Agama dan Mayantara : “Religion Online”

0
602
Sumber foto: Istimewa

Kehidupan masyarakat yang begitu dinamis dan sparadis, membuat masyarakat tidak pernah mengalami masa yang stagnan dari waktu ke waktu. Begitu pula dengan realitas sosial yang terus mengalami modifikasi, akibat berbagai produk budaya yang muncul sebagai reaksi dari perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan serta kebudayaan yang mampu melampaui realita itu sendiri.

Saat ini antara kehidupan di dunia dengan di dunia maya sudah tidak jauh berbeda. Karena aktivitas manusia saat ini sudah banyak yang menggunakan di luar dunia mereka. Sehingga, membuat semua orang bigung dimana dia berada saat ini. Era digital ini sudah merambah ke berbagai aspek diantaranya : aspek ekonomi, aspek budaya, aspek pendidikan, aspek sosial maupun aspek agama.

Dengan perkembangan yang sangat cepat maka muncul lah beberapa istilah seperti agama dan mayantara. Agama merupakan sebuah koleksi terorganisir dan kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/ perintah dari kehidupan. Sedangkan, Mayantara merupakan bahasa keren dari “ maya dan antara “ . dalam kamus besar bahasa indonesia maya berarti hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada atau hanya ada diangan – angan.

Saat, ditemui dalam seminar series pekan ilmiah Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) 2017 (27/11) di IC FISHUM UIN Sunan Kalijaga Dr. Leonard C. Epafrans mengatakan, bahwa memprediksi sepuluh tahun yang akan datang semua transaksi dalam bentuk apapun akan masuk kedalam dunia internet. Karena, saat ini titik dunia sudah dibuka dalam artian semua orang mendapatkan kesempatan untuk melihat dunia ini dari berbagai perspektif walaupun hanya dari media sosial.

Agama dan media, media dan agama saat ini sudah tidak terlihat antara garis yang membedakan keduanya. Sehingga, orang-orang melakukan aktivitasnya terkadang dibawah alam sadar mereka.

“Agama saat ini juga menyebarkan dakwah-dakwah nya dalam media sosial. Sehingga, masyarakat dapat dengan mudah mengakses untuk dipelajari. Namun, disisi lain juga harus memberikan edukasi kepada guru agama, penyuluh agama agar mendapatkan pengetahuan. Karena, faktanya saat ini banyak para pemuka agama yang pandai tapi, belum terekspose karena minimnya pengetahuan tentang digital saat ini,” jelasnya.

Lailatul Chodriyah
Mahasiswa Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here