Harbolnas, Halal Industry: Ajang Inovasi dan Cari Berkah

0
685
Ferry Atmaja mengisi Talkshow Nasional “Development and Prospect Halal Industry”. (Sumber foto: Istimewa)

Bertepatan dengan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan Talkshow Nasional bertema “Development and Prospect Halal Industry” di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Selasa (12/12/2017).

Halal, suatu label yang awalnya hanya melekat pada produk pangan, kini merambah kepada produk-produk lain yang bersifat non pangan seperti kosmetik, fashion, perhotelan hingga jasa travel. Terlepas dari segala kontroversi terkait pencatutan label halal dalam dunia industri, label halal rupanya malah menjadi inovasi bagi pertumbuhan ekonomi bangsa.

Akhmad Akbar Susamto, Dosen Ekonomi dan Bisnis UGM selaku narasumber mengungkapkan bahwa halal industry tidak lagi sebatas perlindungan konsumen namun juga sebagai sumber baru (inovasi) dalam pertumbuhan ekonomi.

Selain menjadi inovasi yang mampu melahirkan inovasi baru, halal industry juga telah menjelma menjadi standar kualitas baru dalam dunia industri. “Produk dengan label halal akan diidentikkan sebagai produk yang punya kualitas lebih baik”, tambah Akbar.

Akbar juga mengungkapkan bahwa produk halal secara global telah memiliki pasar yang cukup besar. Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2016 halal food memiliki peluang sebesar 19,8% di pasar dunia. Hal ini tidak hanya berlaku di negara-negara Muslim, namun juga negara non Muslim.
Halal industry memang menjadi fenomena tersendiri bagi dunia industri. Bisa kita tengok salah satu produk kosmetik yang terkenal dengan tagline halal-nya, Wardah. Siapa sangka kini Wardah telah menjadi kosmetik yang go international mengalahkan brand lainnya setelah mencatutkan label halal pada produknya.

Ferry Atmaja, narasumber lain yang merupakan CEO Ayam Preksu (Ayam Geprek & Susu) menuturkan bahwa halal industry tidak hanya menjadi inovasi dalam dunia industri, namun juga sebagai ladang mencari keberkahan.

Menurut pria kelahiran Palembang yang telah berwirausaha sejak kuliah tersebut keberkahan adalah hal yang diutamakan dalam bisnisnya. Hal tersebut juga ia aktualisasikan dalam visi dan misi bisnis Ayam Preksu-nya yang begitu islami. Diantaranya adalah menjauhi riba dalam usahanya, bersedekah setiap minggu 450 porsi, mengadakan kajian, dan lain sebagainya.

Foto: Istimewa

Siti Aisyah, Mahasiswa Universitas Alma Atta bertanya, “…bagaimana jika seseorang tidak mampu membeli sesuatu kecuali dengan melakukan pembayaran kredit (riba)?”
Ferry menuturkan, daripada harus melakukan praktik riba lebih baik tidak usah dipaksakan. Ia juga membagikan tips untuk mengatasi modal yang terbatas lebih baik memulai usaha dari yang kecil terlebih dahulu atau membuat proposal dan mencari investor.

“Halal industry bukan saja perkara bahan-bahan yang digunakan terbebas dari bahan-bahan haram melainkan juga dalam manajemen atau pengelolaannya harus sesuai hukum Islam,” pesannya.

Nining Kinasih
Mhs Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here