai bentuk dari dharma pengabdian masyarakat. Tidak perlu diwajibkan skripsi sebagai wujud dharma penalaran (riset/penelitian). Kampus perlu tri dharma agar bisa dibedakan dengan masyarakat awam. Mahasiswa perlu dibiasakan melakukan pengamatan langsung, jangan hanya denger ceramah dan baca diktat dosennya saja.

Kembangkan pula tradisi ilmiah dengan melakukan penelitian (tapi, ah… dosennya aja males melakukan riset). Jadi, mahasiswa itu punya tradisi, selain juga diajarkan disiplin terhadap segala peraturan yang ada di kampus, apalagi hukum positif. Tradisinya ya itu tadi, pengabdian masyarakat dengan terjun langsung ke lapangan, serta melakukan riset atau penelitian.

Jadi setiap yang dikatakan mahasiswa dengan kritis itu harusnya berdasarkan riset agar tidak hoax ataupun fitnah. Thus, tanpa ragu membantu masyarakat. Mosok mahasiswa berpendapat mengkritisi pemerintah tidak boleh? Ini pertanyaan konyol. Percuma menjelaskan kepada orang yang pura-pura tidak tahu. Seorang akademisi pastilah paham mana substansi, mana yang artifisial.

Yang jawab biar presiden langsung ya, biar paham…, “Ya yang namanya aktivis muda ya namanya mahasiswa, dinamika seperti itu biasalah, saya kira ada yang mengingatkan itu bagus sekali,” ungkap Presiden. Ada yang bilang, untung presidennya zaman now, coba presidennya zaman orde baru… “Bisa kelar idup lo!!”

Sumber foto: coe.int

Ok, gaes… Bagi kamu yang mahasiswa, inget-inget ya… Di kampus ada tri dharma. Tugas utama sekaligus kompetensimu tidak hanya jago memprotes, tapi juga terampil melakukan kajian dan riset, sekaligus mau membantu dan mengabdi kepada masyarakat (tidak hanya di menara gading).

Di luar tri dharma, bangsa Indonesia mengenal ideologi bernama Pancasila. Masih pada hafal bunyinya? Ya sudah, itu saja bekal mu selama menimba ilmu di kampus hingga kamu bermetafora menjadi generasi  berkarakter dalam menghadapi kerasnya perjuangan hidup yang sesungguhnya (bersyukur kamu masih dibiayai ortu untuk kuliah, jangan sia-siakan investasi jangka panjang ortu mu). Tabik.

Relisa Wahyu

Mhs Psikologi UP45

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here