Jomblo Berpotensi Mengukir Prestasi

0
955
Teenager karya Suryadila (Foto: SwaraKampus.com)

Kata Jomblo sudah begitu akrab dikalangan anak muda. Dalam beberapa obrolan seringkali kita mendengar bahwa jomblo adalah status yang melekat pada seseorang yang belum mempunyai pasangan.

Tetapi kata Jomblo tidak ditemukan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Lalu, dari mana datangnya kata ini? Sekarang coba kita berselancar untuk menelusuri asal mula kata tersebut. Jomblo ternyata berasal dari bahasa sansekerta yakni Jombo merupakan status yang diberikan bagi perempuan tua yang belum menikah.

Selain itu, di Sunda ada kata dengan arti yang sama yaitu Jomlo. Bahkan, Widdi A pelajar SMA 3 Bandung pernah menulis pada 18 Mei 1993, tentang istilah yang lagi ngetren di Kota Kembang: Jomblo. (Throwback: Rubrik Opini Kita). Dari asal mula kata tersebut, setidaknya kita dapat berkesimpulan bahwa ada pelebaran makna dari kata jomblo.

Dulu, hanya dilekatkan pada wanita saja, sekarang juga dilekatkan pada laki-laki. Setelah itu, kata jomblo semakin populer dan menarik perhatian seluruh kalangan. Tak jarang, pejabat negara yakni presiden dijadikan teman curhat oleh anak muda yang sedang merana karena belum memiliki pasangan kekasih.

Hal ini, pernah dilakukan oleh akun arya_metalfreaks yang sempat buming karena ditulis langsung di akun instagram presiden. Begini katanya, “Pak @ir.jokowidodo saya jejaka umur 28th pekerja keras n hemat tapi sampai sekarang blm dpt istri pak apa karena saya dari keluarga wong tani (petani) hingga bisa demikian padahal saya sudah mampu menghidupi istri tolong kasih solusi pak trims baca curhat saya hormat saya #jomblo”.

Apa jawaban presiden kita yang merakyat itu, “Curhatan dari saudara kita. Ada yang bisa beri solusi?” Sungguh menarik kata jomblo ini ya. Setidaknya, mengandung sisi-sisi positif dan dapat menjadi media silaturahim (curhat) antara jomblo dengan orang yang sudah melepas status jomblonya.

Artinya, kesendirian itu membawa berkah dan manfaat mengukir prestasi. Pernahkah, kita bayangkan bahwa jomblo milenial menyimpan potensi besar untuk mengukir pelbagai prestasi? Khususnya, bagi pelajar dan mahasiswa yang sedang menyandang status jomblo.

Sekarang kita berpikir rasional saja, masuk pada kalkulasi hitungan waktu. Sehari waktunya 24 Jam, pemuda yang memiliki pasangan waktunya tentu banyak di habiskan untuk berduan. Misalnya, jalan-jalan di Mall, ke tempat wisata, biar dibilang romantis. Katanya sih… gitu.

Setelah itu, momen tersebut diposting di facebook ben ketok punya pacar. Begitulah kira-kira. Waktu yang dihabiskan oleh pasangan tersebut minim 3 Jam satu kali perjalan dalam sehari. Sekarang kita berselancar dengan spekulasi.

Jalan ke Paris, setidaknya memakan waktu dalam perjalanan kurang lebih 2 jam plus macet. Ada juga, pasangan setelah jalan-jalan siang harinya, kemudian melanjutkan pertemuan pada malam harinya yaitu nongkrong di caffe dan lain sebagainya.

Nah, waktu untuk belajar banyak terbuang sia-sia. Bukan berarti pacaran itu perbuatan sia-sia. Karena, tidak menutup kemungkinan orang yang sudah melepas status jomblo juga mampu mengukir prestasi. Supaya berimbang, tidak mendiskreditkan.

Di akui maupun tidak waktu pacaran jika tidak dikelola (managament) dengan baik, justru akan menghambat pelajar dan mahasiswa untuk mengukir prestasi. Sebab, prestasi sangat berpaut erat dengan waktu. Disinilah, jomblo menyimpan potensi besar untuk berkarya seperti mengikuti perlombaan IPTEK, membaca buku, berdiskusi dan dapat juga menulis karya ilmiah.

Karena, jomblo dapat memanfaatkkan peluang tersebut di tengah kesibukan anak muda lain pacaran. Oleh karena itu, jomblo harus mengukir segudang prestasi. Kelak prestasi itu, akan menjadi jembatan emas dalam rangka mencari pasangan hidup.

Sehingga, hubungan yang terjalin nantinya akan menjadi sangat indah karena dibingkai oleh prestasi kedua pasangan Jomblo yang sudah mengikat dua hati menjadi satu. Inilah, mimpi saya yang sedang menjomblo.

Arif Budiman
Mhs Fak Hukum UJB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here