Dinamika Krisis Membaca

0
530

Anehnya, ketersediaan informasi dan pengetahuan tak lantas membuat anak-anak zaman now gemar membaca. Banyak penelitian yang menemukan fakta bahwa kelemahan generasi milenial adalah malas membaca. Kesukaan mereka adalah informasi-informasi pendek yang sifatnya instan.

Di zaman pembaruaan seperti zaman ini, banyak generasi muda terperangkap oleh hingar binar dunia teknologi. Dengan mudahnya, mereka mengakses dunia virtual yang menawarkan berbagai macam konten-konten dan informasi pendek. Dunia virtual menjelama menjadi candu bagi kalangan para anak-anak yang lahir di zaman now.

Melemahnya pemahaman konteks persoalan  akibat kurang baca menjadi kurang tepat dalam mengambil keputusan, terkesan serampangan.  Maka dinamika seperti itu akan melahirkan pemuda yang tidak memiliki ketajaman dalam logika berpikir. Pemuda yang kurang membaca akan rentan terhadap informasi yang beraroma hoax dan konten-konten yang menjurus pada kebencian.

Dengan pola pikir yang dangkal, anak-anak muda lebih sering menjadi orang yang tidak bisa memilah-milah informasi. Tidak bisa mempertimbangkan kebenaran, akibatnya pemuda seperti itu akan mudah terprovokasi atas informasi-informasi yang sebenarnya akan menyesatkan mereka.

Presentase minat baca kaum muda di Indonesia semakin memperhatinkan. Dari data yang bersumber UNESCO April 2016, minat baca pemuda Indonesia tidak menyentuh dari 5 persen dari seluruh wilayah di Indonesia. Inilah dinamika zaman yang terus menggerus khazanah keilmuan dengan rendahnya intektual penerus bangsa yang dangkal akan ilmu pengetahuan akibat kurangnya asupan buku bacaan.

Indikasi semacam itu sudah terbukti ketika dosen mengajak para mahasiswa untuk diskusi. Minimnya para mahasiswa untuk menyampaikan gagasan menjadikan forum diskusi menjadi tidak menarik. Hampa. Seorang sastrawan asal Amerika yang bernama Ray Bradbury berkata, “ Tak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah peradaban cukup hanya manusia-manusia berhenti membaca.”

Mereka yang jarang banyak membaca akan kehilangan pola pikir kritis. Tidak mampu untuk menganalisa dan melakukan sintesa. Dan gagal melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Maka tidak usah heran dengan stagnanisasi pola pikir generasi zanan now yang tidak bisa berpikir independent.

Kalau sudah suka dengan tokoh politik yang sekiranya mereka suka, mereka akan selalu mengagul-agulkan tokoh politik tersebut walaupun sebrengsek apa pun moral yang dimiliki tokoh politik tersebut. Ray Bradbury, berujar: “You don’t have to burn books to destroy a civilization. Just get people to stop reading them”. Tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah peradaban. Cukup suruh manusia-manusianya berhenti membaca.

Solusinya adalah membudayakan membaca. Orang yang suka membaca mempunyai sudut pandang. Bisa membangun pola pikir kritis dan analisisnya mendalam. Argumentasinya luwes dan kokoh. Perkataannya mempunyai nilai keilmuan dan penuh hikmah. Sebaliknya,  jika orang yang tidak suka membaca akan menemukan kebuntuan dalam berargumentasi. Perkataannya tidak terstruktur. Dangkal dalam menganalisis persoalan. Pandangannya buram.

Annas Sholahuddin

Mhs Teknologi Hasil Pertanian
Universitas Nahdlatul Ulama Yogya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here