Entrepreneur Kekinian: Takut Dituding Pengangguran?

0
336
Foto: Pexels.com

Entrepreneur atau wirausaha kini menjadi pilihan sebagian orang karena beberapa alasan, antara lain suasana kerja kantor yang monoton, padatnya jam kerja atau karena pendapatan yang tidak sesuai kebutuhan.

Wirausaha kini diyakini juga oleh sebagian orang sebagai jalan keluar dari masalah ekonomi dan pengangguran, karena dengan wirausaha bisa menciptakan lapangan kerja. Anggapan tersebut diamini oleh Bill Drayton, pendiri sekaligus CEO Ashoka, asosiasi global para wirausahawan sosial yang bermarkas di Washington DC, Amerika Serikat.

Namun, jumlah entrepreneur di Indonesia baru mencapai 0,24 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Menurut sosiolog David McClelland suatu negara bisa makmur bila ada pengusaha sedikitnya 2 persen dari jumlah penduduk. Dengan angka dibawah 2 persen akan sulit untuk bisa membawa Indonesia menjadi perekonomian yang mandiri.

Data lain menyebutkan ratio wirausaha kita berdasarkan data BPS 2016, jumlah wirausaha meningkat 3,10 persen‎ dari 225 juta penduduk. Meskipun ratio wirausaha sebesar 3,1 persen itu masih lebih rendah dibandingkan dengan negara Asia lain seperti Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen, akan tetapi setidaknya Indonesia sudah diatas batas minimal 2 persen dan dengan optimisme akan terus berkembang.

Bertumbuhnya wirausaha tak lepas dari peran masyarakat bersama pemerintah yang terus mendorong juga pihak swasta bahkan kalangan mahasiswa atau kampus.
Di kalangan mahasiswa kini semakin bermunculan entrepreneur – entrepreneur yang mempunyai ide kreatif dan secara tidak langsung berperan dalam pengembangan ekonomi kreatif.

Seorang yang memiliki jiwa entrepreneur sering kali lebih idealis dengan apa yang ingin dikembangkannya tanpa bisa didikte oleh orang lain, itu artinya dia lebih mandiri. Berbeda dengan yang bekerja di kantor rata-rata mereka hanya mengerjakan apa yang menjadi template perusahaan. Sehingga ada batasan ide dan pemikiran yang tidak bisa mereka kembangkan.

Namun stigma di masyarakat atau stereotip masyarakat Indonesia memandang wirausaha masih kurang bergengsi dibandingkan bekerja di kantor. Hal ini disebabkan entrepreneur kekinian lebih memilih untuk wirausaha secara online yang bila dilihat oleh masyarakat masih seperti pengangguran yang tidak punya jam kerja.

Padahal kita perlu mendorong industri kreatif agar terus berkembang karena akan membantu menyerap banyak sumber daya manusia dan mendorong perekonomian bangsa semakin mandiri.

Sudah saatnya kita sebagai generasi muda kekinian menjadi generasi yang kreatif, mandiri dan mampu menciptakan peluang usaha bukan hanya karena kebutuhan ekonomi kita sendiri melainkan juga untuk membangun ekonomi bangsa. (Neyla Hamadah, mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here