“Menulis Itu Kata Kerja, Maka Lakukan!”

0
506
Sumber foto: Istimewa

Salah satu pesan penting disampaikan pemateri Sekolah Menulis, Agung Wibawanto, bahwa menulis itu adalah kata kerja, maka lakukan. “Menulis tidak cukup hanya diketahui teori dan tekniknya, tapi juga harus dilakukan,” tambah Agung.

Paparan Agung, atau yang lebih suka dipanggil Awib ini disampaikan dalam forum Pelatihan Penulisan yang diselenggarakan oleh Studi Club Komaka (Komunitas Mahasiswa Merdeka). Acara yang diikuti mahasiswa berbagai jurusan dari kampus UII, UAD dan UIN ini berlangsung di Balai Kampung Wirogunan, Sabtu (25/11).

Dalam TOR yang disampaikan panitia, Nopik Ilham selaku Ketua Komaka mengatakan bahwa persoalan yang paling mendasar yang melanda generasi milenia sekarang ini adalah spirit akan budaya literasi dan kemampuan dalam bidang literasi semakin hari semakin menurun.

“UNESCO menyebut literasi sebagai jantung pendidikan. Tanpa literasi, salah satu penentu arah kehidupan sosial menjadi miskin. Maka dari itu, kemampuan seorang terhadap baca dan tulis menjadi kebutuhan bersama,” jelas Ilham.

Komaka sendiri merupakan sebuah study club yang concern terhadap dunia penulisan. Hingga saat ini sudah terbentuk SC di beberapa kampus di Jogja. Kegiatan ini lebih didorong oleh semangat mahasiswa sebagai intelektual muda sekaligus agent of change untuk selalu mengaktualisasikan dirinya pada hal yang positif, salah satunya melalui penulisan.

Tidak kurang ada empat materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut, yakni: Dasar-Dasar Jurnalistik, Teknik Penulisan Opini, Teknik Penulisan Berita, dan Simulasi. Menurut Awib, jangan berasumsi sulit menulis jika belum pernah mencobanya. Evaluasi bisa dilakukan hanya setelah menulis.

Dalam kesempatan itu pun, mahasiswa mendapat beberapa tips mudah menulis bagi pemula, serta bagaimana teknik menulis yang bisa viral di media online. “Menulis saat ini tidak lagi dalam bentuk berita, tapi cenderung berubah menjadi cerita. Peran media bukan lagi perantara tapi sudah direct atau langsung,” papar Awib.

Sumber foto: Istimewa

Maka, masih menurut Awib, tidak heran anak milenial sekarang lebih suka menbaca cerita ketimbang membaca berita, “Berita berkesan kaku dan baku jadi monoton. Sebaliknya cerita itu lebih sederhana, ringan dan mudah dipahami. Itu jika kita bicara trend atau selera konsumen pembaca muda khususnya,” ungkapnya.

Namun yang dikhawatirkan mahasiswa adalah turunnya semangat idealisme karena trend pembaca lebih kepada hal-hal yang ringan saja, seperti yang disampaikan oleh seorang nahasiswa peserta. “Bagaimana mahasiswa bisa tetap idealis jika minat baca akan isu-isu yang serius tidak ada?”

Awib menyarankan agar mahasiswa dan media kampus tetap mempertahankan idealismenya. “Idealisme tidak harus dibungkus oleh kemasan yang baku dan kaku serta bahasa yang berbuih-buih. Bisa pula disampaikan dengan ringan dan sederhana bahkan mungkin kocak,” pesannya.

Di akhir pelatihan, Awib sempat menghimbau agar mahasiswa tidak malu apalagi takut menyampaikan ide gagasan, berekspresi melalui tulisan. Bahkan ia menantang mahasiswa untuk menulis di media online yang tengah dikelolanya bernama SwaraKampus.com. Tantangan yang menarik.

Penulis:
Huffazh
Mhs Hukum UII

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here