PTS Bersiap Hadapi Kebijakan Baru

0
536
Sumber foto: essensialoildiffuserusa.com

Kebijakan baru soal perguruan tinggi swasta (PTS) sudah terdengar beberapa waktu belakangan. Kebijakan tersebut terkait keberadaan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) serta merger beberapa PTS. Bagaimana kelanjutan dari kebijakan baru tersebut? Berikut liputannya.

Menristek Dikti M Nasir usai acara Bedah Kinerja 2017, Fokus Kinerja 2018 di kantor Kemenristek Dikti, Jakarta, telah menegaskan kembali bahwa benar Kopertis akan diganti menjadi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) dan diharapkan mulai efektif bekerja Maret tahun ini.

“’Insya Allah, Maret 2018 Lembaga Layanan Dikti ini akan bergerak. Semua sudah siap, dari 14 Kopertis untuk 34 provinsi yang bertransformasi akan dapat berkembang menjadi sekitar 18 lembaga layanan karena ada wilayah yang perguruan tingginya besar dan wilayah yang tersebar,” ungkap Nasir, Kamis (4/1).

Nasir kembali menegaskan harapannya melalui lembaga baru ini dapat mempermudah pelayanan pendidikan tinggi dengan lebih baik, lebih mudah serta lebih cepat dengan perwajahan teknologi yang lebih maju.

Saat ditanya kesiapan sumber daya manusia (SDM) lembaga tersebut, Nasir mengemukakan otomatis SDM yang telah ada di Kopertis dalam proses transformasinya SDM lembaga ini, “Mereka yang berada di Kopertis menjadi tenaga LL Dikti,” ungkapnya.

Pekerjaan LL-Dikti penting lainnya menurutnya juga dalam menjalankan merger beberapa perguruan tinggi swasta yang kecil, hingga nanti targetnya hanya 3.500 perguruan tinggi saja di Indonesia.

“Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan mahasiswa di bawah 1.000 perlu untuk merger, ini untuk efisiensi. Dari 4.570 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan PTS yang ada nanti bisa dimerger jadi sekitar 3.500 perguruan tinggi saja,” terang Nasir.

Berkaca dari China dengan jumlah penduduk 1,4 miliar namun hanya memiliki jumlah perguruan tinggi separuh dari yang dimiliki Indonesia maka, menurut dia, merger perguruan tinggi untuk memperbaiki kualitas sangat penting.

Foto: Istimewa

Nasir mengatakan, banyaknya perguruan tinggi kecil dikhawatirkan akan memproduksi lulusan yang kurang berkualitas. Namun pelaksanaan merger perguruan tinggi menurut dia memang tidak mudah.

Menurut dia, nantinya lima hingga enam perguruan tinggi yang berasal dari satu yayasan yang sama akan dimerger, “Kalau prodinya kurang maka akan dibantu ditambah agar bisa jalan,” tambahnya.

Bagaimanapun ia mengatakan riset dan inovasi yang hebat berasal dari pendidikan yang baik. Maka upaya memperbaiki kualitas pendidikan tinggi di Indonesia salah satunya dengan menjalankan program merger tersebut.

Awib Lomanis

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here