Kritik Pedas Ala Akademisi UGM

0
560
Foto: Humas UGM

Ada hal yang menarik dalam penyelenggaraan acara Dies Natalis Unuversitas Gadjah Mada beberapa waktu lalu. Berbagai sindiran terhadap politisi Indonesia terlontar dalam pementasan ketoprak pada Jumat (22/12) lalu di PKKH UGM.

Mengangkat kisah bersejarah Arok-Dedes, pementasan ini menjadi salah satu cara yang dipilih oleh sivitas akademika UGM untuk menyampaikan kritik serta pesan terkait berbagai isu sosial dan politik yang ramai menjadi perbincangan dalam beberapa waktu terakhir.

“Pementasan Ketoprak Ludruk ini dipenuhi humor dan juga kritik sosial dengan isu-isu kekinian. Banyak sindiran-sindiran yang ditujukan pada politisi-politisi yang menggunakan beragam cara untuk mendapatkan kekuasaan,” ujar Dr. Cahyaningrum Dewojati selaku sutradara pementasan ini.

Arok-Dedes adalah pementasan ketoprak kontemporer yang diadaptasi dari Serat Pararaton, sebuah karya klasik yang berisi kitab sejarah raja-raja Singasari dan Majapahit, yang ditulis abad 15-16. Adapun Serat Pararaton tersebut berisi tentang perjalanan hidup Ken Arok atau Ken Angrok sejak dilahirkan sebagai titisan dewa, dibuang oleh Ken Endog, dirawat oleh Lembong, hingga jatuh cinta dengan Ken Dedes yang berstatus istri Ametung.

Isu-isu sosial politik, seperti korupsi, intoleransi, serta perebutan kekuasaan tergambar dalam dialog para pemain yang terdiri dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan. Yang menarik, hingga rektor dan dekan-dekan UGM turut ambil bagian dalam pementasan ini.

Dikaitkan dengan kisah Arok-Dedes yang penuh pertumpahan darah akibat sikap egois dan haus akan kekuasaan, pementasan ini menyisipkan pesan bahwa bangsa Indonesia khususnya para pemimpin harus memilih jalan kesatria yang mengedepankan akal budi luhur yang membawa kedamaian dan kesejahteraan rakyatnya.

Foto: Humas UGM

“Karya ini menjadi pengingat dan pembelajaran untuk generasi masa kini, bahwa kekuasaan yang penuh angkara murka, kelicikan, haus darah, hanya akan membawa kehancuran sebuah bangsa. Bangsa Indonesia harus belajar bahwa masa lalu harus diambil sebagai pembelajaran masa depan,” imbuh Cahyaningrum.

Dalam kisah ini, Arok diceritakan memesan keris pada Empu Gandring. Akan tetapi, ketika keris yang dipesannya tersebut belum sempurna, Gandring dibunuh oleh Arok dengan menggunakan keris tersebut. Gandring pun mengutuk Arok, dan berkata bahwa nantinya dalam sejarah akan ada 7 orang yang terbunuh dengan keris yang sama, termasuk Arok sendiri.

Konsep pertunjukan Ketoprak kali ini adalah Ketoprak dengan format parodi dengan iringan musik gamelan kontemporer yang dipadukan dengan musik Jawa Timuran. Melibatkan lebih dari 100 orang pendukung yang terdiri dari pemain, penari, maupun pemain musik, ketoprak kolosal ini menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya mengandung pesan moral tapi juga mampu menghibur penonton yang hadir.

(Humas UGM/Gloria; Foto: Firsto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here