Anak Nakal, Meniru Siapa?

0
857

Sungguh memprihatinkan kondisi anak zaman sekarang. Bukan soal prestasi di bidang akademik, melainkan soal mengatasi masalah mereka sendiri. Mereka kerap mengeluh, menangis bahkan marah ketika mencari sesuatu dan tidak ketemu, misalnya.

Kecanggihan teknologi juga memberi beban kemalasan serta meremehkan sebuah proses. Mereka menjadi pribadi yang serba instan. Namun sekali lagi, saya masih percaya bahwa anak adalah peniru terbaik.

Apapun yang mereka lakukan berawal dari sebuah contoh yang mungkin mereka lihat ataupun dengar. Tidak mungkin mereka belajar dengan meniru dari sesuatu yang tidak ada.

Maka kita sebagai orangtua, guru ataupun masyarakat lingkungan harus berani jujur, apa yang sudah kita contohkan kepada anak-anak itu? Kita kerap protes terhadap kelakuan nakal anak tapi lupa mencari tahu sumber nakal itu dari mana?

Tidak kurang, orang dewasa menjadi saling tuduh. Guru curiga kepada orangtua, orangtua menyalahkan lingkungan, dan nasyarakat lingkungan menuduh sekolah gak bener dalam mendidik, dan seterusnya.

Patut bersyukur, jika dulu sekolah hanya bertanggungjawab pada urusan akademik saja, maka sekolah zaman now telah pula mengembangkan apa yang disebut life skill. Terutama setelah Presiden Jokowi mencanangkan pendidikan karakter terutama untuk sekolah dasar.

Namun demikian, bukan berarti segala urusan menjadi selesai, dan ketika ada masalah kenakalan anak maka sekolah penyebabnya. Anak berada di sekolah hanya sekitar 6-7 jam, dan selebihnya? Mereka bisa di rumah, di warnet, game net atau kadang di pinggir jalan.

Kolaborasi antara sekolah, orangtua dan masyarakat harus terjalin guna bersama-sama menjaga anak dalam lingkungan yang kondusif. Berilah anak-anak ruang kreasi yang positif. Contohkan bahwa perilaku yang benar itu tidak hanya ada dalam simulasi ataupun soal ujian saja.

Biasakan agar mereka bisa mengatasi masalah mereka sendiri. Ajarkan, arahkan dan tunjukkan mereka bagaimana caranya. Kurangi memerintah ataupun menyuruh, namun latihlah untuk melakukan bersama sehingga mereka betul-betul menguasai life skill.

Adalah hal yang menyenangkan melihat anak meniru hal positif yang kita contohkan. Sebaliknya sangat memalukan ketika anak melakukan sesuatu hanya karena mencontoh hal buruk yang pernah kita perlihatkan, lepas disadari ataupun tidak.

Ailis Safitri, SHi
KS SD Muh Macanan Ngemplak
Sleman – DIY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here