Diluncurkan, Buku Penawar Pelintiran Kebencian

0
615
Sumber foto: rahard.wordpress.com

Satu lagi buku menarik bertopik jurnalisme, dilucurkan. Buku Hate Spin karya Cherian George, seorang profesor jurnalisme dari Hong Kong Baptist University, telah diterjemahkan (dalam bahasa Indonesia) oleh Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Wakaf Paramadina dan Institute of International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada.

Versi terjemahannya diberi judul “Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi”. Buku tersebut diskusikan dan diluncurkan pada Kamis (21/12/2017) WIB di Ruang Auditorium Lantai 4 FISIPOL UGM.

Narasumber yang membedah buku tersebut, antara lain Zainal Abidin Bagir (Ketua Program Studi Agama dan Lintas-Budaya (CRCS) UGM), Widiarsi Agustina (Redaktur Pelaksana Tempo), dan Irsyad Rafsadie (Peneliti PUSAD Paramadina). Acara ini mengundang berbagai kelompok lintas-iman, pegiat media massa, LSM, serta institusi pendidikan di Yogyakarta dan sekitarnya.

Irsyad Rafsadie dari PUSAD Paramadina selaku anggota tim penyunting buku, kepada media  menyampaikan, melalui buku tersebut, George, selaku akademikus  ilmu komunikasi mengajukan istilah baru. Hate spin atau “pelintiran kebencian,” dipilih untuk menjelaskan sebuah strategi yang mengombinasikan ujaran kebencian (hasutan melalui tindak menyetankan kelompok lain) dengan rekayasa ketersinggungan (menampilkan luapan amarah yang dibuat-buat).

Sumber foto: fortune.com

Penyakit intoleransi, merasa tersinggung, dan kemarahan komunal sebagian besarnya melibatkan kampanye terorganisasi dari para oportunis politik, dengan tujuan memobilisasi pendukung dan menyingkirkan lawan. Kampanye ini direncanakan matang-matang oleh jaringan sayap-kanan yang memanfaatkan ujaran kebencian dan ketersinggungan agama sebagai instrumen identitas politik.

“Buku ini dilatari oleh kegelisahan Cherian George melihat naiknya ancaman politik pertikaian agama yang dia sebut “pelintiran kebencian” terhadap demokrasi. Demokrasi terancam ketika kelompok rentan terus mengalami intimidasi/diskriminasi dan suara-suara yang dianggap melukai perasaan kelompok dominan semakin dibungkam,” papar Irsyad Rafsadie.

Lalu, bagaimana kita memberantas hate spin? Widiarsi Agustina memberikan tips agar kita mampu mengendalikan ibu jari kita masing-masing. Maksudnya, kita tidak ikut-ikutan tanpa pikir panjangdan mempertimbangkan dampaknya, membagikan atau nge-share postingan yang masuk ke akun medsos kita.

“Ini nggak akan ramai kalau kita bisa kendalikan jempol. Kita nggak bisa menunggu pemerintah. Mereka juga jadi korban. Yang harus dilakukan adalah melawan sendiri. Minimal diri kit sendiri. Jangan nge-share. Sesekali puasa digital. Sesekali nggak pegang handpone,” ungkapnya.

Sumber foto: coe.int

Menurut Widiarsi, pilihan untuk melawan pelintiran kebencian sangat banyak. Semua akun medsos, termasuk akun Facebook dan Google saat ini juga sudah melawan hate spin. Algoritme Facebook dan Google yang semula menempatkan kekerasan dan kebencian paling depan, sekarang sudah mulai diubah urutannya menjadi di bawah.

Cara lain mengakhiri pelintiran kebencian, yaitu membangun aliansi dari tiap-tiap pengelola portal dan membuat komitmen untuk menghin dari kekerasan yang memicu kebencian dan kekerasan. Atau, gerakan tidak menyukai, dislike kepada pelaku hate spin. Dan, alternatif terakhir, gerakan hate spin (pelintiran kebencian) dilawan dengankebalikannya, love spin.

(R Totok Sugiarto, alumnus FIB UGM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here